Sunday, July 5, 2009
Jadi seperti Apa??
Aku lebih suka seperti ini. Bersendiri bersama malam. Keluar untuk mencari makan. Dan kemudian bertemu penjual nasi goreng dengan gerobaknya. Aku lebih menikmati hal ini. Aroma nasi goreng tanpa daging menguap menggelitik bulu hidung. Mengantarkan rasa pedas yang selalu kurindukan. Inilah aku bersama monolog buku laporan jurnalistik. Mengenai tanah Papua. Ah, betapa ingin aku kesana. Menjadi semacam misionaris menyebarkan panji-panji budaya. Bersama riang anak-anak dan eloknya pantai. Akan sangat berwarna kupikir. Hitam, putih, biru, hijau, cokelat, merah, kuning, oranye, jingga berpendar-pendar dalam ruang otakku. Mengapa menjadi seperti itu yang aku inginkan? Karena aku ingin melebur bersama riak air di pantai yang tenang. Memandangi ikan berpetak umpet diantara karang-karang tanpa harus menyelam. Dan cukup menjadi seperti itu. Kutahu hidupku berbahagia tanpa harus mengeluh mengenai apapun.
Tanya Siapa????
Kita tidak perlu menjelaskan semua dengan rinci bahkan ketika kita mengetahuinya dengan sangat baik. Begitulah aku malam ini. Tertusuk kata-kata dari rerumput tajam di negeri bernama ”ANEH”. Aneh menurutku ketika orang lain seakan lebih tahu tentang tubuh dan jiwa ini. Tiap jengkalnya mereka hapal dengan sangat fasih. Heran, kenapa mereka sebegitunya sangat mengenal tubuh dan jiwa ini dengan baik. Aku pun bukan artis yang harus menggelar jumpa pers perihal kenaikan tingkat dalam hidupku ataupun kehancuran yang sedang aku alami sekarang. Kenapa orang-orang tidak berdiam diri di dalam rumahnya masing-masing. Menata rerupa yang cocok untuk pintu atau jendela rumahnya. Tak usahlah merepotkan warna cat tembok tetangga sebelah. Cukup atur saja bunga-bunga cantik penghias halaman depan.
Kukira sudah jelas semuanya. Orang akan tersenyum, tertawa terpingkal-pingkal sampai keluar air mata ketika orang lain yang bukan dirinya mengalami fase kehancuran, kekalahan, kehilangan. Walaupun kebanyakan yang dipamerkan adalah muka dengan mimik super empatik. Inilah negeri bernama ”ANEH”, tempat dimana aku sibuk menata rumah dan memilih warna untuk ruang tamuku.
Tawa melecehkan akan membahana ketika yang tua belajar pada yang muda. Ketika sang jenius berguru pada si idiot. Semua terasa jungkir balik. Harus sesuai dengan konstruksi yang ditanamkan sedari zaman Adam dulu. Apakah permainan bolak balik logika itu tidak diperbolehkan? Yang pintar selalu merasa menjadi Sang Maha Tahu, yang bodoh enggan keluar dari kurang kegelapan dan keterpurukan. Hmmm...masih menyoalkan pemutarbalikan hukum-hukum logika. Dimana mayor tidak selalu harus menjadi mayor. Ada kalanya mencicipi rasa menjadi minor, pun sebaliknya. Dan aku masih berbenah dan berpikir sendiri tentang perabotan mini untuk ruang keluarga yang hangat.
Nglempongsari, Sariharjo, Sleman, Yogyakarta
4 Juli 2009
9:43 PM
Untuk Sebuah Tragedi: yang membuat aku mencoret nama dari yang kupercaya.
Kukira sudah jelas semuanya. Orang akan tersenyum, tertawa terpingkal-pingkal sampai keluar air mata ketika orang lain yang bukan dirinya mengalami fase kehancuran, kekalahan, kehilangan. Walaupun kebanyakan yang dipamerkan adalah muka dengan mimik super empatik. Inilah negeri bernama ”ANEH”, tempat dimana aku sibuk menata rumah dan memilih warna untuk ruang tamuku.
Tawa melecehkan akan membahana ketika yang tua belajar pada yang muda. Ketika sang jenius berguru pada si idiot. Semua terasa jungkir balik. Harus sesuai dengan konstruksi yang ditanamkan sedari zaman Adam dulu. Apakah permainan bolak balik logika itu tidak diperbolehkan? Yang pintar selalu merasa menjadi Sang Maha Tahu, yang bodoh enggan keluar dari kurang kegelapan dan keterpurukan. Hmmm...masih menyoalkan pemutarbalikan hukum-hukum logika. Dimana mayor tidak selalu harus menjadi mayor. Ada kalanya mencicipi rasa menjadi minor, pun sebaliknya. Dan aku masih berbenah dan berpikir sendiri tentang perabotan mini untuk ruang keluarga yang hangat.
Nglempongsari, Sariharjo, Sleman, Yogyakarta
4 Juli 2009
9:43 PM
Untuk Sebuah Tragedi: yang membuat aku mencoret nama dari yang kupercaya.
Wednesday, July 1, 2009
Laweyan Kampung Tua, Surga Batik Solo
Acara survey teman-teman Green Map Solo membawa saya kembali ke Laweyan. Terakhir kali saya mengunjungi Laweyan pada akhir 2008. Sudah banyak yang berubah kecuali warung selat di gerbang masuk utama Laweyan yang masih bercat merah seperti dulu.
Kami tiba di Stasiun Purwosari sekitar pukul 14.30 WIB. Kemudian langsung menuju kantor kelurahan Laweyan bersama Bapak becak yang harus rela becaknya berpenumpang tiga orang. Untungnya postur tubuh saya, Sita dan Nini terbilang slim –menghibur diri sendiri- jadi tidak begitu menyusahkan si bapak yang berpostur extra large.
Berkali-kali main ke Laweyan saya baru tahu kalau kantor kelurahannya berada di sisi selatan pasar Kabangan. Disana sudah berkumpul teman-teman Green Map Solo dan Azzah. Meskipun berangkat lebih awal dari Jogja agar tepat waktu, namun acara survey baru dimulai pukul 16.00 WIB. Konsistensi waktu nampaknya perlu dikritisi lagi.
Saya dan Nini mendapat jatah mendampingi kelompok 3 yang akan memetakan wilayah RW 3 Laweyan. Kami harus melipir jalan raya yang tidak dilengkapi dengan trotoar –walaupun trotoar bukan budaya Indonesia namun kehadirannya dirasa membantu para pejalan kaki sejati-. Jadilah laju kendaraan yang terbilang berkecepatan tinggi mengancam nyawa kami setiap saat. Sungguh bukan kawasan aman bagi pejalan kaki, begitu saya dan Nini sepakat untuk kesan pertama dari kawasan ini. Menurut Nini sebagai kawasan wisata seharusnya Laweyan harus menyediakan sisi keramahan bagi pejalan kaki yang ingin menikmati Laweyan tidak hanya di dalam perkampungannya.
Kawasan Laweyan yang berbatasan dengan jalan raya di sisi utara memang terkesan sangat urban. Salah satu pedagang gerabah yang kami jumpai di perbatasan RW 3 –gubuk yang berfungsi sekaligus sebagai tokonya- yang berada di samping sungai, mengaku bahwa orang tuanya juga pelaku penjualan rumah di Laweyan. Rumah-rumah kuno Laweyan dibeli dan dirubah menjadi toko elektronik ataupun pusat pendidikan properti –salah satu tempat pendidikan yang baru pertama saya lihat di Indonesia-. Pada akhirnya generasi yang hidup masa sekarang harus rela menghuni tempat yang lepas dari konteks Laweyan secara keseluruhan.
Melewati penginapan milik Nina Akbar Tanjung mengingatkan saya pada impian untuk menginap di tempat ini barang satu harmal. Tempatnya ”rumah” sekali menurut saya. Rimbun pepohonan menutupi bagian depan penginapan ini. Ditambah dengan kamar-kamar yang didesain sesuai dengan nuansa rumah –begitu info yang saya dapat dari salah satu blog- yang pastinya akan membuat betah.
Kelompok kami sempat bingung ketika menentukan batas wilayah yang harus dipetakan. Sebagai daerah yang akrab dengan sisi urban maka kami kesulitan untuk bertanya. Yang ditanya pasti akan menjawab, ”waduh ndak tahu e, saya bukan asli sini”. Dan kesulitan itu kami pecahkan dengan mulai memetakan RW 3 dari gerbang ”Kampoeng Batik Laweyan” di dekat warung selat bercat merah.
Si warung selat bercat merah adalah tempat pertama yang kami datangi. Saya belum mendapatkan informasi sejak kapan makanan yang bernama selat ini menjamur di Laweyan. Secara historis bisa dilogika jika selat adalah adopsi kuliner Eropa bernama salad. Kultur historis Solo yang memang terbuka terhadap Eropa menjadi alasan logika saya. Namun, karena kapasitas saya sore hanya sebagai fasilitator maka saya belum bisa bertanya banyak perihal makanan selat ini. Yang jelas warung selat ”Bangjo Jongke” adalah tempat dimana saya mencicipi selat untuk pertama kalinya seumur hidup. Rasanya menurut saya uenak. Pas di lidah dan meninggalkan rasa ingin kembali lagi.
Memasuki kampung Laweyan, kami berhenti sejenak di sebuah bengkel vespa yang mempunyai banyak anak anjing. Di sini sedang berkumpul para pria –sebagian besar bapak-bapak- bersama dengan vespa tercinta masing-masing. Rupanya tempat ini adalah bengkel vespa sekaligus tempat nongkrong sebuah komunitas vespa di Solo. Beberapa buah vespa terparkir acak berlatar belakang sebuah rumah kuno yang tak ditempati. Sungguh sore yang menyenangkan.
Karakter Laweyang menurut saya hampir sama dengan Kota Gede. Hanya saja gang-gang di sini mempunyai lebar yang lebih besar dibandingkan Kota Gede. Papan informasi nama tempat sudah terpasang di tiap perempatan. Semakin memudahkan bagi pengunjung yang ingin berpetualang di Laweyan.
Rumah-rumah kuno juragan batik kami lewati dengan decak kagum. Berharap satu saat nanti bisa memasuki tiap rumah, memotret, mendeskripsikan dan membandingkan. Saya sangat tertarik dengan varian pintu di Laweyan. Nyaris tidak ada yang sama. Dan hal kecil itu pun mampu mencuri hati saya.
Kami menyusuri gang dengan dinding-dinding rumah yang penuh dengan coretan. Coretan tangan menggunakan pensil sehingga tidak terlalu terlihat bila tidak memperhatikan. Menurut teman dari Solo, coretan itu adalah hasil karya satu-satunya orang ”gila” di tempat ini. Isinya pun tidak jelas. Menurut saya dia pasti menghabiskan banyak pensil untuk menorehkan perasaannya pada dinding sepanjang ini.
Coretan pensil itu membawa perjalanan kami berhenti sejenak di rumah Pak Budi. Rumah yang nampaknya baru dipugar itu mempunyai sebatang sawo manila di halaman depannya. Sawo manila serupa sawo kecik yang saya jumpai di dalam keraton Yogyakarta. Namun kulitnya lebih mulus menyerupai buah sawit. Begitu sawo manila mendarat di lidah, sensasinya tak terlupakan –sangat berlebihan, he he he-. Karena harus berbagai saya dan Nini hanya mencicipi dua buah sawo manila yang sangat enak. Saya juga mengantongi empat biji untuk ditanam di Jogja dan berharap dapat tumbuh normal.
Sore yang kian matang mengantar kami di kediaman Pak Alfa, pemilik batik Mahota laweyan. Show room sekaligus toko ini menempati rumah kuno Laweyan yang mempunyai dua lantai. Seperti rumah juragan batik kebayakan –ketika berkunjung ke Lasem juga seperti ini-, rumah Pak Alfa juga mempunyai pagar tinggi. Halaman rumah dapat dikatakan sangat sempit. Dua mobil terparkir di depan rumah dengan vegetasi yang sangat padat ini. Setiap hari ruangan di dalam rumah pastinya menggunakan nyala lampu sebagai penerangan.
