Sunday, 26 December 2010

Soal Paroki di Senen

Suatu sore di Stasiun Senen, saat saya dan Nini mengisi amunisi sebelum perjalanan panjang dan melelahkan menuju Jogja:

Saya:.......(Ngobrol soal permukiman).
Nini:.......(Juga ngobrol soal permukiman).
Tiba-tiba datang seorang laki-laki, berkacamata, memesan makanan, berdoa secara Katolik, dan makan. Di saat obrolan saya dan Nini sedang seru-serunya tiba-tiba si Mas kacamata itu bertanya dengan sangat polos kepada kami:

Mas kacamata: Mbak, paroki mana ya?
Saya :??????
Nini :??????
Mas kacamata:..(senyum-senyum menunggu jawaban).
Saya : Paroki mana ya? Paroki mana Ni?
Nini :...????
Mas kacamata: Saya Pugeran.
Saya :...oooo..Pugeran, ya ya ya.
Nini :....????


Sebenarnya saya lupa persisnya respon Nini seperti apa. Namun, sejak pertanyaan tak terduga itu, kami saling memberi kode untuk segera meninggalkan warteg secepat mungkin.
Saya merasa cukup, bahkan sangat bodoh karena menanggapi pertanyaan Mas kacamata dengan seksama. Harusnya saya pasang tampang bego saja dengan mengatakan, "Paroki? Paroki itu apa ya Mas?". Apakah muka saya begitu Katolik sehingga si Mas dengan percaya diri tingkat tinggi langsung menembak pertanyaan seperti itu kepada saya -dan Nini tentunya-. Apakah semua orang yang mudik sore itu di Stasiun Senen adalah orang-orang yang memang pulang kampung untuk pergi ke gereja bersama keluarga tercinta? Lucu sekali, si Mas kacamata yang mengaku bekerja di bidang Teknologi Informasi itu masih bisa dengan polosnya melontarkan pertanyaan sensitif soal agama kepada lawan bicara yang belum dikenal. Dan sialnya, saya belum begitu cerdas untuk menangkis serangan tak terduga dari si Mas kacamata.





23 Desember 2010

Wednesday, 15 December 2010

Sehari di Banten Lama


Tawaran melancong gratis ke Banten Lama bersama Sahabat Museum pada Minggu (12/12/2010) tentu saja tidak saya lewatkan. Sebagai akibatnya, saya bersama beberapa orang teman sekantor harus bangun sangat awal karena plesiran ini. Kami pun harus melewati hujan badai untuk menuju ke parkir timur Senayan tempat rombongan berkumpul. Sekitar pukul 07.30 WIB kami berangkat menuju Banten Lama. Perjalanan menembus masa 400 tahun yang lalu itu membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam saja.

Banten Lama masih sama seperti satu tahun yang lalu, ketika pertama kali saya berkenalan dengan daerah ini. Jalanan sempit dan berlubang, genangan air, rumah-rumah semi permanen, sungai dengan air yang cokelat, sawah, dan sampah menjadi pemandangan yang sama. Namun, justru di dalam lingkungan yang seperti itulah saksi bisu kompleksitas kehidupan di daerah ini terungkap. Keramaian Banten Lama akan kami rasakan melalui beberapa tinggalan seperti keraton, pecinan, benteng, dan masjid.

Titik awal kunjungan kami adalah Keraton Kaibon. Keraton ini merupakan istana yang dibangun untuk ibunda sultan. Keraton yang berada di luar tembok kota ini dibangun saat Kesultanan Banten sedang dalam masa sulit. Terlintas di benak saya, di masa-masa sulit saja masih mampu membangun keraton seperti ini, bagaimana jika dalam keadaan jaya?

