Monday, 6 July 2009
Jadi seperti Apa??
Aku lebih suka seperti ini. Bersendiri bersama malam. Keluar untuk mencari makan. Dan kemudian bertemu penjual nasi goreng dengan gerobaknya. Aku lebih menikmati hal ini. Aroma nasi goreng tanpa daging menguap menggelitik bulu hidung. Mengantarkan rasa pedas yang selalu kurindukan. Inilah aku bersama monolog buku laporan jurnalistik. Mengenai tanah Papua. Ah, betapa ingin aku kesana. Menjadi semacam misionaris menyebarkan panji-panji budaya. Bersama riang anak-anak dan eloknya pantai. Akan sangat berwarna kupikir. Hitam, putih, biru, hijau, cokelat, merah, kuning, oranye, jingga berpendar-pendar dalam ruang otakku. Mengapa menjadi seperti itu yang aku inginkan? Karena aku ingin melebur bersama riak air di pantai yang tenang. Memandangi ikan berpetak umpet diantara karang-karang tanpa harus menyelam. Dan cukup menjadi seperti itu. Kutahu hidupku berbahagia tanpa harus mengeluh mengenai apapun.
Tanya Siapa????
Kita tidak perlu menjelaskan semua dengan rinci bahkan ketika kita mengetahuinya dengan sangat baik. Begitulah aku malam ini. Tertusuk kata-kata dari rerumput tajam di negeri bernama ”ANEH”. Aneh menurutku ketika orang lain seakan lebih tahu tentang tubuh dan jiwa ini. Tiap jengkalnya mereka hapal dengan sangat fasih. Heran, kenapa mereka sebegitunya sangat mengenal tubuh dan jiwa ini dengan baik. Aku pun bukan artis yang harus menggelar jumpa pers perihal kenaikan tingkat dalam hidupku ataupun kehancuran yang sedang aku alami sekarang. Kenapa orang-orang tidak berdiam diri di dalam rumahnya masing-masing. Menata rerupa yang cocok untuk pintu atau jendela rumahnya. Tak usahlah merepotkan warna cat tembok tetangga sebelah. Cukup atur saja bunga-bunga cantik penghias halaman depan.
Kukira sudah jelas semuanya. Orang akan tersenyum, tertawa terpingkal-pingkal sampai keluar air mata ketika orang lain yang bukan dirinya mengalami fase kehancuran, kekalahan, kehilangan. Walaupun kebanyakan yang dipamerkan adalah muka dengan mimik super empatik. Inilah negeri bernama ”ANEH”, tempat dimana aku sibuk menata rumah dan memilih warna untuk ruang tamuku.
Tawa melecehkan akan membahana ketika yang tua belajar pada yang muda. Ketika sang jenius berguru pada si idiot. Semua terasa jungkir balik. Harus sesuai dengan konstruksi yang ditanamkan sedari zaman Adam dulu. Apakah permainan bolak balik logika itu tidak diperbolehkan? Yang pintar selalu merasa menjadi Sang Maha Tahu, yang bodoh enggan keluar dari kurang kegelapan dan keterpurukan. Hmmm...masih menyoalkan pemutarbalikan hukum-hukum logika. Dimana mayor tidak selalu harus menjadi mayor. Ada kalanya mencicipi rasa menjadi minor, pun sebaliknya. Dan aku masih berbenah dan berpikir sendiri tentang perabotan mini untuk ruang keluarga yang hangat.
Nglempongsari, Sariharjo, Sleman, Yogyakarta
4 Juli 2009
9:43 PM
Untuk Sebuah Tragedi: yang membuat aku mencoret nama dari yang kupercaya.
Kukira sudah jelas semuanya. Orang akan tersenyum, tertawa terpingkal-pingkal sampai keluar air mata ketika orang lain yang bukan dirinya mengalami fase kehancuran, kekalahan, kehilangan. Walaupun kebanyakan yang dipamerkan adalah muka dengan mimik super empatik. Inilah negeri bernama ”ANEH”, tempat dimana aku sibuk menata rumah dan memilih warna untuk ruang tamuku.