Batik-batik berharga ratusan ribu dipajang dengan apik. Lantai rumah Pak Alfa yang pertama mencuri perhatian saya. Lantai khas omah lawas yang menggunakan ubin seperti yang diproduksi oleh Tegel Kunci di Jogja. Dua buah frame foto keluarga dari masa lalu terpajang di atas properti yang juga antik. Hampir seluruh perabotan di ruangan ini adalah perabotan lawas. Hangat sekali berada di rumah ini. Rumah seorang pengusaha batik yang dikatakan Nini sebagai pelopor bangkitnya usaha batik Laweyan setelah cukup lama mati suri. Dari rumah Pak Alfa juga saya mendapatkan informasi tentang kawasan Laweyan. Ternyata Laweyan merupakan kampung tua yang sudah ada sejak 1546 M.
Yang unik dari Laweyan adalah landmark yang coba mereka bangun. Tiap RW mempunyai batas berupa motif batik yang dicapkan pada jalan. Hasilnya adalah semacam lukisan yang berbahan dari batu kali yang cantik.
Waktu telusur yang sangat singkat –lebih kurang satu jam- belum cukup bagi saya untuk menceritakan secara mendalam mengenai Laweyan. Suara adzan akhirnya harus menutup perjalanan singkat saya di sini. Berharap dalam hati semoga saya bisa kembali lagi ke Laweyan dan merekam lebih banyak lagi.
Info:
- Naik becak dari Stasiun Purwosari ke kantor kelurahan Laweyan merogoh kocek Rp 10.000,- dengan kapasitas di dalam becak sebanyak tiga orang penumpang. Syaratnya tiga orang penumpang harus berpostur tubuh slim dan carilah Bapak becak yang berpostur tubuh ekstra large.
- Warung Selat dan Ayam Bakar ”Bangjo Jongke” buka setiap hari kecuali hari minggu dari pukul 10.00 s.d 20.00 WIB. Harga selatnya Rp 6.500,- dan Rp 7.500,- untuk ayam bakarnya.
- Jelajah batik Laweyan merogoh kocek Rp 50.000,-/paket. Fasilitasnya, kita akan diajak menelusuri gang-gang sempit, peninggalan bersejarah, rumah-rumah tua Laweyan, pabrik batik plus melihat proses pembuatan batik. Kita juga bisa ikut praktek membuat baik sambil menikmati makanan khas Laweyan.
- Di Laweyan Batik Training Center yang bertempat di jalan Sidoluhur No.17 Laweyan disediakan short course bagi wisatawan yang ingin belajar batik secara singkat di atas kain 30 x 30 cm. Batik hasil karya sendiri bisa dibawa pulang. Cukup merogoh kocek sebesar Rp 25.000,- saja.
Yogyakarta, 1 Juli 2009
Kami tiba di Stasiun Purwosari sekitar pukul 14.30 WIB. Kemudian langsung menuju kantor kelurahan Laweyan bersama Bapak becak yang harus rela becaknya berpenumpang tiga orang. Untungnya postur tubuh saya, Sita dan Nini terbilang slim –menghibur diri sendiri- jadi tidak begitu menyusahkan si bapak yang berpostur extra large.
Berkali-kali main ke Laweyan saya baru tahu kalau kantor kelurahannya berada di sisi selatan pasar Kabangan. Disana sudah berkumpul teman-teman Green Map Solo dan Azzah. Meskipun berangkat lebih awal dari Jogja agar tepat waktu, namun acara survey baru dimulai pukul 16.00 WIB. Konsistensi waktu nampaknya perlu dikritisi lagi.
Saya dan Nini mendapat jatah mendampingi kelompok 3 yang akan memetakan wilayah RW 3 Laweyan. Kami harus melipir jalan raya yang tidak dilengkapi dengan trotoar –walaupun trotoar bukan budaya Indonesia namun kehadirannya dirasa membantu para pejalan kaki sejati-. Jadilah laju kendaraan yang terbilang berkecepatan tinggi mengancam nyawa kami setiap saat. Sungguh bukan kawasan aman bagi pejalan kaki, begitu saya dan Nini sepakat untuk kesan pertama dari kawasan ini. Menurut Nini sebagai kawasan wisata seharusnya Laweyan harus menyediakan sisi keramahan bagi pejalan kaki yang ingin menikmati Laweyan tidak hanya di dalam perkampungannya.
Kawasan Laweyan yang berbatasan dengan jalan raya di sisi utara memang terkesan sangat urban. Salah satu pedagang gerabah yang kami jumpai di perbatasan RW 3 –gubuk yang berfungsi sekaligus sebagai tokonya- yang berada di samping sungai, mengaku bahwa orang tuanya juga pelaku penjualan rumah di Laweyan. Rumah-rumah kuno Laweyan dibeli dan dirubah menjadi toko elektronik ataupun pusat pendidikan properti –salah satu tempat pendidikan yang baru pertama saya lihat di Indonesia-. Pada akhirnya generasi yang hidup masa sekarang harus rela menghuni tempat yang lepas dari konteks Laweyan secara keseluruhan.
Melewati penginapan milik Nina Akbar Tanjung mengingatkan saya pada impian untuk menginap di tempat ini barang satu harmal. Tempatnya ”rumah” sekali menurut saya. Rimbun pepohonan menutupi bagian depan penginapan ini. Ditambah dengan kamar-kamar yang didesain sesuai dengan nuansa rumah –begitu info yang saya dapat dari salah satu blog- yang pastinya akan membuat betah.
Kelompok kami sempat bingung ketika menentukan batas wilayah yang harus dipetakan. Sebagai daerah yang akrab dengan sisi urban maka kami kesulitan untuk bertanya. Yang ditanya pasti akan menjawab, ”waduh ndak tahu e, saya bukan asli sini”. Dan kesulitan itu kami pecahkan dengan mulai memetakan RW 3 dari gerbang ”Kampoeng Batik Laweyan” di dekat warung selat bercat merah.
Si warung selat bercat merah adalah tempat pertama yang kami datangi. Saya belum mendapatkan informasi sejak kapan makanan yang bernama selat ini menjamur di Laweyan. Secara historis bisa dilogika jika selat adalah adopsi kuliner Eropa bernama salad. Kultur historis Solo yang memang terbuka terhadap Eropa menjadi alasan logika saya. Namun, karena kapasitas saya sore hanya sebagai fasilitator maka saya belum bisa bertanya banyak perihal makanan selat ini. Yang jelas warung selat ”Bangjo Jongke” adalah tempat dimana saya mencicipi selat untuk pertama kalinya seumur hidup. Rasanya menurut saya uenak. Pas di lidah dan meninggalkan rasa ingin kembali lagi.
Memasuki kampung Laweyan, kami berhenti sejenak di sebuah bengkel vespa yang mempunyai banyak anak anjing. Di sini sedang berkumpul para pria –sebagian besar bapak-bapak- bersama dengan vespa tercinta masing-masing. Rupanya tempat ini adalah bengkel vespa sekaligus tempat nongkrong sebuah komunitas vespa di Solo. Beberapa buah vespa terparkir acak berlatar belakang sebuah rumah kuno yang tak ditempati. Sungguh sore yang menyenangkan.
Karakter Laweyang menurut saya hampir sama dengan Kota Gede. Hanya saja gang-gang di sini mempunyai lebar yang lebih besar dibandingkan Kota Gede. Papan informasi nama tempat sudah terpasang di tiap perempatan. Semakin memudahkan bagi pengunjung yang ingin berpetualang di Laweyan.
Rumah-rumah kuno juragan batik kami lewati dengan decak kagum. Berharap satu saat nanti bisa memasuki tiap rumah, memotret, mendeskripsikan dan membandingkan. Saya sangat tertarik dengan varian pintu di Laweyan. Nyaris tidak ada yang sama. Dan hal kecil itu pun mampu mencuri hati saya.
Kami menyusuri gang dengan dinding-dinding rumah yang penuh dengan coretan. Coretan tangan menggunakan pensil sehingga tidak terlalu terlihat bila tidak memperhatikan. Menurut teman dari Solo, coretan itu adalah hasil karya satu-satunya orang ”gila” di tempat ini. Isinya pun tidak jelas. Menurut saya dia pasti menghabiskan banyak pensil untuk menorehkan perasaannya pada dinding sepanjang ini.
Coretan pensil itu membawa perjalanan kami berhenti sejenak di rumah Pak Budi. Rumah yang nampaknya baru dipugar itu mempunyai sebatang sawo manila di halaman depannya. Sawo manila serupa sawo kecik yang saya jumpai di dalam keraton Yogyakarta. Namun kulitnya lebih mulus menyerupai buah sawit. Begitu sawo manila mendarat di lidah, sensasinya tak terlupakan –sangat berlebihan, he he he-. Karena harus berbagai saya dan Nini hanya mencicipi dua buah sawo manila yang sangat enak. Saya juga mengantongi empat biji untuk ditanam di Jogja dan berharap dapat tumbuh normal.
Sore yang kian matang mengantar kami di kediaman Pak Alfa, pemilik batik Mahota laweyan. Show room sekaligus toko ini menempati rumah kuno Laweyan yang mempunyai dua lantai. Seperti rumah juragan batik kebayakan –ketika berkunjung ke Lasem juga seperti ini-, rumah Pak Alfa juga mempunyai pagar tinggi. Halaman rumah dapat dikatakan sangat sempit. Dua mobil terparkir di depan rumah dengan vegetasi yang sangat padat ini. Setiap hari ruangan di dalam rumah pastinya menggunakan nyala lampu sebagai penerangan.
Batik-batik berharga ratusan ribu dipajang dengan apik. Lantai rumah Pak Alfa yang pertama mencuri perhatian saya. Lantai khas omah lawas yang menggunakan ubin seperti yang diproduksi oleh Tegel Kunci di Jogja. Dua buah frame foto keluarga dari masa lalu terpajang di atas properti yang juga antik. Hampir seluruh perabotan di ruangan ini adalah perabotan lawas. Hangat sekali berada di rumah ini. Rumah seorang pengusaha batik yang dikatakan Nini sebagai pelopor bangkitnya usaha batik Laweyan setelah cukup lama mati suri. Dari rumah Pak Alfa juga saya mendapatkan informasi tentang kawasan Laweyan. Ternyata Laweyan merupakan kampung tua yang sudah ada sejak 1546 M.
Yang unik dari Laweyan adalah landmark yang coba mereka bangun. Tiap RW mempunyai batas berupa motif batik yang dicapkan pada jalan. Hasilnya adalah semacam lukisan yang berbahan dari batu kali yang cantik.
Waktu telusur yang sangat singkat –lebih kurang satu jam- belum cukup bagi saya untuk menceritakan secara mendalam mengenai Laweyan. Suara adzan akhirnya harus menutup perjalanan singkat saya di sini. Berharap dalam hati semoga saya bisa kembali lagi ke Laweyan dan merekam lebih banyak lagi.
Info:
- Naik becak dari Stasiun Purwosari ke kantor kelurahan Laweyan merogoh kocek Rp 10.000,- dengan kapasitas di dalam becak sebanyak tiga orang penumpang. Syaratnya tiga orang penumpang harus berpostur tubuh slim dan carilah Bapak becak yang berpostur tubuh ekstra large.
- Warung Selat dan Ayam Bakar ”Bangjo Jongke” buka setiap hari kecuali hari minggu dari pukul 10.00 s.d 20.00 WIB. Harga selatnya Rp 6.500,- dan Rp 7.500,- untuk ayam bakarnya.
- Jelajah batik Laweyan merogoh kocek Rp 50.000,-/paket. Fasilitasnya, kita akan diajak menelusuri gang-gang sempit, peninggalan bersejarah, rumah-rumah tua Laweyan, pabrik batik plus melihat proses pembuatan batik. Kita juga bisa ikut praktek membuat baik sambil menikmati makanan khas Laweyan.
- Di Laweyan Batik Training Center yang bertempat di jalan Sidoluhur No.17 Laweyan disediakan short course bagi wisatawan yang ingin belajar batik secara singkat di atas kain 30 x 30 cm. Batik hasil karya sendiri bisa dibawa pulang. Cukup merogoh kocek sebesar Rp 25.000,- saja.
Yogyakarta, 1 Juli 2009
Friday, June 19, 2009
Sisi Lain Borobudur: Sejarah Tua Dusun Maitan
Di Maitan Kami Berkumpul
Akhir minggu ini benar-benar menyenangkan bagiku. Walaupun harus dibayar dengan jatah tidur yang berkurang banyak. Aku bersama teman-teman Tim Peta Hijau Mandala Borobudur kembali berkumpul di Desa Borobudur. Lebih tepatnya di Dusun Maitan. Dusun dengan perjalanan sejarah yang sangat tua.

