Tuesday, 22 November 2011

Taman Joewono: Permukiman Asri di Balik Ramainya Malioboro

Kompleks Taman Joewono

Sudah lama tidak berkunjung ke rumah sendiri, :D. Sekarang saya mempunyai "mainan" baru. Saya mulai rajin mendokumentasikan lingkungan fisik ataupun peristiwa-peristiwa kecil yang saya jumpai melalui video. Salah satunya ialah rekaman lingkungan fisik Kompleks Taman Joewono di Dagen, Malioboro, Yogyakarta. Permukiman peninggalan kolonial ini tersembunyi di tengah gegap gempitanya Maliboro. Saya pun tak sengaja menemukan tempat ini. Awalnya iseng saja ingin mencari tempat penyewaan sepeda di sepanjang Jalan Dagen. Tak dapat yang dicari, saya malah tergoda untuk masuk ke sebuah kompleks permukiman. 


Menurut angka tahun yang tertera pada gapura taman, kompleks Taman Joewono ini sudah ada kira-kira sejak 1938. Di dalam kompleks terdapat 20 unit rumah. Menurut keterangan petugas keamanan, saat ini rumah-rumah  itu disewakan. Tarif per tahunnya bisa mencapai 50 juta rupiah. Wajar saja jika yang banyak menyewa rumah-rumah di sini ialah para ekspatriat. Kalau saya punya uang sebesar itu pun rasanya saya rela untuk menyewa salah satu rumah di sini. Menurut saya permukiman ini menarik. Permukiman dengan bangunan lawas yang dilengkapi dengan garasi bersama dan taman. 

Garasi bersama

Kompleks Taman Joewono ini dibangun oleh seorang pengusaha batik, Prawiro Djuwono, yang juga dekat dengan para pejuang. Ia meminjamkan sekitar 40-an rumahnya kepada para pejuang. Kemudian hak milik jatuh ke tangah putra Prawiro, Haji Bilal. Haji Bilal juga pengusaha batik yang mengembangkan corak batik Saudagaran di Yogyakarta. Saat ini hak milik kompleks Taman Joewono dipegang oleh putra Haji Bilal. 


Jalan Dagen, menuju Kompleks Taman Joewono

Menurut cerita pak petugas keamanan, keluarga Anis Bawesdan pernah tinggal di sini hingga 2003, tepatnya di rumah nomor 19. Rumah nomor 19 itu ditempati oleh kakek Anis, Abdurrachman Bawesdan. Sebelum Abdurrachman Bawesdan, rumah itu ditempati oleh Kasman Singodimedjo, M. Natsir, dan M. Roem. 

Abdurrachman Bawesdan, seorang jurnalis keturunan Arab yang juga memainkan peran penting dalam kancah sejarah kemerdekaan RI. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir (1946), anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen dan Anggota Dewan Konstituante. 


Disarikan dari sumber-sumber berikut:
http://www.femina.co.id/archive/main/serial/serial_detail.asp?id=185&views=8
http://id.wikipedia.org/wiki/Abdurrahman_Baswedan
http://purbakalayogya.com/?page=galleri.html
http://www.kaperda.jogjaprov.go.id/kesenian/1096-batik-yogyakarta

Thursday, 8 September 2011

Benteng Pendem Cilacap, Saksi Bisu Nilai Penting Cilacap Tempo Dulu: Perjalanan Menuju Benteng Cilacap (Bagian IV:Habis)

Benteng berlanggam Eropa di Semenanjung Cilacap itu ternyata meniru bentuk Benteng Rijnauwen, benteng terbesar di Belanda.

Cilacap, sebuah kota kecil di selatan Jawa yang sebagian daerahnya terdiri dari pantai dengan tabir Pulau Nusa Kambangan sebagai pelindung dari ganasnya Laut Selatan. Banyak ahli berpendapat bahwa Cilacap merupakan tempat terbaik untuk sistem pertahanan di selatan Jawa. Maka, pada 4 Desember 1830, Pementah Hindia Belanda memutuskan untuk menetapkan pos Nusa Kambangan masuk ke dalam garnisun kecil di Pulau Jawa. Untuk kepentingan itu ditempatkanlah seorang letnan, dua sersan, dua kopral orang Eropa ditambah dua sersan, dua kopral, dan satu penabuh tambur serta 53 prajurit bersenjata senapan.