Tawa melecehkan akan membahana ketika yang tua belajar pada yang muda. Ketika sang jenius berguru pada si idiot. Semua terasa jungkir balik. Harus sesuai dengan konstruksi yang ditanamkan sedari zaman Adam dulu. Apakah permainan bolak balik logika itu tidak diperbolehkan? Yang pintar selalu merasa menjadi Sang Maha Tahu, yang bodoh enggan keluar dari kurang kegelapan dan keterpurukan. Hmmm...masih menyoalkan pemutarbalikan hukum-hukum logika. Dimana mayor tidak selalu harus menjadi mayor. Ada kalanya mencicipi rasa menjadi minor, pun sebaliknya. Dan aku masih berbenah dan berpikir sendiri tentang perabotan mini untuk ruang keluarga yang hangat.
Nglempongsari, Sariharjo, Sleman, Yogyakarta
4 Juli 2009
9:43 PM
Untuk Sebuah Tragedi: yang membuat aku mencoret nama dari yang kupercaya.
Thursday, 2 July 2009
Laweyan Kampung Tua, Surga Batik Solo
Acara survey teman-teman Green Map Solo membawa saya kembali ke Laweyan. Terakhir kali saya mengunjungi Laweyan pada akhir 2008. Sudah banyak yang berubah kecuali warung selat di gerbang masuk utama Laweyan yang masih bercat merah seperti dulu.
Kami tiba di Stasiun Purwosari sekitar pukul 14.30 WIB. Kemudian langsung menuju kantor kelurahan Laweyan bersama Bapak becak yang harus rela becaknya berpenumpang tiga orang. Untungnya postur tubuh saya, Sita dan Nini terbilang slim –menghibur diri sendiri- jadi tidak begitu menyusahkan si bapak yang berpostur extra large.
Berkali-kali main ke Laweyan saya baru tahu kalau kantor kelurahannya berada di sisi selatan pasar Kabangan. Disana sudah berkumpul teman-teman Green Map Solo dan Azzah. Meskipun berangkat lebih awal dari Jogja agar tepat waktu, namun acara survey baru dimulai pukul 16.00 WIB. Konsistensi waktu nampaknya perlu dikritisi lagi.
Saya dan Nini mendapat jatah mendampingi kelompok 3 yang akan memetakan wilayah RW 3 Laweyan. Kami harus melipir jalan raya yang tidak dilengkapi dengan trotoar –walaupun trotoar bukan budaya Indonesia namun kehadirannya dirasa membantu para pejalan kaki sejati-. Jadilah laju kendaraan yang terbilang berkecepatan tinggi mengancam nyawa kami setiap saat. Sungguh bukan kawasan aman bagi pejalan kaki, begitu saya dan Nini sepakat untuk kesan pertama dari kawasan ini. Menurut Nini sebagai kawasan wisata seharusnya Laweyan harus menyediakan sisi keramahan bagi pejalan kaki yang ingin menikmati Laweyan tidak hanya di dalam perkampungannya.
Kawasan Laweyan yang berbatasan dengan jalan raya di sisi utara memang terkesan sangat urban. Salah satu pedagang gerabah yang kami jumpai di perbatasan RW 3 –gubuk yang berfungsi sekaligus sebagai tokonya- yang berada di samping sungai, mengaku bahwa orang tuanya juga pelaku penjualan rumah di Laweyan. Rumah-rumah kuno Laweyan dibeli dan dirubah menjadi toko elektronik ataupun pusat pendidikan properti –salah satu tempat pendidikan yang baru pertama saya lihat di Indonesia-. Pada akhirnya generasi yang hidup masa sekarang harus rela menghuni tempat yang lepas dari konteks Laweyan secara keseluruhan.
Melewati penginapan milik Nina Akbar Tanjung mengingatkan saya pada impian untuk menginap di tempat ini barang satu harmal. Tempatnya ”rumah” sekali menurut saya. Rimbun pepohonan menutupi bagian depan penginapan ini. Ditambah dengan kamar-kamar yang didesain sesuai dengan nuansa rumah –begitu info yang saya dapat dari salah satu blog- yang pastinya akan membuat betah.