Di dalam keraton terdapat bangunan masjid yang masih tersisa dinding dan mihrabnya, halaman, serta sisa pondasi bangunan. Tiap halaman dipisahkan oleh dinding bata yang dihubungkan dengan gapura tipe paduraksa. Di sisi barat dijumpai pagar bata sepanjang lebih kurang 100 m yang dilengkapi dengan gapura tipe bentar. Penggunaan unsur lengkung dijumpai pada tembok sisi utara. Jika dilihat dari atas, keraton tampak seperti mengambang karena dikelilingi oleh kanal dan sungai. Jika keraton ini masih utuh dan tidak dihancurkan oleh Daendels pastilah akan anggun sekali. Semua fasilitas tersedia di dalamnya, meskipun seluruh kebutuhan di dalam keraton harus dipasok dari luar.

Selanjutnya kami bergegas menuju Benteng Speelwijk. Dalam perjalanan kami melihat suasana Pelabuhan Karang Antu masa kini. Dahulu tempat ini –meskipun bertaraf pelabuhan lokal- merupakan salah satu titik penting yang kerap disinggahi pedagang asing untuk mendapatkan kebutuhan air bersih. Sayang sekali saat ini kondisinya berubah 180 derajat. Karang Antu hanya tinggal toponim saja. Kapal-kapal yang bersandar di sini ukurannya pun menyusut banyak. Saya masih ingat betul, lukisan yang menggambarkan suasana pasar Karang Antu begitu populer saat kuliah Arkeologi Islam. Di lukisan itu digambarkan komoditas perdagangan dan aktivitas yang terjadi di Pasar Karang Antu. Rasanya yang saya lihat sekarang hanya lebar sungai yang kian berkurang dan permukiman yang semakin padat.

Tiba di Benteng Speelwijk, rombongan langsung berkumpul di dekat bastion timurlaut. Saya memilih untuk berkeliling sendiri. Sekalian nostalgia dengan benteng yang dibidani oleh Hendrik Lucasz Cardeel pada 1864.

Benteng berdenah persegi ini mempunyai empat bastion di keempat sisinya dengan bentuk yang tidak sama. Hanya bastion di sisi tenggara yang bentuknya menyerupai mata panah, selebihnya terlihat tidak beraturan. Terdapat tiga kanal buatan di sisi timur, utara, dan selatan. Sementara kanal sisi barat memanfaatkan kali kecil yang langsung bermuara ke laut.

Benteng yang mampu menampung sekitar 440 serdadu Belanda, 59 kelasi, dan 668 mardijkers ini ternyata mempunyai sebuah ruang rekreasi. Di ruang ini pernah berlangsung pesta-pesta, penyambutan tamu agung, pentas sandiwara, pergelaran musik, hingga perundingan-perundingan penting. Dilaporkan bahwa pembangunan ruang itu menghabiskan dana 1.000 gulden. Namun begitu, dana sebesar itu ternyata tidak menjamin kualitas bangunan. Bangunan yang dibangun pada 1694 itu ternyata mengalami penurunan kualitas pada 1708. Karena alasan kesehatan dan pembunuhan Komandan Philip Pieter du Puy, Speelwijk pun harus ditutup pada 1808 atas perintah Daendels.

Di sisi baratlaut benteng terdapat Vihara Avalokitesvara. Saya mampir ke vihara ini hanya sebentar saja. Tiba-tiba tidak ada keinginan untuk membuka sepatu dan mencari tahu. Mungkin penyebabnya adalah bangunan inti vihara telah dihancurkan dan diganti dengan struktur beton. Mau protes tapi tidak berhak sama sekali. Mau cari tahu tentang pembongkaran vihara lama tapi kok sepertinya si narasumber akan menjawab di luar konteks. Akhirnya saya putuskan untuk mampir sekedarnya saja di vihara yang “konon” kabarnya masuk dalam jajaran vihara tertua di Jawa.