Malam menyambut kedatangan kami di Borobudur. Seperti biasa kami berkumpul dulu di kediaman Pak Jack. Kemudian makan di warung “biasa” –penyebutan untuk warung dengan nasi rebusnya yang selalu ngangenin-. Selanjutnya menuju Maitan.
Suasana pedesaan merangkul dengan hangat. Rumah-rumah dengan halaman yang luas memperkuat karakter khas pedesaan. Pohon-pohon rindang menambah pekat malam dalam remang cahayanya. Mungkin esok baru ku tahu tanaman apa saja yang meramaikan lingkungan di sekitar rumah ini.
Yang mencolok pertama kali dari rumah ini –tempat kami menginap malam ini- adalah pagar kayu dengan ukuran pendek yang diletakkan diantara dua pagar bata yang juga pendek. Unik dan lucu mungkin adalah alasan yang utama hingga kami berkomentar terlalu banyak tentang benda yang kecil itu.

Ruangan pertama yang kami akrabi adalah ruang tamu. Bentuknya persegi panjang dengan dua set kursi di dalamnya. Aku dan teman-teman bebas memilih untuk duduk di hangatnya kursi atau lesehan di dinginnya lantai yang menentramkan. Di ruang ini kami mengevaluasi kegiatan Peta Hijau Mandala Borobudur Tahap I dari awal hingga peluncuran beberapa waktu yang lalu.
Malam kian pekat. Suasana semakin hangat hingga mengirimkan sinyal-sinyal untuk ”mendarat” di kasur yang telah disediakan untuk kami. Diskusi pun diakhiri sekitar pukul 01.30 pagi. Semua bergegas tidur karena besok pagi kami berniat menyaksikan sunrise dari bukit Bakal di Maitan.
Akhirnya Sunrise-an Juga