Selanjutnya pada 29 November 1847, Gubernur Jenderal J.J. Rochussen (1845-1851) memutuskan bahwa pembukaan pelabuhan Cilacap bukan semata-mata untuk kepentingan perdagangan saja, melainkan untuk militer dan pertahanan. Maka pada 1853 dikeluarkan keputusan untuk membangun sebuah benteng besar berlanggam Eropa di Semenanjung Cilacap. Benteng ini merupakan tiruan dalam bentuk yang lebih kecil dari Benteng Rijnauwen [http://www.fortrijnauwen.nl/]. Rijnauwen merupakan benteng terbesar di Belanda (± 31 Ha) yang dibangun pada waktu hampir bersamaan yang mampu menampung 540 tentara dan 105 meriam.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian mendirikan tangsi pasukan altileri yang ke 17 di Cilacap pada 15 Februari 1855. Turut dibangun pula menara pengintai di Gunung Cimering, Nusa Kambangan pada 1857. Menara pengintai ini satu-satunya jejak sejarah yang belum saya temukan dalam wujud fisiknya di Nusa Kambangan.

Pembangunan benteng di Semenanjung Cilacap ini tidak berjalan lancar sesuai yang diharapkan. Kendala utama ialah biaya yang semakin meningkat tiap tahunnya. Saat itu, pemerintah Hindia Belanda juga sedang menangani pembangunan benteng di beberapa wilayah. Semua pembangunan bernasib sama, tersendat-sendat.

Setelah hampir 20 tahun benteng di Cilacap masih belum selesai, akhirnya para perwira dan menteri negara jajahan membuat kesepakatan untuk menyelesaikan pembangunan benteng. Namun, biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan pembangunan harus dikurangi dengan cara mengurangi tingkat kerumitan sistem pertahanan yang mendekati sisi daratan. Akhirnya pada 1880 benteng selesai dibangun. Benteng disebut oleh penduduk lokal sebagai Benteng Pendem –benteng yang terkubur- karena jika dilihat dari luar yang terlihat hanya benteng tanah tanpa bangunan di dalamnya. Sementara menurut cetak birunya, Benteng Pendem disebut sebagai “Kustbatterij op de Landtong te Tjilatjap” atau “Baterai Pesisir di Semenanjung Cilacap”.

Benteng Pendem ialah bagian dari sistem pertahanan New Dutch Waterline yang dilengkapi dengan 6 meriam besi ukuran 24 cm, 16 meriam perunggu ukuran 12 cm, 14 meriam kecil ukuran 8 cm, dan 4 mortar ukuran 29 cm. Dengan peralatan tempur seperti itu, Benteng Pendem dinobatkan sebagai salah satu benteng dengan peralatan tempur berat paling modern di Indonesia pada waktu itu.

Sesuai konsep yang dianut, New Dutch Waterline, maka bentuk segi lima (poligon) pada benteng mengacu pada standar yang dibuat oleh Marquis Marc René de Montalembert (1714-1800), sang maestro sistem New Fortification. Sistem poligon ini merupakan sistem kedua dari Montalembert yang ia desain pada 1777.

Benteng dengan denah dasar segi lima ini terdiri dari barak prajurit, haxo casemate [1], terowongan, kanal, ruang-ruang yang digunakan untuk gudang amunisi, logistik, dan kesehatan, serta bungker-bungker yang digunakan untuk kepentingan Perang Dunia II.

