Memori Tubuh Batanghari


Daratan pasir yang menyembul dari tubuh Batanghari menutup masa surveyku di Jambi. Sore itu bersama teman-teman dan belasan anak-anak kami mencari kepah. Kata ini cukup asing bagiku. Kepah? Ternyata kepah adalah binatang sejenis kerang yang hidup di sungai. Kerang bivalvia ini berbentuk pipih dan besar berwarna hijau kehitaman. Menurut Bang Ahok –teman yang menemani survey-, kepah sangat lezat disantap ketika sudah dibumbui. Cukup direbus saja bersama bumbu-bumbu maka cita rasa dagingnya tak akan terlupakan sampai kemanapun kita pergi.
Tempat yang dikenal warga Muarajambi sebagai pasiran ini biasanya muncul ketika air sangat surut. Pasir Batanghari menjelma menjadi sebuah pulau di tengah Batanghari. Pasirnya seperti pasir pantai yang megandung sedikit unsur besi. Pasir berwarna kehitaman berkilauan diterpa hangat mentari sore hari.


Pasiran menyimpan seribu cerita dari masa ke masa. Tentang pabrik triplek yang masih jaya. Tentang penat yang dilepaskan oleh para pekerja bersama riak kecil Batanghari. Tentang rasa cinta yang menggebu layaknya bobot Batanghari ketika pasang. Tentang indahnya kebersamaan. Tentang anak-anak yang berlarian di atasnya. Tentang perburuan kepah yang memikat hati. Tentang sampan di air yang dangkal. Tentang kapal besar yang kesusahan mencari kedalaman air. Tentang mentari yang tak wajar. Tentang pusaran yang mematikan. Dan tentang yang lain yang tak sempat terceritakan.


Saat ini tidak ada lagi keramaian para pekerja yang berlibur di pasiran. Ketika pabrik triplek tutup maka pasiran seperti ditinggalkan para penggemarnya. Yang tetap setia hanyalah anak-anak pencari kepah yang lezat.
Di atas pasiran tak ada suara lain selain suara kami dan alam. Nyaman sekali di atas sini. Sesekali gelombang kecil datang ke pasiran bila kapal besar yang terseok-seok melintas di sampingnya. Sayangnya aku tak membawa pakaian ganti. Jadilah sore ini aku hanya berperan sebagai penonton. Tak bisa mencari kepah karena harus dilakukan dengan menyelam sampai ke dasar sungai. Untuk dapat sampai ke atas pasiran pun harus naik sampan agar tidak basah kuyup.


Anak-anak sungai tanpa takut berlarian sesukanya. Kemudian terjun dari atas sampan. Menghilang sebentar untuk kemudian muncul lagi bersama seekor kepah. Air tampaknya sudah melebur sampai dalam sanubari mereka. Unik lagi dari mereka adalah permainan ”membetuk pasir”. Kampung dengan latar belakang candi ternyata secara otomatis turut menstimulasi kerja otak mereka. Miniatur pasir yang mereka buat adalah bentuk-bentuk candi bersama pagarnya.


Ada dua buah miniatur kompleks candi. Satu halaman dengan banyak candi. Satu lainnya hanya diisi beberapa candi. Eloknya mereka tak lupa menambahnya unsur pagar yang memang jamak dijumpai di setiap candi yang sudah dipugar di Muarajambi. Sungguh bakat alam yang mengagumkan.


Sampai kapan budaya mencari kepah ini akan berlangsung? Semuanya tergantung kepada seberapa besar masyarakat Muarajambi mampu menyaring unsur luar yang masuk ke dalam sistem mereka. Dari apa yang aku saksikan sore ini akan sangat disayangkan jika kebiasaan-kebiasaan ini hilang tanpa jejak.
Akhirnya senja menutup lembar surveyku di Muarajambi. Cantik sekali. Senja yang sempurna untuk sebuah kisah yang jauh dari sempurna. Sinarnya jatuh di sela-sela aliran kecil di tengah pasiran. Kuning keemasan warnanya. Bergerak-gerak seiring aliran air ke tubuh Batanghari. Kemudian kembali bersatu dengan sang induk. Kembali ke singgasana bawah air untuk muncul kembali esok hari. Jika air sangat surut.


Muarajambi, 29 Mei 2009.

Comments

Popular Posts