Percaya atau tidak, rencana untuk sunrise-an ini terbilang wacana lawas. Sudah sejak lama kami ingin sekali menyaksikan terbitnya matahari dari Bukit Bakal. Namun apa daya, niat kami sedari dulu hanyalah kemauan tanpa usaha. Selalu kalah dengan hangatnya selimut yang membalut tubuh dalam dinginnya pagi.
Pagi ini kami patahkan niat sebatas niat itu. Rembulan masih di peraduannya ketika langkah-langkah kami menyapu sejuknya embun di rerumputan Maitan. Tanpa penerangan yang memadai akhirnya kami pun sampai di tempat yang selama ini hanya kami dengar lewat cerita teman-teman Desa Borobudur saja.

Bukit Bakal tidak terlalu sulit untuk didaki. Sudah ada anak tangga untuk mempermudah sampai ke atas. Di puncak Bukit Bakal terdapat sebuah pondok sederhana. Sengaja dibuat untuk pengunjung yang ingin menyaksikan Borobudur dari sudut pandang lain. Pondok berukuran sekitar 6 x5 meter ini menjadi saksi bisu kekaguman orang-orang yang menyaksikan terbitnya sumber kehidupan dari Bukit Bakal. Sebagian besar dari kami pun duduk larut dengan pikiran masing-masing, di atas pondok di Bukit Bakal.
Perlahan langit merah bercampur kabut. Samar-samar puncak Borobudur –dengan lampu yang sangat kentara- mulai terlihat. Tampak kecil di samping Merapi yang agung. Kepulan asap dari cawan gunung api itu membentuk garis tipis di hamparan merahnya cakrawala. Sungguh pemandangan yang tak akan terlupakan. Bukan karena keindahan terbitnya matahari, namun perpaduan monumen Buddha terbesar dunia itu dengan lingkungannya yang menawan hati.