Pada periode 1880-1890 benteng digunakan dalam intensitas yang cukup tinggi, tetapi ada satu masalah besar untuk garnisun yang ditempatkan di sana. Alam Cilacap kurang bersahabat di kala itu. Rawa yang terletak di sisi barat dan baratlaut kota menjadi sarang nyamuk penyebar penyakit malaria. Malaria kemudian menjadi penyakit endemik yang hampir merata di Cilacap terutama pada Januari, Februari, dan Desember. Kina yang menjadi obat pencegah penyakit ini masih belum populer saat itu.

Pembukaan jalur kereta antara Cilacap dan Yogyakarta pada 1887 memungkinkan untuk mengirim garnisun ke lokasi yang lebih sehat. Maka pada periode itu garnisun di Cilacap sempat dikosongkan. Sementara garnisun dikosongkan, sebuah kelompok kecil yang terdiri dari prajurit lokal menetap untuk menjaga benteng. Garnisun kembali dibentuk di Cilacap pada 1 November 1904 yang terdiri dari sekitar 300 orang prajurit dan delapan orang perwira.

Pada 1892, sebuah studi yang dilakukan terhadap sistem pertahanan di Jawa sampai pada satu kesimpulan bahwa Pulau Jawa akan dipertahankan oleh prajurit yang bermarkas di bagian barat pulau. Beberapa benteng termasuk Benteng Pendem dan Nusa Kambangan tidak memiliki nilai penting secara kemiliteran lagi dan dihapuskan dari daftar sistem pertahanan di Hindia Belanda.

Benteng Pendem muncul kembali dalam sejarah dengan latar belakang Perang Dunia II, 40 tahun kemudian. Semua berawal dari jatuhnya Belanda dalam kekuasaan Jerman pada Mei 1940. Di Nusantara, pemerintah Hindia Belanda bersiap untuk menghadapi perang dengan Jepang. Cilacap muncul kembali menjadi satu tempat yang lebih penting dibandingkan dengan sebelumnya karena menjadi satu-satunya pelabuhan di Jawa yang dapat dengan mudah dijangkau dari Australia.

Benteng Pendem yang setelah ditinggalkan sempat dijadikan barak tanpa garnisun kemudian diduduki kembali. Bungker dibangun, meriam untuk kebutuhan perang pesisir dan pertahanan untuk menghalau pesawat tempur dengan lampu bidik dipasang. Meriam juga dikirim ke Benteng Karang Bolong.

Pada 28 Februari 1942, Jepang mendarat hampir tanpa perlawanan di tiga tempat di pantai utara Jawa. Pelabuhan Cilacap menjadi sangat sibuk. Banyak kapal datang dan pergi. Kota menjadi sangat ramai dengan pengungsi yang ingin menyelamatkan diri ke Australia. Namun, banyak kapal yang dicegat oleh armada Jepang yang beroperasi di pantai selatan Jawa.

Cilacap dibom tiga kali oleh pesawat Jepang. Tangki minyak ditembaki dan dibakar. Peristiwa itu mengubah pelabuhan Cilacap menjadi seperti neraka. Pimpinan Belanda memerintahkan untuk menghancurkan dan meninggalkan pelabuhan dan sistem pertahanan pesisir. Pertempuran berakhir sebelum tentara Jepang pertama tiba. Pada 9 Maret 1942, pemerintah Hindia Belanda menyerah.

Kini, lautan api di Semenanjung Cilacap itu tinggal cerita. Situasi di Benteng Pendem yang lokasinya berdekatan dengan kompleks kilang minyak Pertamina ini lebih banyak lengang. Sesekali benteng diramaikan oleh kunjungan belajar para siswa. Selebihnya benteng dikunjungi oleh pasangan-pasangan yang cukup membayar tiket masuk sebesar Rp 4.000,- namun bebas melakukan apa saja di dalam benteng. Belum adanya program terpadu untuk menghidupkan benteng membuat Benteng Pendem makin terpendam bersama sejarahnya.