Titik berikutnya adalah Benteng Surosowan dan sekitarnya. Namun, dalam perjalanan kami sempat disuguhi rumah Cina yang juga dikenal sebagai Rumah Benjol –karena pemiliknya bernama Pak Benjol- dan Menara Cina. Sayang sekali kami hanya melihat dari atas bis. Padahal saya sangat berharap bisa turun dan keliling sebentar. Pemandu kami menjelaskan bahwa rumah Cina itu belum mengalami perubahan signifikan karena Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Banten masih menginginkan untuk menjaga keaslian bangunan. Tapi menurut saya sebaiknya ada langkah-langkah preservasi agar bangunan tidak terbengkalai seperti sekarang. Sama saja bohong jika keaslian terjaga namun di sisi lain kondisi fisik tergerus perlahan karena tidak adanya penanganan lebih lanjut. Untuk Menara Cina, pemandu kami mengatakan bahwa dahulunya tempat ini adalah masjid. Rasanya betul-betul tidak puas karena tidak bersentuhan secara langsung dengan si obyek.

Sampai di Benteng Surosowan, rombongan diajak berkeliling menikmati koleksi Museum Banten Lama. Saya tidak tertarik dan memilih menunggu di luar. Mungkin karena saya telah mendoktrin diri sendiri bahwa tatanan pameran di dalam museum tidak pernah dirubah sejak museum ini dibuka untuk umum. Jadi, masuk museum saat itu adalah sebuah perjalanan membosankan. Toh, tahun kemarin saya sudah cukup “puas” berkeliling museum ini.

Sebenarnya yang paling saya tunggu adalah kunjungan ke Masjid Banten Lama. Masjid ini dibangun oleh Maulana Yusuf yang merupakan putra sekaligus pengganti Hasanudin. Mengenai tahun dibangun, saya pun masih sedikit bingung. Ada yang berpendapat bahwa masjid dibangun saat awal pemerintahan Hasanudin, namun ada juga yang memunculkan akhir abad ke XVII sebagai tahun yang paling masuk akal. Entahlah, tampaknya saya tidak ingin terjebak dalam tahun-tahun yang seringkali membingungkan.

Masjid ini mempunyai atap tumpang lima –penanda masjid kerajaan- dengan sebuah menara cantik di depannya. Di sisi selatan terdapat bangunan tiamah yang merupakan tempat bermusyawarah atau berdiskusi perihal keagamaan. Di sisi utara terdapat makam-makam tua yang menjadi salah satu titik ziarah di kawasan masjid ini. Cukup saya sayangkan bahwa masih banyak dijumpai kaipang* di komplek masjid ini. Selalu menjadi pertanyaan saya mengapa di situs-situs Islam yang menjadi tempat ziarah selalu saja ditemukan fenomena kaipang –kecuali komplek Masjid Kudus-.

Setelah cukup lama di Masjid Banten Lama kami bergerak menuju Benteng Surosowan. Benteng ini merupakan tembok istana yang juga dikenal dengan sebutan “The Diamant”. Letaknya tepat di sisi tenggara masjid. Benteng berdenah persegi panjang ini dilengkapi dengan bastion berbentuk mata panah di keempat sisinya. Pintu gerbang berbentuk lengkung berada di sisi timur, sementara akses masuk ke benteng kini dilalui lewat pintu di sisi selatan.

