Simbol di Balik Panganan Imlek

Menu Utama

Beberapa orang tampak asyik menikmati sajian di meja makan. Beberapa lagi sibuk memasak dan menghidangkan sesuatu, berseberangan dari meja makan. Begitulah suasana siang (03/02) itu di kediaman keluarga besar Jap, Palmerah Utara, Jakarta Pusat. Saya bersama beberapa teman kantor berkunjung dalam rangka imlek ke sini. Imlek pertama yang saya rayakan dengan kunjungan selama berada di tanah rantau.

Kunjungan imlek kali ini terasa istimewa karena kami dipandu oleh tuan rumah masuk ke dalam kebudayaan mereka. Percakapan menarik terjadi di meja makan. Sajian babi panggang, Ngo Hiang, sawi hijau, bandeng, bakso, ayam goreng, babi kecap, mi sohun, rebung ayam, asinan pengantin, udang balut tepung, tripang, kentang goreng, dan buah chery menjadi tokoh-tokoh dalam cerita hari ini.

Rebung Ayam

Tokoh utama yang harus selalu hadir di tiap perayaan dalam kebudayaan Cina adalah mi sohun karena melambangkan umur panjang. Sawi hijau yang memikat mata ternyata berasa pahit setelah dimakan. Usut punya usut, si sawi hijau yang pahit ini mengingatkan kita untuk tidak lupa pada setiap kepahitan yang pernah kita rasakan dalam hidup kita. Dari rasa pahit itu kita belajar untuk bisa lebih baik lagi di masa mendatang. Rebung ayam yang memanggil-manggil sejak dihidangkan tak bisa saya sentuh karena pakta perdamaian dengan si ayam tak kunjung disepakati. Menurut penuturan tuan rumah, dahulu kala ketika terjadi perang, orang-orang banyak berlindung di balik pohon bambu. Oleh karena itu, rebung hadir dalam bentuk masakan yang menyimbolkan suatu bentuk perlindungan.

Babi Panggang

Adapun tripang, hewan paling mahal yang pernah saya jumpai di pasar, setelah disajikan ternyata bentuknya biasa-biasa saja. Pun setelah mendarat ke dalam mulut, rasanya lebih mendekati rasa kikil (daging sapi bagian kaki yang berurat). Tapi tak apalah, bisa memakan tripang, makanan para raja, adalah sebuah keajaiban dan pertanda baik bagi saya untuk tahun ini, :D. Mungkin karena harganya yang setinggi langit, tripang erat kaitannya dengan simbol kemakmuran. Senada dengan tripang, makanan yang dihubungkan dengan kemakmuran adalah bandeng. Bandeng yang juga lazim dijadikan sebagai oleh-oleh jika berkunjung ke rumah mertua ini, karena memiliki duri yang banyak, jadi selalu bersisa. Nah, sisa-sisa itulah yang kemudian disimbolkan sebagai sesuatu yang tak pernah habis sepanjang tahun. Perumpamaan tersebut memiliki persamaan dengan rezeki yang tak pernah putus.

Tripang

Setelah kenyang dengan makanan berat berbumbu cerita dari tuan rumah kami bergeser ke ruang tengah (ternyata kami masuk dari bagian belakang rumah). Di ruang ini terdapat sebuah lemari kayu dengan ukiran huruf Cina –mungkin Mandarin-, lemari lawas milik keluarga Jap. Di dalam lemari ada buku berjudul “Kamus Jenaka Bahasa Inggris” yang menyita perhatian kami. Didorong rasa penasaran maka –setelah bertahun tak keluar lemari- kamus itu keluar juga dan sampai ke tangan kami. Ternyata isinya adalah kosakata bahasa inggris yang diramu dengan gambar-gambar kartun menarik. Terselip di atas kamus inggris itu, sebuah kamus Mandarin lawas bersampul kalender yang tak kalah lawas. Isinya tulisan Mandarin yang kami tak tahu artinya. Kami hanya menerka-nerka melalui gambar di dalamnya. Saya yakin bahwa generasi termuda dari keluarga Jap pun bahkan tak akrab lagi dengan bahasa ini –jika tahu mungkin hanya untuk beberapa kata.

Cuplikan Salah Satu Halaman dalam Kamus Mandarin

Kami siap mengisi amunisi terakhir dalam kunjungan ini. Maka, kumpul-kumpul pun berpindah ke ruang depan. Tempat seperangkat kursi dan meja bergaya Art Deco yang diramaikan dengan aneka kue di atasnya. Di ruangan ini terdapat dua altar sembahyang –saya tak tahu pasti penyebutannya-, yang juga dilengkapi dengan aneka buah dan kue keranjang. Buah-buah wajib di atas meja itu adalah apel (kesehatan) dan jeruk (aman sentosa). Saya juga baru tahu kalau buah pisang atau anggur itu tidak boleh hadir untuk acara-acara duka karena dipercaya membawa keburukan bagi yang masih hidup. Tiap buah seperti punya peran masing-masing di sini.

Buah Chery Sebenarnya

Percakapan semakin hangat dengan dituangnya teh “penebus” dosa ke dalam gelas kecil yang dibagikan kepada kami. Tuan rumah masih dengan kesabaran tingkat tinggi –sambil melayani tamu yang datang dan pergi- menjelaskan simbol di balik tiap kue lezat yang tersaji di atas meja. Kue lapis misalnya, melambangkan rezeki yang berlapis-lapis. Sementara kue semprong melambangkan rezeki yang berlipat-lipat. Besok saya akan “ngemil” dua jenis kue ini saja supaya rezeki saya terus berlapis dan berlipat seumur hidup, :D. Satu yang tak pernah absen saat imlek adalah buah atap. Buah ini sering saya jumpai di pasar-pasar tiban saat bulan ramadhan. Ternyata kehadirannya termasuk istimewa saat imlek.

Buah Atap dan Teh "Penebus" Dosa

Sebuah rebab dari masa silam milik keluarga ini –digantung di dinding ruangan- mengantarkan keturunan Jap bercerita lebih lanjut tentang kawasan ini, kawasan Palmerah, pada masa lampau. Ternyata daerah ini dahulu adalah salah sentra perajin batik di Jakarta. Kedatangan pemilik modal yang lebih besar ke tengah-tengah dunia industri rumah tangga ini menyebabkan para perajin batik di daerah ini gulung tikar, tak mampu bersaing. Itu terjadi sekitar tahun 60-an. Kakek tuan rumah yang sekarang dulunya juga pembatik. Dia menceritakan masih sempat melihat kuali besar untuk memasak batik.

Rebab

Sajian puding dengan fla menutup kunjungan sekaligus liputan kami pada perayaan imlek tahun ini. Imlek yang benar- benar berkesan bagi saya yang biasanya hanya menonton pertunjukan barongsai, mencari obyek foto, lantas pulang. Imlek kali ini mengajak saya untuk berkenalan lebih jauh dengan kebudayaan yang membuat saya jatuh hati. Tak apalah, tak bisa menonton wayang potehi di pecinan Malioboro, agaknya sudah tertebus dengan beragam pengetahuan baru yang masuk ke kepala.



Potongan realitas lainnya dapat dilihat di: https://picasaweb.google.com/minoritaskiri/SimbolDiBalikPangananImlek#

Comments

Popular Posts