Catatan:
[1] Haxo casemate: Merupakan salah satu tipe dari ruang lengkung untuk menempatkan meriam dan penembaknya yang banyak diadopsi oleh sistem perbentengan Eropa pada abad 19. Penemu dari tipe ini ialah pegawai militer Prancis, François-Nicolas-Benoit Haxo. Haxo casemate merupakan tipe klasik, dilengkapi dengan sebuah jendela untuk meriam, dan lengkung yang tersusun dari bata yang kuat dan ditutupi oleh lapisan tanah. Letaknya biasanya ada di bawah rampart –jalan patroli-.

Referensi:
Lepage, Jean-Denis G.G. 2010. French Fortifications, 1715-1815: An Illustrated History. Amerika: McFarland & Company, Inc.,Publishers.

Zuhdi, Susanto. 2002. Cilacap (1830-1942): Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Cilacap Lecture oleh Hans Bonke, 2008.

http://www.fortrijnauwen.nl/

Peta:
J.R. van Diessen & R.P.G.A. Vo skuil. 1998. Stedenatlas Nederlands-Indie. Purmerend: Asia Maior.


Sumur di dalam benteng

Ruangan di dalam barak prajurit

Peta Cilacap, 1944

Kanal sisi barat

Jendela pada ruang yang diduga digunakan sebagai penjara

Jaringan komunikasi pada barak prajurit

Haxo casemate

Engsel pintu pada barak prajurit

Bungker no.2 [Sisi timur Kompleks Pertamina]

Barak Prajurit

Bangunan pertahanan untuk pasukan tembak sisi utara

Bangunan pertahanan untuk pasukan tembak sisi timur

Angka tahun pada haxo casemate

Akses menuju terowongan dan haxo casemate

Bagian luar bangunan pertahanan sisi barat

Bagian dalam ruang untuk pasukan tembak sisi utara


Potongan realita yang lain bisa dilihat di:





Tuesday, 30 August 2011

Jejak Napoleon di Benteng Karang Bolong: Perjalanan Menuju Tiga Benteng Cilacap (Bagian III)

Dalam kepungan hutan saya mencoba memanggil kesibukan di Benteng Karang Bolong ke masa hampir 200 tahun yang lalu. Adakah jejak Napoleon itu begitu terasa di sini?

Rumor yang beredar mengatakan bahwa armada Inggris (The British East India Company) telah merapat di pelabuhan Cilacap. Mereka membeli kopi, indigo, dan mutiara di Cilacap. Rumor ini membuat para pejabat VOC di Batavia kebakaran jenggot dan segera mengutus satu armada khusus untuk menyelidiki perairan di sekitar Nusa Kambangan pada 1739. Ternyata armada Inggris saat itu berlabuh hanya untuk mengambil kebutuhan air tawar.

Pada masa kemudian yaitu 1812-1816, Inggris diketahui membangun sebuah benteng kecil di Nusa Kambangan untuk merespon kehadiran bajak laut di perairan Nusa Kambangan. Lalu pada 1816, benteng itu jatuh ke tangan Belanda. Selanjutnya oleh Belanda benteng itu diganti dengan sebuah benteng yang lebih kokoh antara 1833 dan 1855. Benteng itu dilengkapi dengan 80 pon meriam. Bersamaan dengan itu juga dibangun sebuah benteng kedua yang lebih kecil di Banjoe Njapa (Klingker). Keduanya merupakan sistem pertahanan pesisir di Hindia Belanda yang dibangun dengan sentuhan seni. Pengerjaan benteng ditangani oleh kontraktor swasta, sementara pekerjanya merupakan buruh paksa yang terdiri dari para narapidana.

Terbayang ramainya suasana saat membangun benteng ini. Para pekerja dibagi berkelompok untuk menggali parit, memapras bukit, mengangkut material buangan dari bukit, mengangkut batu dan bata merah, menyiapkan kayu-kayu, serta memecah batu. Sementara sang arsitek sibuk mengutak-atik desain hingga sempurna. Hasil dari pekerjaan itu ialah Benteng Karang Bolong yang saat ini bisa kita saksikan masih menyisakan sedikit aroma kejayaan masa lalu.