Di dalam benteng terdapat sisa-sisa pondasi Keraton Surosowan. Kemungkinan besar istana dibangun dari kayu sehingga sulit ditemukan lagi sisanya saat ini. Meskipun demikian saya termasuk orang yang terkagum-kagum dengan istana ini –meskipun hanya berupa sisa- karena konsep arsitekturnya yang sudah sangat maju untuk masa itu. Pada bangunan-bangunan inti, keraton ini sudah menggunakan lantai yang terbuat dari terakota. Terdapat pula jalan-jalan setapak penghubung antar bangunan yang juga terbuat dari terakota. Yang paling mengagumkan menurut saya adalah sistem drainase di dalam keraton. Setiap bangunan dilengkapi dengan selokan/parit kecil yang saling terhubung satu dengan yang lain. Kolam-kolam juga saling terhubung dan dilengkapi dengan bak kontrol. Air didatangkan dari Tasik Ardi melalui pipa-pipa terakota yang kemudian masuk ke dalam kolam-kolam pemandian. Wow, memang cukup rumit ketika melihat langsung di lapangan betapa jaringan air itu memang benar-benar dipikirkan matang oleh sang arsitek. Seorang teman yang pernah bekerja di situs ini memberitahu saya bahwa beberapa bangunan bahkan mempunyai kamar mandi pribadi yang cukup besar. Saya mencoba membangun kembali keraton ini dalam batas khayal. Keraton kayu dengan pondasi bata berlantai ubin terakota. Gemericik air menjadi musik sehari-hari bersama bunyi-bunyian dari bengkel perundagian. Belum sampai jauh, lamunan saya buyar karena Daendels menitahkan untuk menghancurkan keraton ini akibat perseteruannya dengan sultan pada 1808. Penghancuran itu setidaknya terjadi hingga 1832. Material hasil penghancuran digunakan kembali oleh Belanda untuk membangun bangunan baru di tempat yang baru pula.

Perjalanan kami ditutup di Keraton Surosowan, bersama dengan para kuli yang memindahkan material keraton untuk dibawa ke tempat baru. Satu hari begitu banyak ingatan yang dibawa ke masa lampau. Tinggalan-tinggalan fisik itu, meskipun sebagian besar sudah berubah fungsi –bahkan menjadi dead monument- tapi masih mampu memberikan sesuatu kepada kita yang hidup ini. Lalu kita, selaku yang masih hidup, mampu memberi apa kepada mereka? Cukup panjang, cukup melelahkan, dengan semua kelebihan dan kekurangan perjalanan bersama Sahabat Museum ini saya diajak untuk merekonstruksi ulang pikiran sendiri. Sambil tetap berharap bahwa suatu saat nanti lapisan-lapisan sejarah Banten Lama akan saya datangi satu per satu, lebih dalam.

*Kaipang adalah sebutan yang sering saya gunakan bersama teman-teman di kampus dulu untuk menyebut kelompok pengemis yang meminta dengan paksa (dengan berbagai cara) kepada pengunjung di situs (kebanyakan situs Islam). Keberadaan kaipang ini tentunya sangat mengganggu dan mempengaruhi citra masyarakat setempat. Oknum-oknum yang ikut melakukan pemalakan atas nama parkir serta jasa pengarah pemutaran bis juga kami kategorikan sebagai kaipang.

**Foto-foto: http://picasaweb.google.com/minoritaskiri/BelandaDiBanten#

Tuesday, 14 December 2010

Sawo Serang VS Sawo Lampung


Sawo, buah coklat yang rasanya manis dengan tekstur berpasir. Memang tidak semua sawo berwarna coklat. Sawo kecik dan sawo manila mempunyai warna yang tidak coklat, lebih ke ungu. Ukuran sawo pun bermacam-macam, tergantung daerah tempat hidupnya. Sawo Serang berukuran lebih besar dibandingkan dengan sawo Lampung.

Ada hal yang menarik saat saya mengetahui perbedaan antara sawo Serang dan Lampung. Menurut pengakuan si penjual, sawo Serang berukuran lebih besar dengan rasa yang lebih manis karena pohonnya bukan produk pertanian massal. Pohon sawo Serang adalah pohon kebun yang tidak menggunakan pupuk anorganik di dalam pertumbuhannya. Sementara itu, sawo Lampung dihasilkan dari pohon-pohon di sebuah perkebunan yang kenyang dengan asupan pupuk kimia. Ya, penjelasan itu cukup membuat teman saya memilih untuk membeli sawo Serang yang sekilonya dihargai Rp 10.000, -.