Detik-detik munculnya Sang Surya pun menjadi momen paling dinanti pagi ini. Sebagian besar dari kami terkesima lewat decak kagum. Sebagian lagi terdiam tak mampu berkata-kata. Sisanya sibuk mengabadikan lewat kamera seadanya. Kini, aku baru benar-benar yakin bahwa sangat banyak sisi lain dari Borobudur yang belum ”tersentuh” oleh pengunjung. Sisi lain yang sangat eksotik. Jika seorang pengusung aliran romantisme ke tempat ini, pastinya akan pulang dengan sebuah puisi yang sangat elok. Begitu pula kami –yang bukan pengusung aliran apa pun- akan pulang dengan memori yang akan awet puluhan tahun ke depan.
Keliling Maitan, Sejarah Tua Sebuah Dusun
Dari cerita teman-teman Borobudur yang sudah melakukan survey Peta Hijau di Dusun Maitan, aku banyak mendapatkan informasi tentang sejarah dusun ini. Sejarah Maitan ternyata tak bisa dilepaskan dari peristiwa Maha Pralaya yang terjadi sekitar seribu tahun yang lalu di kawasan Jawa Tengah.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, pusat ibukota Mataram Kuno dipindahkan ke daerah Jawa Timur saat Maha Pralaya itu terjadi. Hingga satu titik dimana masyarakat yang dahulunya –mungkin nenek moyang mereka- menjadi pendukung kehidupan sosial di Borobudur pun hijrah kembali ke kampung halaman. Tingkat perpindahan penduduk semakin meningkat sejak terjadinya kekacauan internal dan eksternal Majapahit.
Raden Patah, anak dari Brawijaya V yang sudah mendirikan kerajaan Demak berniat menyebarkan Islam di Majapahit. Sebagian masyarakat yang masih memeluk agama Hindu-Buddha kemudian merasa terdesak dan pindah ke daerah Jawa Tengah. Akhirnya mereka kembali menempati tanah nenek moyang mereka, Borobudur.
Para pendatang yang menjadi cikal bakal beberapa Dusun di Borobudur diantaranya Singogati yang membuka Dusun Gejagan, Jogo Wedono membuka Dusun Kujon, Cipto Roso dan Joyo Widodo membuka Dusun Maitan, Suryo Hudoyo dan Sri Sarjono membuka Dusun Tanjungan, serta Yudo Kusumo. Pagi ini juga kami tetirah ke makam para leluhur Borobudur ini. Makam sederhana dengan lumut yang selalu stagnan –baik di musim kemarau maupun musim hujan tetap hijau- sebagai penanda.
Cerita sejarah Dusun Maitan diperoleh dari Mbah Sukir. Suatu hari Mbah Sukir mendapatkan sebagian dari Gunung Bakal longsor. Dia menemukan mayat dengan kain kafan yang masih utuh. Sebelumnya Mbah Sukir tidak tahu menahu tentang sejarah dusun. Namun sejak penemuan itu Mbah Sukir mendapat semacam mimpi dan akhirnya bisa bercerita banyak tentang sejarah Dusun Maitan.
Gunung Bakal yang ada di Maitan berasal dari kata bakal yang berarti pawitan/modal. Dari kata bakal itu pula muncul ajaran dari Kyai Joyo Widodo untuk hidup prihatin walaupun mempunyai modal yang cukup. Ajaran bernama Maitan berasal dari sebutan warga untuk Kyai Joyo Widodo. Ajaran Kyai Widodo untuk hidup prihatin walaupun memiliki banyak modal menyebabkan beliau dipanggil dengan nama Kyai Maitan.
Ulat Bambu, Kembang yang Layu, Perajin Pandan dan Sumur Senggot
Sebelum kembali ke jalan dusun, Mas Tri –seorang teman dari Dusun Tanjungan, Desa Borobudur- memberitahuku perihal ulat bambu. Dia bercerita tentang bambu-bambu yang dilubangi. Menurut Mas Tri dari dalam bambu itu sering diperoleh ulat bambu yang akan digunakan untuk memancing. Entah dari mana orang-orang yang mengambil ulat bambu tahu bahwa para ulat bermukim di ruas tertentu. Hasil lubang bambu yang ditinggalkan menjadi sarang burung dengan suara yang merdu. Menyemarakkan hutan di sekitar Bukit Bakal.

Menuju jalan pulang ke home stay kami diantarkan melihat-lihat sisa kejayaan ”gelombang cinta”. Di dalam lahan berukuran lebih kurang 20 x 20 m ini puluhan tanaman hias teronggok sia-sia. Seperti pepatah “Mati Segan Hidup Tak Mau”. Anjloknya harga jual tanaman hias ini mengakibatkan nasibnya seperti habis manis sepah dibuang. Sebagian besar tampak masih menunggu keajaiban pasar hingga harga ekstrensik mereka kembali melambung.
Puas melihat sisa aroma kejayaan sebuah kembang kini atraksi membuat kerajinan pandan yang kami saksikan. Seorang wanita tua menganyam tikar pandan dengan cekatan. “Ini terbilang sudah sangat lambat Mbak Inu”, begitu jawab Pak Pudin ketika aku terkagum-kagum dengan kecepatan tangan si Mbah menganyam tikar pandan. Rupanya ada yang lebih cepat dari si Mbah di Dusun ini dalam menganyam tikar pandan. Sambil terus menganyam, Mbah Qodri –begitu si Mbah dikenal oleh orang Dusun- bercerita banyak kepadaku. Dengan bahasa yang tak kumengerti tentunya. Yang aku ingat ada satuan mata uang yang sangat aneh di dengar, seperti uang Gobang –tak kira sejenis brand salah satu makanan jenis mie di Indonesia-.
Penutup perjalanan pagi ini adalah sumur senggot. Sumur senggot adalah sumur tradisional yang jumlahnya sangat langka di Borobudur. Sumur senggot menggunakan sistem tuas dalam mengambil air di dalam sumur. Tiang pancang dari bambu menjulang tinggi berjarak sekitar 15 m dari sumur. Sebuah ruas bambu yang panjang dan telah dilubangi menjadi timbanya. Cukup ditarik hingga ruas bambu menyentuh air dan membawanya ke atas. Kemudian dialirkan ke dalam sebuah bambu panjang untuk dikonsumsi airnya. Keberadaan sumur senggot yang semakin langka ini tak kusia-siakan dengan terus mencobanya setiap berkunjung ke Maitan.