Benteng Karang Bolong sebenarnya terdiri atas beberapa komponen yang letaknya menyebar. Bangunan inti berupa menara persegi yang seolah-olah muncul dari dalam bukit. Bangunan lainnya berupa bungker dan pos jaga.

Jika melalui rute yang umum –belum diketahui alur pendaratan pasukan ke dalam benteng pada masanya dulu- bangunan yang pertama kali dijumpai ialah bangunan persegi panjang dengan pintu utama berbentuk lengkung (arc). Bangunan ini mempunyai dua ruang dengan langit-langit lengkung yang dihubungkan oleh sebuah bukaan (opening) yang juga lengkung. Dinding bangunan dilengkapi dengan lubang bidik (loophole).

Tidak jauh dari bangunan pertama –ke sisi barat- terdapat sebuah bukit yang telah mengalami pengerjaan di berbagai sisi. Tubuh bukit diolah menjadi ruang bawah tanah, lantai dasar dengan tiga ruangan kecil dan dua ruangan besar yang diapit oleh dua terowongan, dan lantai mezanin dengan sebuah ruangan. Untuk mencapai mezanin terdapat tangga sebagai akses penghubung. Begitu pula ketika akan naik dari mezanin ke menara, juga dihubungkan dengan tangga.

Pada menara terdapat satu ruang utama dengan dua ruang pendamping. Antar ruang disekat dinding bata dengan ketebalan 1, 25 m. Lantai menara ini menggunakan bata merah. Sebenarnya terdapat tangga sebagai akses menuju bagian atas menara, namun saat ini kondisinya sudah rusak sehingga tidak dapat dilalui lagi.

Enam pos jaga dibuat dengan memotong tubuh bukit. Semuanya menghadap ke akses jalan utama. Komponen lain yang masih bisa dijumpai ialah bungker. Terdapat beberapa bungker di sekitar menara utama ini. Ada bungker yang berfungsi sebagai sarana pertahanan yang dilengkapi dengan meriam (tentunya meriam sudah tidak dijumpai lagi), berdenah persegi. Sementara itu ada juga bungker yang dibuat untuk kepentingan logistik sehingga tidak ditempatkan meriam di dalamnya, berdenah persegi panjang. Bungker-bungker ini kemungkinan besar dibuat oleh Jepang saat perang dunia II, namun tidak sempat digunakan karena Jepang sudah menyerah sebelum pasukan sekutu tiba di Jawa.

Benteng Karang Bolong dengan menaranya, terbilang satu-satunya benteng pertahanan pesisir yang masih ada yang mengacu pada aturan-aturan militer semasa Napoleon atau masuk ke dalam era Napoleonic Style. Lebih khususnya lagi, Benteng Karang Bolong masuk kategori tipe Tour Modèle. Era Napoleonic Style ditandai dengan sebuah ekspresi untuk menciptakan kemegahan atau keagungan. Meski demikian, bentuk benteng pada era ini secara garis besar masih dipengaruhi oleh konsep Montelembert –Marquis Marc René de Montalembert (1714-1800) seorang ahli benteng yang memperkenalkan konsep New Fortifications-. Konsep Montalembert yang diadopsi antara lain seperti penggunaan menara artileri masif, penggunaan batu dan bata merah pada casemate (1) berkubah, penggunaan unsur lengkung, dan peningkatan penggunaan caponier (2), adanya ruang bawah tanah, serta pembangunan gudang senjata yang mampu melindungi prajurit dari serangan musuh. Penerapan yang dikenakan di Benteng Karang Bolong hanya beberapa konsep saja.

Napoleonic Style ini masuk dalam jajaran The French Imperial Military yang menolak bentuk-bentuk kuno. Maka wajar saja jika pada beberapa pintu di benteng ini terdapat penggunaan unsur semacam entablature (3) meskipun sangat sederhana.