Cerita si penjual sawo Serang tentang barang dagangannya mungkin salah satu strategi marketing saja. Namun , si penjual itu mampu menarik ingatan saya ke masa beberapa bulan yang lalu. Ketika saya bersama seorang teman sedang bercakap-cakap model kerupuk tentang sistem pertanian. Kami tidak membahas mengenai panjangnya rantai perjalanan barang dari petani sampai ke konsumen. Tidak pula kami singgung tentang jenis-jenis petani yang membuat miris hati. Intinya kami hanya berkhayal, cukup membayangkan.

Kami membangun sebuah daerah yang mandiri secara pangan. Artinya, daerah tersebut mengurangi jenis bahan pangan yang harus didatangkan dari luar. Pokoknya pemberdayaan petani dan lahan setempat lah. Kami tidak akan mengizinkan wortel impor itu masuk ke dalam gerobak-gerobak penjual sayur. Juga dengan apel suntik dari Cina, tidak akan kami beri ruang di lapak pedagang buah. Jika pun daerah kami tidak mampu memproduksi bahan pangan tertentu, setidaknya bahan itu haruslah didatangkan dari daerah tetangga terdekat, yang masih dalam lingkup NKRI. Intinya kami pun bisa mengurangi efek dari transportasi yang terlalu panjang.

Kami juga membayangkan sebuah sistem pertanian yang adil. Petani bukan lagi menjadi obyek penderita, namun berdaya dan berkuasa atas haknya. Tidak ada lagi rantai yang sangat panjang yang membuat petani kehilangan banyak hak. Mereka harus benar-benar terlibat dalam penentuan harga. Cukong-cukong yang pandai memanfaatkan kesempatan di setiap kesempitan nafas petani akan kami gusur. Begitu pula dengan para lintah darat yang rajin membujuk dengan segala iming-iming menggiurkan, akan kami sikat.

Kami ini lagaknya sudah seperti Kabayan tidur di atas hammock saja, membayangkan kambing yang mampu beranak pinak secara cepat. Andainya dunia pertanian seperti itu, mungkin tak perlu lagi impor beras ataupun gula itu dilakukan. Malu juga rasanya harus mengimpor gula, padahal dulu sekali produksi gula tanah air manisnya mampu membangun negeri kincir angin nun jauh disana.

Berarti tak ada salahnya si penjual sawo Serang itu mati-matian mempromosikan barang dagangannya. Saya pun pada akhirnya mendukung keputusan teman saya untuk memilih sawo Serang. Meskipun daerah tetangga, namun Serang mampu menghasilkan sawo dengan kualitas super. Jadi tak perlu lah mendatangkan bermacam sawo dari Lampung, Sawo Lampung, cukup pasarkan saja di Lampung. Saya pikir akan lebih adil dan menghemat transportasi.

Wednesday, 1 December 2010

El Paso Museum of History

Tujuh halaman artikel Maceo dan Jessica tidak sengaja saya baca malam itu, saat menemani seorang teman mengerjakan tugas kuliahnya. Artikel itu menceritakan tentang sebuah museum di perbatasan El Paso, Texas dengan Ciudad Juarez, Chihuahua. Ketidaksengajaan yang berlanjut menjadi sebuah ketertarikan. Maka, posisi pun menjadi terbalik. Saya menjadi asik menelaah artikel Maceo dan Jessica, sementara teman saya harus menyerah pada kasur karena jam tidur yang baru tiga jam selama seharian ini.

El Paso adalah sebuah kota kecil di pinggiran Texas yang berbatasan langsung dengan Ciudad Juarez, Chihuahua di Mexico. Kota itu mempunyai sebuah museum bernama El Paso Museum of History. El Paso Museum of History ini ternyata memiliki misi mulia di dalam pergerakannya. Museum hadir untuk memberikan pendidikan bagi komunitas dan pengunjung museum. Mereka mempromosikan pemahaman dan nilai penting kekayaan multikultural dan sejarah multinasional dari kedua daerah di perbatasan yang dikenal sebagai The Pass of the North. Salah satunya melalui pameran permanen bertajuk The Changing Pass yang merupakan representasi kronologis sejarah di wilayah perbatasan baratdaya ini. Yang patut menjadi sorotan adalah komitmen dari museum untuk memberikan interpretasi kepada masyarakat secara inklusif dan sarat dengan nilai-nilai budaya. Gambaran awal saya yang belum pernah berkunjung ke sana, pastilah museum ini akan menggambarkan El Paso secara utuh dengan semua keragaman yang ada.