Dusun Maitan, salah satu dusun di Desa Borobudur bisa jadi tak pernah terdengar di dunia luar Borobudur. Namun begitu, keeksotikan dusun ini bersama dengan keragaman hayati, sejarah dan tinggalan materinya suatu saat nanti pasti mampu menyihir para pengunjung untuk berkunjung dan berkunjung lagi ke Dusun Maitan. Dusun tua dengan sejarah yang tua.
Sleman, Yogyakarta.
Pagi Buta di kontrakan Nglempong Sari
15 Juni 2009
Akhir minggu ini benar-benar menyenangkan bagiku. Walaupun harus dibayar dengan jatah tidur yang berkurang banyak. Aku bersama teman-teman Tim Peta Hijau Mandala Borobudur kembali berkumpul di Desa Borobudur. Lebih tepatnya di Dusun Maitan. Dusun dengan perjalanan sejarah yang sangat tua.

Malam menyambut kedatangan kami di Borobudur. Seperti biasa kami berkumpul dulu di kediaman Pak Jack. Kemudian makan di warung “biasa” –penyebutan untuk warung dengan nasi rebusnya yang selalu ngangenin-. Selanjutnya menuju Maitan.
Suasana pedesaan merangkul dengan hangat. Rumah-rumah dengan halaman yang luas memperkuat karakter khas pedesaan. Pohon-pohon rindang menambah pekat malam dalam remang cahayanya. Mungkin esok baru ku tahu tanaman apa saja yang meramaikan lingkungan di sekitar rumah ini.
Yang mencolok pertama kali dari rumah ini –tempat kami menginap malam ini- adalah pagar kayu dengan ukuran pendek yang diletakkan diantara dua pagar bata yang juga pendek. Unik dan lucu mungkin adalah alasan yang utama hingga kami berkomentar terlalu banyak tentang benda yang kecil itu.

Ruangan pertama yang kami akrabi adalah ruang tamu. Bentuknya persegi panjang dengan dua set kursi di dalamnya. Aku dan teman-teman bebas memilih untuk duduk di hangatnya kursi atau lesehan di dinginnya lantai yang menentramkan. Di ruang ini kami mengevaluasi kegiatan Peta Hijau Mandala Borobudur Tahap I dari awal hingga peluncuran beberapa waktu yang lalu.
Malam kian pekat. Suasana semakin hangat hingga mengirimkan sinyal-sinyal untuk ”mendarat” di kasur yang telah disediakan untuk kami. Diskusi pun diakhiri sekitar pukul 01.30 pagi. Semua bergegas tidur karena besok pagi kami berniat menyaksikan sunrise dari bukit Bakal di Maitan.
Akhirnya Sunrise-an Juga

Percaya atau tidak, rencana untuk sunrise-an ini terbilang wacana lawas. Sudah sejak lama kami ingin sekali menyaksikan terbitnya matahari dari Bukit Bakal. Namun apa daya, niat kami sedari dulu hanyalah kemauan tanpa usaha. Selalu kalah dengan hangatnya selimut yang membalut tubuh dalam dinginnya pagi.
Pagi ini kami patahkan niat sebatas niat itu. Rembulan masih di peraduannya ketika langkah-langkah kami menyapu sejuknya embun di rerumputan Maitan. Tanpa penerangan yang memadai akhirnya kami pun sampai di tempat yang selama ini hanya kami dengar lewat cerita teman-teman Desa Borobudur saja.

Bukit Bakal tidak terlalu sulit untuk didaki. Sudah ada anak tangga untuk mempermudah sampai ke atas. Di puncak Bukit Bakal terdapat sebuah pondok sederhana. Sengaja dibuat untuk pengunjung yang ingin menyaksikan Borobudur dari sudut pandang lain. Pondok berukuran sekitar 6 x5 meter ini menjadi saksi bisu kekaguman orang-orang yang menyaksikan terbitnya sumber kehidupan dari Bukit Bakal. Sebagian besar dari kami pun duduk larut dengan pikiran masing-masing, di atas pondok di Bukit Bakal.
Perlahan langit merah bercampur kabut. Samar-samar puncak Borobudur –dengan lampu yang sangat kentara- mulai terlihat. Tampak kecil di samping Merapi yang agung. Kepulan asap dari cawan gunung api itu membentuk garis tipis di hamparan merahnya cakrawala. Sungguh pemandangan yang tak akan terlupakan. Bukan karena keindahan terbitnya matahari, namun perpaduan monumen Buddha terbesar dunia itu dengan lingkungannya yang menawan hati.

Detik-detik munculnya Sang Surya pun menjadi momen paling dinanti pagi ini. Sebagian besar dari kami terkesima lewat decak kagum. Sebagian lagi terdiam tak mampu berkata-kata. Sisanya sibuk mengabadikan lewat kamera seadanya. Kini, aku baru benar-benar yakin bahwa sangat banyak sisi lain dari Borobudur yang belum ”tersentuh” oleh pengunjung. Sisi lain yang sangat eksotik. Jika seorang pengusung aliran romantisme ke tempat ini, pastinya akan pulang dengan sebuah puisi yang sangat elok. Begitu pula kami –yang bukan pengusung aliran apa pun- akan pulang dengan memori yang akan awet puluhan tahun ke depan.
Keliling Maitan, Sejarah Tua Sebuah Dusun
Dari cerita teman-teman Borobudur yang sudah melakukan survey Peta Hijau di Dusun Maitan, aku banyak mendapatkan informasi tentang sejarah dusun ini. Sejarah Maitan ternyata tak bisa dilepaskan dari peristiwa Maha Pralaya yang terjadi sekitar seribu tahun yang lalu di kawasan Jawa Tengah.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, pusat ibukota Mataram Kuno dipindahkan ke daerah Jawa Timur saat Maha Pralaya itu terjadi. Hingga satu titik dimana masyarakat yang dahulunya –mungkin nenek moyang mereka- menjadi pendukung kehidupan sosial di Borobudur pun hijrah kembali ke kampung halaman. Tingkat perpindahan penduduk semakin meningkat sejak terjadinya kekacauan internal dan eksternal Majapahit.
Raden Patah, anak dari Brawijaya V yang sudah mendirikan kerajaan Demak berniat menyebarkan Islam di Majapahit. Sebagian masyarakat yang masih memeluk agama Hindu-Buddha kemudian merasa terdesak dan pindah ke daerah Jawa Tengah. Akhirnya mereka kembali menempati tanah nenek moyang mereka, Borobudur.
Para pendatang yang menjadi cikal bakal beberapa Dusun di Borobudur diantaranya Singogati yang membuka Dusun Gejagan, Jogo Wedono membuka Dusun Kujon, Cipto Roso dan Joyo Widodo membuka Dusun Maitan, Suryo Hudoyo dan Sri Sarjono membuka Dusun Tanjungan, serta Yudo Kusumo. Pagi ini juga kami tetirah ke makam para leluhur Borobudur ini. Makam sederhana dengan lumut yang selalu stagnan –baik di musim kemarau maupun musim hujan tetap hijau- sebagai penanda.
Cerita sejarah Dusun Maitan diperoleh dari Mbah Sukir. Suatu hari Mbah Sukir mendapatkan sebagian dari Gunung Bakal longsor. Dia menemukan mayat dengan kain kafan yang masih utuh. Sebelumnya Mbah Sukir tidak tahu menahu tentang sejarah dusun. Namun sejak penemuan itu Mbah Sukir mendapat semacam mimpi dan akhirnya bisa bercerita banyak tentang sejarah Dusun Maitan.
Gunung Bakal yang ada di Maitan berasal dari kata bakal yang berarti pawitan/modal. Dari kata bakal itu pula muncul ajaran dari Kyai Joyo Widodo untuk hidup prihatin walaupun mempunyai modal yang cukup. Ajaran bernama Maitan berasal dari sebutan warga untuk Kyai Joyo Widodo. Ajaran Kyai Widodo untuk hidup prihatin walaupun memiliki banyak modal menyebabkan beliau dipanggil dengan nama Kyai Maitan.
Ulat Bambu, Kembang yang Layu, Perajin Pandan dan Sumur Senggot
Sebelum kembali ke jalan dusun, Mas Tri –seorang teman dari Dusun Tanjungan, Desa Borobudur- memberitahuku perihal ulat bambu. Dia bercerita tentang bambu-bambu yang dilubangi. Menurut Mas Tri dari dalam bambu itu sering diperoleh ulat bambu yang akan digunakan untuk memancing. Entah dari mana orang-orang yang mengambil ulat bambu tahu bahwa para ulat bermukim di ruas tertentu. Hasil lubang bambu yang ditinggalkan menjadi sarang burung dengan suara yang merdu. Menyemarakkan hutan di sekitar Bukit Bakal.