Cerita tentang Tour Modèle ini tidak dapat dilepaskan dari kebesaran seorang Napoleon Bonaparte. Saat itu, pada 1805 Napoleon kalah pada peperangan Trafalgar. Prancis semakin mantap kehilangan harapan atas supremasi laut. Harus diakui bahwa Napoleon memang seorang ahli strategi perang darat yang tangguh, ia termasuk ahli artileri terbaik yang pernah ada di dunia. Namun, sayang sekali bahwa Napoleon sangat miskin strategi untuk urusan perang di laut. Ia tidak mampu menyusun kembali kekuatan laut Prancis. Oleh sebab itu, Komisi Pusat Perbentengan Prancis turun tangan dengan membuat standar baku sistem pertahanan pesisir.

Terinspirasi oleh arsitek Mareschal pada 1740 di Agde, Prancis Selatan, maka Komisi membuat semacam standar baku pertahanan pesisir. Namun, ada pendapat yang menyatakan bahwa sumber inspirasi standar baku desain sistem pertahanan pesisir itu muncul dari desain rumah benteng yang dibangun oleh Gaspard Joseph Chaussegros de Levy di Kanada pada sekitar 1750an. Desain baku itu juga mempunyai kesamaan dengan desain-desain bangunan benteng pesisir yang dihasilkan oleh Vauban semasa rezim Louis XIV.

Tour Modèle merupakan desain baku dengan standar yang lebih rendah yang dibuat oleh Komite dan langsung disetujui Napoleon pada saat itu juga. Tour Modèle berupa bangunan pertahanan pesisir berbentuk menara persegi yang terbuat dari bata merah dengan beberapa varian. Menara persegi ini mempunyai dua fungsi, yaitu pengawasan dan pertempuran. Menara ini dikelilingi oleh sebuah parit yang dilintasi oleh jembatan “tarik” sehingga aman dari serangan. Pada bagian atas menara terdapat ruang terbuka yang dilengkapi dengan empat senapan yang disiapkan di kereta Gribeauval (4). Salah satu contoh benteng yang masih bagus ialah Fort de Hel di Belanda.

Menurut standar yang ditetapkan, untuk membangun menara ini dibutuhkan biaya yang sangat mahal dan tenaga kerja yang sangat besar. Benteng Karang Bolong sendiri dapat dimasukkan ke dalam kategori kelas pertama menurut kelas pembangunan yang ditetapkan oleh Komisi –pada 1841- karena di benteng ini ditempatkan sebuah garnisun yang terdiri dari 150 orang.

Benteng Karang Bolong aktif digunakan sebagai sistem pertahanan di Cilacap saat agresi militer 1947. Saat itu benteng dipertahankan oleh pejuang Indonesia dan beberapa tentara Jepang, yang diblokade dari pintu masuk pelabuhan. Antara 29 Juli dan 3 Agustus, kapal perang Belanda mengebom benteng. Angkatan laut Belanda mendarat dan menghancurkan senjata-senjata. Kira-kira 20 pejuang tewas saat kejadian itu.

Setelah peristiwa agresi militer benteng tidak digunakan lagi untuk aktifitas perang. Sesekali benteng dan sekitarnya dijadikan tempat untuk latihan para pecinta alam. Selebihnya, hanya wisatawan –dalam jumlah terbatas- dan orang-orang berkepentingan “khusus” yang datang ke sini. Sangat jauh status nasibnya jika dibandingkan dengan Fort de Hel di Belanda yang terhitung masih satu keluarga –sama-sama benteng tipe Tour Modèle-. Fort de Hel mengalami revitalisasi yang mampu memberikan daya “hidup” baru pada benteng. Berbagai acara digelar di sana, mulai dari kegiatan seni dan budaya, kursus evakuasi, aktivitas pendidikan, kegiatan outdoor, bahkan acara barbekyu bisa dilakukan di benteng. Fort de Hel seakan tak pernah sepi. Saya hanya bisa berharap suatu saat nanti Benteng Karang Bolong bisa menjejaki kesuksesan saudaranya itu. Ia menjadi sebuah monumen yang memang telah mati namun daya “hidup”nya yang baru justru semakin menawan orang-orang untuk berkunjung.