Merunut sejarahnya, El Paso Museum of History pada awalnya (1974) adalah sebuah museum yang didanai sepenuhnya oleh masyarakat dan dikenal sebagai Cavalry Museum. Karena letaknya yang sulit dijangkau maka pada tahun 2000 masyarakat El Paso berinisiatif untuk memindahkan museum ke tengah kota. Pemindahan itu ternyata menyebabkan sebagian besar material pameran harus dibuat baru. Baru pada Juni 2007 museum resmi dibuka untuk umum.

Drama perpindahan satu obyek ke tempat yang baru memang menimbulkan efek samping. Hal itu juga dialami oleh El Paso Museum of History. Pihak museum kemudian harus memikirkan perubahan di dalam tubuh direktur eksekutif, pemilihan desain untuk tampilan di museum baru, penyeleksian perusahaan profesional yang akan mengurusi pameran, pemindahan lebih dari 8.000 obyek ke dalam museum baru, perekrutan tenaga kerja dan pemikiran ulang mengenai peran seluruh staf museum selama dan sesudah pemindahan museum. Ternyata sebegitu ribetnya dampak yang ditimbulkan dari pemindahan museum ini.

Di titik ini, Maceo dan Jessica mampu memberikan pengetahuan baru bagi saya yang ternyata awam sekali dengan dunia permuseuman. Mereka mengajak saya untuk melihat museum tidak hanya dari koleksi yang dipamerkan saja, namun lebih dalam dari itu mengenai simbol. Pyuh, simbol adalah satu hal dari sekian banyak hal yang sulit saya jangkau sewaktu kuliah dulu. Arkeologi simbol menjadi mata kuliah pilihan, yang entah kenapa saya ambil juga. Tapi dari hal-hal rumit njlimet itu lama kelamaan saya betah juga berada di dalamnya. Hari ini mengerti, mungkin besok tidak paham sama sekali. Hari ini tidak paham, pertemuan selanjutnya menjadi sangat tidak paham lagi. Itulah simbol, rumit tapi menarik.

Maceo dan Jessica sekali lagi memberikan warna baru dalam pemahaman saya mengenai museum. Selama ini saya jarang bersentuhan dengan tulisan-tulisan yang membedah isi museum secara keseluruhan. Tema tentang museum menjadi sangat monoton karena yang dibahas selalu hal yang sama. Manajemen koleksi, manajemen pengunjung, manajemen sumber daya manusia, ketiga manajemen yang dikupas permukaan saja sehingga sangat membosankan bagi saya.

Di tangan Maceo dan Jessica, El Paso Museum of History mampu bercerita banyak tentang El Paso, tentang sejarah budaya masyarakatnya, dan tentang diskriminasi yang disamarkan. Mereka dengan piawai melakukan kritik di sana sini terhadap kebijakan dan komitmen yang katanya ingin menampilkan sejarah kawasan tersebut secara inklusif dan sarat nilai-nilai budaya itu.

The Changing Pass yang digadang-gadang sebagai produk pameran permanen museum ini ternyata mengandung bias. Bias itu diceritakan oleh Maceo dan Jessica secara perlahan-lahan. Mereka tidak menelusur lebih jauh mengenai penyebab kesalahan selama tahap perencanaan dan pengambilan keputusan yang menghasilkan The Changing Pass ini. Keduanya lebih berusaha untuk meluruskan kesalahan persepsi yang diakibatkan oleh tampilan-tampilan/display yang ambigu.