Menuju jalan pulang ke home stay kami diantarkan melihat-lihat sisa kejayaan ”gelombang cinta”. Di dalam lahan berukuran lebih kurang 20 x 20 m ini puluhan tanaman hias teronggok sia-sia. Seperti pepatah “Mati Segan Hidup Tak Mau”. Anjloknya harga jual tanaman hias ini mengakibatkan nasibnya seperti habis manis sepah dibuang. Sebagian besar tampak masih menunggu keajaiban pasar hingga harga ekstrensik mereka kembali melambung.
Puas melihat sisa aroma kejayaan sebuah kembang kini atraksi membuat kerajinan pandan yang kami saksikan. Seorang wanita tua menganyam tikar pandan dengan cekatan. “Ini terbilang sudah sangat lambat Mbak Inu”, begitu jawab Pak Pudin ketika aku terkagum-kagum dengan kecepatan tangan si Mbah menganyam tikar pandan. Rupanya ada yang lebih cepat dari si Mbah di Dusun ini dalam menganyam tikar pandan. Sambil terus menganyam, Mbah Qodri –begitu si Mbah dikenal oleh orang Dusun- bercerita banyak kepadaku. Dengan bahasa yang tak kumengerti tentunya. Yang aku ingat ada satuan mata uang yang sangat aneh di dengar, seperti uang Gobang –tak kira sejenis brand salah satu makanan jenis mie di Indonesia-.
Penutup perjalanan pagi ini adalah sumur senggot. Sumur senggot adalah sumur tradisional yang jumlahnya sangat langka di Borobudur. Sumur senggot menggunakan sistem tuas dalam mengambil air di dalam sumur. Tiang pancang dari bambu menjulang tinggi berjarak sekitar 15 m dari sumur. Sebuah ruas bambu yang panjang dan telah dilubangi menjadi timbanya. Cukup ditarik hingga ruas bambu menyentuh air dan membawanya ke atas. Kemudian dialirkan ke dalam sebuah bambu panjang untuk dikonsumsi airnya. Keberadaan sumur senggot yang semakin langka ini tak kusia-siakan dengan terus mencobanya setiap berkunjung ke Maitan.

Dusun Maitan, salah satu dusun di Desa Borobudur bisa jadi tak pernah terdengar di dunia luar Borobudur. Namun begitu, keeksotikan dusun ini bersama dengan keragaman hayati, sejarah dan tinggalan materinya suatu saat nanti pasti mampu menyihir para pengunjung untuk berkunjung dan berkunjung lagi ke Dusun Maitan. Dusun tua dengan sejarah yang tua.
Sleman, Yogyakarta.
Pagi Buta di kontrakan Nglempong Sari
15 Juni 2009
Wednesday, June 10, 2009
Peta Hijau Mandala Borobudur (Tahap I): Akhirnya Datang Juga

Perjalanan itu baru saja dimulai. Ditandai dengan peluncuran sebuah contoh peta kawasan desa Borobudur dan PT Taman Wisata Candi Borobudur. Hari itu –Senin, 8 Juni 2009- bukanlah akhir dari sebuah pekerjaan ”aneh” yang telah dirintis sejak 2005. Masih ribuan langkah yang harus diukirkan dalam proses pemetaan kawasan mandala Borobudur.

Namun untuk mempunyai rasa sedikit lega tidaklah salah. Lega karena sudah berani memulai dan melakukan. Rasanya otakku terpakai. Tidak seperti otak Indonesia yang dileluconkan temanku sore tadi. Bahwa ketika ada transaksi jual beli otak maka otak bangsa Indonesia akan mendapat posisi tawar yang lebih tinggi. Bukan karena kualitas atau ketajaman berpikirnya, melainkan karena tidal pernah digunakan untuk berpikir. Masih ”perawan” dan ”segar”.

Peluncuran Peta Hijau Mandala Borobudur (Tahap I) dilakukan di area Play Group Bhumi Indria. Sebuah tempat yang membuat perasaan tentram. Mengembalikan memori kanak-kanak seutuhnya. Hijau rerumputan seakan senada dengan nama komunitas ini, peta hijau. Empat buah ikon peta hijau ditanamkan di halaman play group. Menambah suasana riang di tempat ini.

Banner-banner yang dibuat oleh teman-teman planologi –relawan desain peta dan banner- dipamerkan di sebuah pendopo. Peta-peta hijau lainnya juga dipamerkan di pendopo ini. Ada peta hijau Jeron Beteng, Kota Baru, Kota Gede serta ikon peta hijau. Ada pula peta-peta yang dikerjakan oleh teman-teman dari berbagai penjuru dunia.