Menara Benteng Karang Bolong

Bagian dalam menara

Parit menara

Unsur lengkung di dalam ruang menara

Akses menuju bagian atas menara

Jendela bidik pada menara

Bukit yang sudah dipapras (di atasnya menara)

Tangga menuju mezanin dan menara

Akses menuju terowongan

Akses ke ruang bawah tanah

Bukaan pada ruang bawah tanah (opening)

Pos jaga yang memanfaatkan bukit

Semacam "entablature" di bagian atas pintu

Pos jaga yang terhubung dengan akses menuju terowongan

Salah satu bangunan pertahanan di Karang Bolong

Pintu lengkung pada salah satu bangunan pertahanan

Bagian dalam satu bangunan pertahanan

Lubang bidik

Tampak luar jendela bungker

Sisa meriam

Sisa meriam

Pantai Karang Bolong


Catatan:
(1) Casemate merupakan ruang lengkung untuk menempatkan meriam dan penembaknya. Pada bentuk awalnya casemate bermasalah dengan ventilasi karena bentuknya seperti ruang gelap yang lembab, seperti gua. Namun, pada perkembangannya casemate tidak didesain tertutup.
(2) Caponnier merupakan struktur pertahanan yang dirancang untuk dilalui pasukan tembak. Bentuknya menyerupai terowongan, biasanya ditempatkan di parit.
(3) Entablature merupakan struktur yang terdapat di atas kolom di antara capital (bagian teratas kolom) dengan atap, terdiri dari cornice (bagian atas), frieze (bagian tengah), architrave (bagian bawah).
(4) Jean-Baptiste Vaquette de Gribeauval (September 1715 – Mei 1789) ialah guru Napoleon saat masih menjadi calon perwira. Gribeauval banyak melakukan reformasi pada sistem pertahanan Prancis yang memberikan kontribusi besar bagi kejayaan Revolusi Prancis.

Sumber Bacaan:

Ching, Francis. D.K. 1995. A Visual Dictionary of Architecture. Kanada: John Willey & Sons, Inc.

Lepage, Jean-Denis G.G. 2010. French Fortifications, 1715-1815: An Illustrated History. Amerika: McFarland & Company, Inc.,Publishers.

Zuhdi, Susanto. 2002. Cilacap (1830-1942): Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Cilacap Lecture oleh Hans Bonke, 2008.

http://www.subterraneanhistory.co.uk/2007/05/caponier-chatham.html

http://www.fortdehel.nl/home



Tuesday, 16 August 2011

Benteng Klingker: Perjalanan Menuju Tiga Benteng Cilacap (Bagian II)

Mas Seno, anak seorang juru pelihara Benteng Karangbolong sudah menunggu saya di Pantai Teluk Penyu. Kebetulan keluarganya mempunyai usaha perahu wisata. Saya memilih menggunakan jasa Mas Seno untuk mengantarkan ke Benteng Klingker dan Karangbolong. Dengan perahu berbahan fiber kami menyeberang ke Pulau Nusa Kambangan. Perjalanan ke Pantai Karang Tengah, tempat Benteng Klingker berada memakan waktu sekitar 5 menit. Musim angin timur menyebabkan kami harus melalui gelombang yang besar. Air garam membasahi muka saya.

Pantai Karang Tengah sudah di depan mata.

Setelah melalui gelombang yang lumayan ganas, akhirnya saya menjejakkan kaki kembali ke Pantai Karang Tengah. Pantai ini mempunyai garis pantai yang cukup panjang dengan butiran pasir putih yang kasar.