Museum sejarah semestinya mampu menceritakan dan menggambarkan kondisi suatu kawasan. Namun, ternyata ada saja kisah-kisah yang dihilangkan di dalamnya. Penyebabnya bisa jadi adalah budaya yang berkembang di dalam masyarakat kawasan tersebut. Seperti di El Paso yang memiliki skandal sejarah yang panjang mengenai pemujaan terhadap penjajah.

Maceo dan Jessica mulai mengajak saya untuk bermain simbol. Bagaimana bisa masyarakat sebuah kawasan begitu memuja orang-orang yang pernah menduduki wilayah mereka? Saya pikir itu hanya akan terjadi dengan masyarakat pendatang yang kemudian mendiami kawasan tersebut dalam waktu lama. Selanjutnya adalah kemungkinan bahwa fakta sejarah yang dihilangkan selama proses transfer informasi di dalam aktivitas pendidikan. Yang kedua ini mungkin yang terjadi dengan masyarakat El Paso.

Patung perunggu Don Juan de Onate di atas kuda yang konon kabarnya merupakan patung perunggu penunggang kuda terbesar di dunia (36 kaki) adalah buktinya. Bukti dari adanya sejarah yang dihilangkan di dalam kehidupan masyarakat El Paso. Don Juan de Onate adalah bagian dari selusin patung yang disebut sebagai “The XII Travelers Memorial of the Southwest.” Patung senilai dua juta dolar itu diperoleh dari dana pribadi dan masyarakat. Wow, keren bukan?

Masyarakat tidak pernah tahu bahwa Onate adalah tokoh kontroversial karena kebijakannya. Pada 1599, Onate menghukum dengan kejam masyarakat asli suku Indian, hanya karena mereka tidak patuh terhadap perintahnya. Atas kebijakannya itu, Onate dibuang dari New Mexico pada 1614. Kedua fakta itu nyaris hilang dalam peredaran sejarah El Paso.

Berangkat dari latar sejarah betapa maniaknya masyarakat El Paso kepada para kolonialis dan betapa mereka mempunyai pandangan yang Eurosentris, Maceo dan Jessica mengajak saya untuk masuk ke dalam El Paso Museum of History. Di dalamnya saya semakin diajak berpikir mengenai “salah”nya The Changing Pass ini. Beberapa contoh tampilan/display yang diajukan cukup membuat saya mengerti mengapa konsep itu sangat bias.

Tampilan utama di dalam The Changing Pass berupa sebuah misi replika fasad. Sebelumnya saya sempat mencari tahu lewat “Mbah” Google, dan memang, di dalam museum kita akan lebih banyak menjumpai fasad-fasad bangunan yang tingginya hampir sama dengan atap bangunan. Storyline tidak menyediakan informasi mengenai perlawanan masyarakat lokal dan kehidupan kontemporer mereka. Mirisnya, fitur interaktif malah mendorong pengunjung untuk membangun fasad-fasad itu dalam skala yang lebih kecil menggunakan balok-balok mainan. Fasilitas interaktif tersebut dapat disediakan oleh museum karena harganya relatif murah, dibuat oleh masyarakat lokal, dan buruh Meksiko-yang merasa terancam jika tidak membantu proses pembuatan-. Para pengunjung yang larut dalam pembuatan fasad itu tidak pernah mengetahui bahwa di balik semua itu ada sejarah getir yang sangat traumatis bagi masyarakat lokal. Balok-balok kayu mainan itu mengalihkan perhatian pengunjung dari perbudakan yang dilakukan orang-orang Spanyol atas nama “kristenisasi”.