Peluncuran diisi oleh diskusi singkat dari beberapa orang teman dan aku sendiri. Hanya bercerita tentang proses kegiatan dan harapan ke depan. Pun tak lupa meminta kerelaan para tamu untuk mengisi ruang iklan yang masih kosong. Hanya diskusi sederhana yang dihiasi oleh hujan deras yang juga mengakhiri sesi ini. Kemudian bersiap lagi melanjutkan langkah ke titik selanjutnya.
Memori Tubuh Batanghari
Daratan pasir yang menyembul dari tubuh Batanghari menutup masa surveyku di Jambi. Sore itu bersama teman-teman dan belasan anak-anak kami mencari kepah. Kata ini cukup asing bagiku. Kepah? Ternyata kepah adalah binatang sejenis kerang yang hidup di sungai. Kerang bivalvia ini berbentuk pipih dan besar berwarna hijau kehitaman. Menurut Bang Ahok –teman yang menemani survey-, kepah sangat lezat disantap ketika sudah dibumbui. Cukup direbus saja bersama bumbu-bumbu maka cita rasa dagingnya tak akan terlupakan sampai kemanapun kita pergi.
Tempat yang dikenal warga Muarajambi sebagai pasiran ini biasanya muncul ketika air sangat surut. Pasir Batanghari menjelma menjadi sebuah pulau di tengah Batanghari. Pasirnya seperti pasir pantai yang megandung sedikit unsur besi. Pasir berwarna kehitaman berkilauan diterpa hangat mentari sore hari.
Pasiran menyimpan seribu cerita dari masa ke masa. Tentang pabrik triplek yang masih jaya. Tentang penat yang dilepaskan oleh para pekerja bersama riak kecil Batanghari. Tentang rasa cinta yang menggebu layaknya bobot Batanghari ketika pasang. Tentang indahnya kebersamaan. Tentang anak-anak yang berlarian di atasnya. Tentang perburuan kepah yang memikat hati. Tentang sampan di air yang dangkal. Tentang kapal besar yang kesusahan mencari kedalaman air. Tentang mentari yang tak wajar. Tentang pusaran yang mematikan. Dan tentang yang lain yang tak sempat terceritakan.

Saat ini tidak ada lagi keramaian para pekerja yang berlibur di pasiran. Ketika pabrik triplek tutup maka pasiran seperti ditinggalkan para penggemarnya. Yang tetap setia hanyalah anak-anak pencari kepah yang lezat.
Di atas pasiran tak ada suara lain selain suara kami dan alam. Nyaman sekali di atas sini. Sesekali gelombang kecil datang ke pasiran bila kapal besar yang terseok-seok melintas di sampingnya. Sayangnya aku tak membawa pakaian ganti. Jadilah sore ini aku hanya berperan sebagai penonton. Tak bisa mencari kepah karena harus dilakukan dengan menyelam sampai ke dasar sungai. Untuk dapat sampai ke atas pasiran pun harus naik sampan agar tidak basah kuyup.

Anak-anak sungai tanpa takut berlarian sesukanya. Kemudian terjun dari atas sampan. Menghilang sebentar untuk kemudian muncul lagi bersama seekor kepah. Air tampaknya sudah melebur sampai dalam sanubari mereka. Unik lagi dari mereka adalah permainan ”membetuk pasir”. Kampung dengan latar belakang candi ternyata secara otomatis turut menstimulasi kerja otak mereka. Miniatur pasir yang mereka buat adalah bentuk-bentuk candi bersama pagarnya.

Ada dua buah miniatur kompleks candi. Satu halaman dengan banyak candi. Satu lainnya hanya diisi beberapa candi. Eloknya mereka tak lupa menambahnya unsur pagar yang memang jamak dijumpai di setiap candi yang sudah dipugar di Muarajambi. Sungguh bakat alam yang mengagumkan.

Sampai kapan budaya mencari kepah ini akan berlangsung? Semuanya tergantung kepada seberapa besar masyarakat Muarajambi mampu menyaring unsur luar yang masuk ke dalam sistem mereka. Dari apa yang aku saksikan sore ini akan sangat disayangkan jika kebiasaan-kebiasaan ini hilang tanpa jejak.
Akhirnya senja menutup lembar surveyku di Muarajambi. Cantik sekali. Senja yang sempurna untuk sebuah kisah yang jauh dari sempurna. Sinarnya jatuh di sela-sela aliran kecil di tengah pasiran. Kuning keemasan warnanya. Bergerak-gerak seiring aliran air ke tubuh Batanghari. Kemudian kembali bersatu dengan sang induk. Kembali ke singgasana bawah air untuk muncul kembali esok hari. Jika air sangat surut.

Muarajambi, 29 Mei 2009.
Monday, May 25, 2009
Belajar membaca agar tak nyasar
Tayangan KICK ANDY beberapa waktu lalu memberikan inspirasi untuk saya. Semua bintang tamu yang didatangkan rata-rata berusia di atas 50 tahun. Mereka dengan umur yang tergolong usia senja namun semangat untuk belajar berada di titik yang sangat hijau. Usia boleh tua tapi semangat tetap muda, mungkin slogan itu cocok untuk para bintang tamu malam tadi.
Sekolah lagi untuk membunuh waktu rata-rata menjadi alasan dasar para kakek dan nenek ini melanjutkan pendidikan. “Ikut arisan saya ga suka. Mau ke mall ga punya duit”, begitu kata salah satu bintang tamu malam tadi. Wow, keren, ck ck ck ck. Prinsipnya itu lho yang keren banget.
Yang lebih mengharukan namun mengundang tawa bagi saya adalah para ibu dari Bekasi. Mereka rela mati-matian belajar mengenal aksara hanya untuk sebuah alasan sederhana. “Biar ga nyasar kalo mau pulang ke rumah”, jawab Ibu Manih lugu ketika ditanya mengapa ingin belajar membaca. Pengalaman sering nyasar jika bepergian karena tidak bisa membaca rupanya menjadi alasan kuat Ibu Manih untuk belajar membaca. Hmmm…sebuah alasan sederhana yang nonjok banget jika dilemparkan kepada generasi sekarang. Terlebih untuk generasi beruntung yang ketika melek sudah berada dalam istana namun enggan mencari ilmu.
Sungguh acara yang membuat saya harus intropeksi diri lagi atas apa yang ingin saya capai selama ini. Mereka dengan tantangan usia yang sudah tak muda lagi namun menyimpan kekuatan muda yang tak terhingga. Membuat saya harus kerja ekstra keras lagi untuk membuktikan kemampuan saya.
Sekolah lagi untuk membunuh waktu rata-rata menjadi alasan dasar para kakek dan nenek ini melanjutkan pendidikan. “Ikut arisan saya ga suka. Mau ke mall ga punya duit”, begitu kata salah satu bintang tamu malam tadi. Wow, keren, ck ck ck ck. Prinsipnya itu lho yang keren banget.
Yang lebih mengharukan namun mengundang tawa bagi saya adalah para ibu dari Bekasi. Mereka rela mati-matian belajar mengenal aksara hanya untuk sebuah alasan sederhana. “Biar ga nyasar kalo mau pulang ke rumah”, jawab Ibu Manih lugu ketika ditanya mengapa ingin belajar membaca. Pengalaman sering nyasar jika bepergian karena tidak bisa membaca rupanya menjadi alasan kuat Ibu Manih untuk belajar membaca. Hmmm…sebuah alasan sederhana yang nonjok banget jika dilemparkan kepada generasi sekarang. Terlebih untuk generasi beruntung yang ketika melek sudah berada dalam istana namun enggan mencari ilmu.
Sungguh acara yang membuat saya harus intropeksi diri lagi atas apa yang ingin saya capai selama ini. Mereka dengan tantangan usia yang sudah tak muda lagi namun menyimpan kekuatan muda yang tak terhingga. Membuat saya harus kerja ekstra keras lagi untuk membuktikan kemampuan saya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