Kelompok kami sempat bingung ketika menentukan batas wilayah yang harus dipetakan. Sebagai daerah yang akrab dengan sisi urban maka kami kesulitan untuk bertanya. Yang ditanya pasti akan menjawab, ”waduh ndak tahu e, saya bukan asli sini”. Dan kesulitan itu kami pecahkan dengan mulai memetakan RW 3 dari gerbang ”Kampoeng Batik Laweyan” di dekat warung selat bercat merah.
Si warung selat bercat merah adalah tempat pertama yang kami datangi. Saya belum mendapatkan informasi sejak kapan makanan yang bernama selat ini menjamur di Laweyan. Secara historis bisa dilogika jika selat adalah adopsi kuliner Eropa bernama salad. Kultur historis Solo yang memang terbuka terhadap Eropa menjadi alasan logika saya. Namun, karena kapasitas saya sore hanya sebagai fasilitator maka saya belum bisa bertanya banyak perihal makanan selat ini. Yang jelas warung selat ”Bangjo Jongke” adalah tempat dimana saya mencicipi selat untuk pertama kalinya seumur hidup. Rasanya menurut saya uenak. Pas di lidah dan meninggalkan rasa ingin kembali lagi.
Memasuki kampung Laweyan, kami berhenti sejenak di sebuah bengkel vespa yang mempunyai banyak anak anjing. Di sini sedang berkumpul para pria –sebagian besar bapak-bapak- bersama dengan vespa tercinta masing-masing. Rupanya tempat ini adalah bengkel vespa sekaligus tempat nongkrong sebuah komunitas vespa di Solo. Beberapa buah vespa terparkir acak berlatar belakang sebuah rumah kuno yang tak ditempati. Sungguh sore yang menyenangkan.
Karakter Laweyang menurut saya hampir sama dengan Kota Gede. Hanya saja gang-gang di sini mempunyai lebar yang lebih besar dibandingkan Kota Gede. Papan informasi nama tempat sudah terpasang di tiap perempatan. Semakin memudahkan bagi pengunjung yang ingin berpetualang di Laweyan.
Rumah-rumah kuno juragan batik kami lewati dengan decak kagum. Berharap satu saat nanti bisa memasuki tiap rumah, memotret, mendeskripsikan dan membandingkan. Saya sangat tertarik dengan varian pintu di Laweyan. Nyaris tidak ada yang sama. Dan hal kecil itu pun mampu mencuri hati saya.
Kami menyusuri gang dengan dinding-dinding rumah yang penuh dengan coretan. Coretan tangan menggunakan pensil sehingga tidak terlalu terlihat bila tidak memperhatikan. Menurut teman dari Solo, coretan itu adalah hasil karya satu-satunya orang ”gila” di tempat ini. Isinya pun tidak jelas. Menurut saya dia pasti menghabiskan banyak pensil untuk menorehkan perasaannya pada dinding sepanjang ini.
Coretan pensil itu membawa perjalanan kami berhenti sejenak di rumah Pak Budi. Rumah yang nampaknya baru dipugar itu mempunyai sebatang sawo manila di halaman depannya. Sawo manila serupa sawo kecik yang saya jumpai di dalam keraton Yogyakarta. Namun kulitnya lebih mulus menyerupai buah sawit. Begitu sawo manila mendarat di lidah, sensasinya tak terlupakan –sangat berlebihan, he he he-. Karena harus berbagai saya dan Nini hanya mencicipi dua buah sawo manila yang sangat enak. Saya juga mengantongi empat biji untuk ditanam di Jogja dan berharap dapat tumbuh normal.
Sore yang kian matang mengantar kami di kediaman Pak Alfa, pemilik batik Mahota laweyan. Show room sekaligus toko ini menempati rumah kuno Laweyan yang mempunyai dua lantai. Seperti rumah juragan batik kebayakan –ketika berkunjung ke Lasem juga seperti ini-, rumah Pak Alfa juga mempunyai pagar tinggi. Halaman rumah dapat dikatakan sangat sempit. Dua mobil terparkir di depan rumah dengan vegetasi yang sangat padat ini. Setiap hari ruangan di dalam rumah pastinya menggunakan nyala lampu sebagai penerangan.