Selanjutnya yang lebih mengenaskan adalah penempatan artefak-artefak dari masyarakat lokal. Mereka ditempatkan dekat dengan binatang-binatang yang punah. Maceo dan Jessica menamakan hal itu sebagai garis tegas namun dibuat terselubung yang menyatakan bahwa suku asli Amerika adalah sesuatu yang berasal dari masa lalu yang sangat jauh, “punah”. Museum bahkan tidak memberikan petunjuk bahwa suku asli Amerika dan keturunannya adalah bagian yang dinamis dalam sejarah dan mereka tetap bertahan dalam “gelap”nya masa penjajahan dan yang terpenting adalah mereka juga bagian dari masyarakat masa kini.

Ketimpangan lain dari tampilan The Changing Pass adalah mengenai posisi wanita. Wanita hanya ditonjolkan peran domestiknya saja. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya peralatan seperti setrika, tempat pencucian piring, dan pakaian yang ditampilkan. Aktifitas-aktifitas dan kontribusi wanita dalam lini kehidupan yang lain hampir tidak ditampakkan. Hal itu dengan jeli ditangkap Maceo dan Jessica lewat penempatan foto yang tidak proporsional. Juana Maria Ascareta, seorang wanita dari keluarga berkuasa yang dikenal karena keramahtamahannya, mendapatkan tempat di bawah sebuah foto pria dalam ukuran besar. Sementara itu di sisi samping, foto Ascareta tampak kerdil didampingi dua bingkai foto pria yang lebih besar. Jelas upaya penggambaran sejarah yang tidak berimbang. Padahal semasa hidupnya, Ascareta menjadi tokoh penting di balik kesuksesan suaminya, yang imigran Eropa-Amerika itu.

Belum cukup dengan diskriminasi terhadap penduduk asli dan wanita, Afrika-Amerika pun digambarkan dengan sangat buruk. Seorang pengunjung museum menyatakan bahwa dia tidak dapat menemukan informasi apapun tentang Afrika-Amerika, namun terlalu gengsi untuk bertanya kepada petugas museum. Padahal, banyak sejarah yang ditorehkan oleh orang-orang Afrika-Amerika di sini. Sebut saja Henry Flipper, orang Afrika-Amerika pertama yang lulus dari West Point. Dia menulis dengan brilian mengenai sejarah Southwest dan hukum-hukum pertambangan di Amerika Serikat dan Meksiko. Bahkan ketika masuk dalam storyline museum pun, Flipper mendapatkan tempat yang tersembunyi, sulit dijangkau.

Begitulah, Maceo dan Jessica mengisahkan kritik mereka lewat artikel yang mampu “membangunkan” saya dari sikap pasif. Dari penempatan display saja sudah banyak hal yang dapat diangkat untuk dijadikan suatu bahan pembicaraan yang menarik. Masalahnya adalah bagaimana dengan situasi museum di Indonesia? Sempat saya bertanya kepada teman yang sudah lebih dulu menuju kasur tadi, bagaimana dengan kritik-kritik museum di Indonesia yang kesannya tak beranjak dari masalah yang sama. Masih terpaku pada koleksi tanpa sempat memikirikan storyline yang menurut pemahaman saya adalah “nyawa” dari sebuah museum. Sambil beringsut turun, teman saya menjawab, “masih terlauh jauh Nu, jauh banget jika kita harus ngomongin cerita di balik keputusan penetapan desain tampilan. Boro-boro kita mau kritik itu storyline, lha wong selama ini aja makna dari storyline masih jauh dari kata ngerti apalagi paham.”


Sumber bacaan:
1. Dailey, Maceo Crenshaw & Jessica Suzette Santascoy. 2008. “Representation and Reality in Museum Building: A Case Study of the El Paso Museum of History” dalam The International Journal of The Inclusive Museum, Volume I, Number 4, 2008. Texas.
2. http://www.newmexicohistory.org/filedetails.php?fileID=312
3. http://en.wikipedia.org/wiki/Juan_de_O%C3%B1ate

Sumber citra:
www.earth.google.com, pencitraan 2008.


Jakarta, 28 November 2010
23:16 WIB