Penanda untuk masuk ke Benteng Klingker ialah dua buah tugu dengan tinggi sekitar 7 m. Di tugu yang paling dekat dengan pantai ini saya mengalami sedikit kejadian “mistik”. Saat ingin memotret tugu dalam jarak yang lebih dekat, kamera saya mendadak tidak mau mematuhi perintah. Tepat di depan tugu ini, terdapat sebuah sumur kecil berdiameter 1 m dengan kedalaman 0,7 m. Entah kenapa saya menjadi lebih tertarik memotret si sumur ketimbang detil tugu. Saat kamera sudah mau diajak kompromi, saya mangarahkannya ke dalam sumur. Tiba-tiba muncul kepiting besar yang masuk lagi ke lubang di dalam sumur. Kamera saya pun kembali “ngambek”. Tombol-tombolnya seakan mogok beroperasi. Kali ini lebih parah dibandingkan sebelumnya. Saya harus berkali-kali melepas baterainya sampai ia mau kembali merespon perintah tombol. Pyuh, mungkin saya lupa “kulonuwun” sebelum menekan tombol pelepas rana.

Lupakan sebentar soal tugu “mistik” itu. Untuk menuju benteng saya harus melewati jalan konblok yang kondisinya rusak.

Setelah lima menit perjalanan, Benteng Klingker pun di depan mata. Benteng yang sudah menyatu dengan pepohonan ini di dalam peta Belanda disebut sebagai “Banjoenjapa”. Sejauh ini tidak ada data sekunder yang saya jumpai terkait benteng ini. Benteng Klingker masuk ke dalam tipe benteng martello yang diadopsi Belanda dari Prancis dan diterapkan di Indonesia. Sistem pertahanan ini merupakan sistem pertahanan pantai yang mulai berkembang pada abad 19 (saat perang Napoleon). Sebenarnya benteng berbentuk menara ini awalnya bernama Mortella, namun saat perang Inggris-Prancis, Inggris salah menyebut Mortella dengan kata Martello yang berkembang hingga kini. Menara Martello pertama dibangun pada 1803 saat Napoleon berniat menduduki Inggris.

Di bagian tengah benteng terdapat sebuah tiang penopang berbentuk tabung.

Menurut Mas Seno benteng ini disebut warga sebagai Benteng Jamur karena bentuk tiang ini yang menyerupai batang jamur payung.

Terdapat dua lapis koridor di dalam benteng. Di tiap koridor dijumpai bukaan berbentuk lengkung (arch).

Bentuk bukaan (arch) ini terdapat di sisi barat.

Benteng ini terdiri dari dua lantai yang dihubungkan dengan tangga. Sekarang tangga sudah hancur, jika mau naik ke atas harus melalui akar pohon ini. Namun, sebaiknya jangan pernah sekali-kali untuk mencoba naik ke lantai dua. Tanpa kita naik pun, Benteng Klingker sudah bersusah payah untuk tetap utuh berdiri dalam balutan akar pepohonan.

Lantai dua benteng di sisi barat. Lantainya sudah hancur.

Ini merupakan dinding benteng sisi barat yang tertutup semak belukar.

Benteng Klingker, sama dengan peninggalan arkeologis pada umumnya selalu dikaitkan dengan tempat yang mengandung unsur mistis. Benteng ini banyak dikunjungi oleh para peziarah yang melakukan “tapa”. Biasanya mereka datang dari Purwokerto dan sekitarnya. Tempat yang paling sering dijadikan tempat ritual ialah bagian dalam sisi barat. Setiap berkunjung ke sini saya pasti menemukan sisa dupa, kembang, lilin, dan kain putih.

Waktu menunjukkan tepat pukul 12.00 siang. Karena kami terlalu lama di dalam benteng, maka kami harus mendorong perahu untuk sampai ke tempat yang memungkinkan agar mesin dapat bekerja. Air laut biasanya surut selepas zuhur.

Tujuan saya selanjutnya ialah Benteng Karang Bolong. Sampai jumpa Pantai Karang Tengah.

Logistik:
Ongkos menyeberang dari Pantai Teluk Penyu – Pantai Karang Tengah (Benteng Klingker) – Benteng Karang Bolong: Rp 20.000,-. Untuk informasi antar jemput bisa menghubungi Mas Seno (087736634180)

Sumber bacaan:
Lepage, Jean-Denis G.G. 2010. French Fortifications, 1715-1815 An Illustrated History. Amerika: McFarland & Company, Inc., Publishers.