Batik-batik berharga ratusan ribu dipajang dengan apik. Lantai rumah Pak Alfa yang pertama mencuri perhatian saya. Lantai khas omah lawas yang menggunakan ubin seperti yang diproduksi oleh Tegel Kunci di Jogja. Dua buah frame foto keluarga dari masa lalu terpajang di atas properti yang juga antik. Hampir seluruh perabotan di ruangan ini adalah perabotan lawas. Hangat sekali berada di rumah ini. Rumah seorang pengusaha batik yang dikatakan Nini sebagai pelopor bangkitnya usaha batik Laweyan setelah cukup lama mati suri. Dari rumah Pak Alfa juga saya mendapatkan informasi tentang kawasan Laweyan. Ternyata Laweyan merupakan kampung tua yang sudah ada sejak 1546 M.
Yang unik dari Laweyan adalah landmark yang coba mereka bangun. Tiap RW mempunyai batas berupa motif batik yang dicapkan pada jalan. Hasilnya adalah semacam lukisan yang berbahan dari batu kali yang cantik.
Waktu telusur yang sangat singkat –lebih kurang satu jam- belum cukup bagi saya untuk menceritakan secara mendalam mengenai Laweyan. Suara adzan akhirnya harus menutup perjalanan singkat saya di sini. Berharap dalam hati semoga saya bisa kembali lagi ke Laweyan dan merekam lebih banyak lagi.
Info:
- Naik becak dari Stasiun Purwosari ke kantor kelurahan Laweyan merogoh kocek Rp 10.000,- dengan kapasitas di dalam becak sebanyak tiga orang penumpang. Syaratnya tiga orang penumpang harus berpostur tubuh slim dan carilah Bapak becak yang berpostur tubuh ekstra large.
- Warung Selat dan Ayam Bakar ”Bangjo Jongke” buka setiap hari kecuali hari minggu dari pukul 10.00 s.d 20.00 WIB. Harga selatnya Rp 6.500,- dan Rp 7.500,- untuk ayam bakarnya.
- Jelajah batik Laweyan merogoh kocek Rp 50.000,-/paket. Fasilitasnya, kita akan diajak menelusuri gang-gang sempit, peninggalan bersejarah, rumah-rumah tua Laweyan, pabrik batik plus melihat proses pembuatan batik. Kita juga bisa ikut praktek membuat baik sambil menikmati makanan khas Laweyan.
- Di Laweyan Batik Training Center yang bertempat di jalan Sidoluhur No.17 Laweyan disediakan short course bagi wisatawan yang ingin belajar batik secara singkat di atas kain 30 x 30 cm. Batik hasil karya sendiri bisa dibawa pulang. Cukup merogoh kocek sebesar Rp 25.000,- saja.
Yogyakarta, 1 Juli 2009
Kami tiba di Stasiun Purwosari sekitar pukul 14.30 WIB. Kemudian langsung menuju kantor kelurahan Laweyan bersama Bapak becak yang harus rela becaknya berpenumpang tiga orang. Untungnya postur tubuh saya, Sita dan Nini terbilang slim –menghibur diri sendiri- jadi tidak begitu menyusahkan si bapak yang berpostur extra large.
Berkali-kali main ke Laweyan saya baru tahu kalau kantor kelurahannya berada di sisi selatan pasar Kabangan. Disana sudah berkumpul teman-teman Green Map Solo dan Azzah. Meskipun berangkat lebih awal dari Jogja agar tepat waktu, namun acara survey baru dimulai pukul 16.00 WIB. Konsistensi waktu nampaknya perlu dikritisi lagi.
Saya dan Nini mendapat jatah mendampingi kelompok 3 yang akan memetakan wilayah RW 3 Laweyan. Kami harus melipir jalan raya yang tidak dilengkapi dengan trotoar –walaupun trotoar bukan budaya Indonesia namun kehadirannya dirasa membantu para pejalan kaki sejati-. Jadilah laju kendaraan yang terbilang berkecepatan tinggi mengancam nyawa kami setiap saat. Sungguh bukan kawasan aman bagi pejalan kaki, begitu saya dan Nini sepakat untuk kesan pertama dari kawasan ini. Menurut Nini sebagai kawasan wisata seharusnya Laweyan harus menyediakan sisi keramahan bagi pejalan kaki yang ingin menikmati Laweyan tidak hanya di dalam perkampungannya.
Kawasan Laweyan yang berbatasan dengan jalan raya di sisi utara memang terkesan sangat urban. Salah satu pedagang gerabah yang kami jumpai di perbatasan RW 3 –gubuk yang berfungsi sekaligus sebagai tokonya- yang berada di samping sungai, mengaku bahwa orang tuanya juga pelaku penjualan rumah di Laweyan. Rumah-rumah kuno Laweyan dibeli dan dirubah menjadi toko elektronik ataupun pusat pendidikan properti –salah satu tempat pendidikan yang baru pertama saya lihat di Indonesia-. Pada akhirnya generasi yang hidup masa sekarang harus rela menghuni tempat yang lepas dari konteks Laweyan secara keseluruhan.
Melewati penginapan milik Nina Akbar Tanjung mengingatkan saya pada impian untuk menginap di tempat ini barang satu harmal. Tempatnya ”rumah” sekali menurut saya. Rimbun pepohonan menutupi bagian depan penginapan ini. Ditambah dengan kamar-kamar yang didesain sesuai dengan nuansa rumah –begitu info yang saya dapat dari salah satu blog- yang pastinya akan membuat betah.
Kelompok kami sempat bingung ketika menentukan batas wilayah yang harus dipetakan. Sebagai daerah yang akrab dengan sisi urban maka kami kesulitan untuk bertanya. Yang ditanya pasti akan menjawab, ”waduh ndak tahu e, saya bukan asli sini”. Dan kesulitan itu kami pecahkan dengan mulai memetakan RW 3 dari gerbang ”Kampoeng Batik Laweyan” di dekat warung selat bercat merah.
Si warung selat bercat merah adalah tempat pertama yang kami datangi. Saya belum mendapatkan informasi sejak kapan makanan yang bernama selat ini menjamur di Laweyan. Secara historis bisa dilogika jika selat adalah adopsi kuliner Eropa bernama salad. Kultur historis Solo yang memang terbuka terhadap Eropa menjadi alasan logika saya. Namun, karena kapasitas saya sore hanya sebagai fasilitator maka saya belum bisa bertanya banyak perihal makanan selat ini. Yang jelas warung selat ”Bangjo Jongke” adalah tempat dimana saya mencicipi selat untuk pertama kalinya seumur hidup. Rasanya menurut saya uenak. Pas di lidah dan meninggalkan rasa ingin kembali lagi.
Memasuki kampung Laweyan, kami berhenti sejenak di sebuah bengkel vespa yang mempunyai banyak anak anjing. Di sini sedang berkumpul para pria –sebagian besar bapak-bapak- bersama dengan vespa tercinta masing-masing. Rupanya tempat ini adalah bengkel vespa sekaligus tempat nongkrong sebuah komunitas vespa di Solo. Beberapa buah vespa terparkir acak berlatar belakang sebuah rumah kuno yang tak ditempati. Sungguh sore yang menyenangkan.
Karakter Laweyang menurut saya hampir sama dengan Kota Gede. Hanya saja gang-gang di sini mempunyai lebar yang lebih besar dibandingkan Kota Gede. Papan informasi nama tempat sudah terpasang di tiap perempatan. Semakin memudahkan bagi pengunjung yang ingin berpetualang di Laweyan.
Rumah-rumah kuno juragan batik kami lewati dengan decak kagum. Berharap satu saat nanti bisa memasuki tiap rumah, memotret, mendeskripsikan dan membandingkan. Saya sangat tertarik dengan varian pintu di Laweyan. Nyaris tidak ada yang sama. Dan hal kecil itu pun mampu mencuri hati saya.
Kami menyusuri gang dengan dinding-dinding rumah yang penuh dengan coretan. Coretan tangan menggunakan pensil sehingga tidak terlalu terlihat bila tidak memperhatikan. Menurut teman dari Solo, coretan itu adalah hasil karya satu-satunya orang ”gila” di tempat ini. Isinya pun tidak jelas. Menurut saya dia pasti menghabiskan banyak pensil untuk menorehkan perasaannya pada dinding sepanjang ini.
Coretan pensil itu membawa perjalanan kami berhenti sejenak di rumah Pak Budi. Rumah yang nampaknya baru dipugar itu mempunyai sebatang sawo manila di halaman depannya. Sawo manila serupa sawo kecik yang saya jumpai di dalam keraton Yogyakarta. Namun kulitnya lebih mulus menyerupai buah sawit. Begitu sawo manila mendarat di lidah, sensasinya tak terlupakan –sangat berlebihan, he he he-. Karena harus berbagai saya dan Nini hanya mencicipi dua buah sawo manila yang sangat enak. Saya juga mengantongi empat biji untuk ditanam di Jogja dan berharap dapat tumbuh normal.
Sore yang kian matang mengantar kami di kediaman Pak Alfa, pemilik batik Mahota laweyan. Show room sekaligus toko ini menempati rumah kuno Laweyan yang mempunyai dua lantai. Seperti rumah juragan batik kebayakan –ketika berkunjung ke Lasem juga seperti ini-, rumah Pak Alfa juga mempunyai pagar tinggi. Halaman rumah dapat dikatakan sangat sempit. Dua mobil terparkir di depan rumah dengan vegetasi yang sangat padat ini. Setiap hari ruangan di dalam rumah pastinya menggunakan nyala lampu sebagai penerangan.
Batik-batik berharga ratusan ribu dipajang dengan apik. Lantai rumah Pak Alfa yang pertama mencuri perhatian saya. Lantai khas omah lawas yang menggunakan ubin seperti yang diproduksi oleh Tegel Kunci di Jogja. Dua buah frame foto keluarga dari masa lalu terpajang di atas properti yang juga antik. Hampir seluruh perabotan di ruangan ini adalah perabotan lawas. Hangat sekali berada di rumah ini. Rumah seorang pengusaha batik yang dikatakan Nini sebagai pelopor bangkitnya usaha batik Laweyan setelah cukup lama mati suri. Dari rumah Pak Alfa juga saya mendapatkan informasi tentang kawasan Laweyan. Ternyata Laweyan merupakan kampung tua yang sudah ada sejak 1546 M.
Yang unik dari Laweyan adalah landmark yang coba mereka bangun. Tiap RW mempunyai batas berupa motif batik yang dicapkan pada jalan. Hasilnya adalah semacam lukisan yang berbahan dari batu kali yang cantik.
Waktu telusur yang sangat singkat –lebih kurang satu jam- belum cukup bagi saya untuk menceritakan secara mendalam mengenai Laweyan. Suara adzan akhirnya harus menutup perjalanan singkat saya di sini. Berharap dalam hati semoga saya bisa kembali lagi ke Laweyan dan merekam lebih banyak lagi.
Info:
- Naik becak dari Stasiun Purwosari ke kantor kelurahan Laweyan merogoh kocek Rp 10.000,- dengan kapasitas di dalam becak sebanyak tiga orang penumpang. Syaratnya tiga orang penumpang harus berpostur tubuh slim dan carilah Bapak becak yang berpostur tubuh ekstra large.
- Warung Selat dan Ayam Bakar ”Bangjo Jongke” buka setiap hari kecuali hari minggu dari pukul 10.00 s.d 20.00 WIB. Harga selatnya Rp 6.500,- dan Rp 7.500,- untuk ayam bakarnya.
- Jelajah batik Laweyan merogoh kocek Rp 50.000,-/paket. Fasilitasnya, kita akan diajak menelusuri gang-gang sempit, peninggalan bersejarah, rumah-rumah tua Laweyan, pabrik batik plus melihat proses pembuatan batik. Kita juga bisa ikut praktek membuat baik sambil menikmati makanan khas Laweyan.
- Di Laweyan Batik Training Center yang bertempat di jalan Sidoluhur No.17 Laweyan disediakan short course bagi wisatawan yang ingin belajar batik secara singkat di atas kain 30 x 30 cm. Batik hasil karya sendiri bisa dibawa pulang. Cukup merogoh kocek sebesar Rp 25.000,- saja.
Yogyakarta, 1 Juli 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
