Bonus Liburan ke Purworejo

Suasana pagi di Purworejo

Pagi di Purworejo mampu membuat badan menggigil dan gigi gemeretak di musim pancaroba ini. Dalam kondisi seperti ini menarik selimut dan membenamkan badan di dalamnya lebih menarik. Namun, kabut pagi di luar sana terlampau menggoda untuk dilewatkan.

Belum genap pukul 06.00 pagi si Tong sudah menarik selimut dan membangunkan saya. “Jadi lihat stasiun ga?” ujarnya singkat. Semalam kami memang berencana untuk melihat stasiun Jenar dan keliling-keliling kota sebentar untuk mengisi beberapa jam di Purworejo. Jalan-jalan ini merupakan bonus saya karena telah mengantar Tong ke tempat budenya di daerah Kauman, Bagelen, Purworejo. Mengingat bonus yang tidak boleh dibuang begitu saja akhirnya saya harus berjuang melawan godaan selimut yang hangat dan menyerahkan diri pada dinginnya pagi Purworejo yang hampir menyamai dinginnya pagi Dieng.

Kabut masih menggantung di jalan-jalan. Perbukitan Kalimaro masih gelap di timur sana. Matahari mulai menampakkan diri perlahan. Beberapa orang petani mulai turun ke sawah. Dan saya menggigil menahan dingin dibonceng si Tong.

Kami hanya mengantongi informasi yang diberikan Mas Erwin –ipar si Tong- untuk melacak keberadaan stasiun Jenar. Kami melewati Gereja Kristen Jawa Jenar yang berdiri sejak 1933. Saya sempat memotret beberapa sudut bangunan. Gereja ini berada tak jauh dari Pasar Jenar Wetan. Kami tak sempat masuk ke pasar. Saya juga tidak memotret pasar, hanya mengambil video suasana pasar.Sebagian dari pedagangnya menggelar dagangan di pinggir jalan, hampir seperti pasar tumpah. Motor-motor yang diparkir, para pengantar yang setia menunggu, becak, semua tumpah ruah di pinggir jalan. Ada yang menarik perhatian saya yaitu pedagang karung bekas. Terdapat tiga pedagang yang menjual karung-karung bekas beras. Karung yang dijual bukan karung goni melainkan karung putih biasa.

Gereja Kristen Jawa sejak 1933

Stasiun Jenar pagi ini sedikit diramaikan oleh para penjemput yang menunggu kedatangan kerabat dan handai taulannya. Stasiun ini jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Saya pikir stasiun ini termasuk stasiun lama dengan bangunan fisik yang mempunyai karakteristik tersendiri. Saya sempat bertanya berkali-kali dengan Tong saat memasuki stasiun, “Bener ini stasiun lama Tong?” Si Tong hanya menaikkan bahunya. Di hadapan saya berdiri sebuah bangunan kecil yang tampak sangat baru. Menurut keterangan petugas, bangunan ini merupakan bangunan baru yang didirikan beberapa tahun belakangan ini –dia juga lupa tahun pastinya-. Beliau mengatakan bahwa stasiun lama hanya menyisakan sumur. Semua bangunannya sudah dibongkar.

Stasun Jenar

Tampak depan Stasiun Jenar

Stasiun Jenar yang terletak di Desa Jenar Wetan, Kecamatan Purwodadi, ini dilewati semua kereta dari Jakarta. Namun, hanya kereta ekonomi yang singgah di sini. Si Tong sudah menyambangi stasiun ini saat kecil dulu (mungkin sekitar pertengahan 1990an). Dia tampak kesulitan mengingat bagaimana wujud fisik stasiun ini. Baru setelah melihat stasiun Purworejo, ia mengatakan kepada saya bahwa menurut ingatannya bangunan stasiun Jenar tidak jauh berbeda dengan stasiun Purworejo, dengan ukuran yang lebih kecil tentunya. Stasiun Jenar yang baru dibangun sekitar 50 m di sisi timur stasiun yang lama. Stasiun ini dilengkapi dengan wisma yang terdiri dari beberapa kamar. Di sisi barat stasiun masih dijumpai rumah-rumah indis, salah satunya dilengkapi dengan sumur tua di depan rumah. Saat memotret salah satu rumah itu, saya tidak sengaja melihat angka tahun 1939 di dekat bantalan rel.

Angka tahun di dekat bantalan rel

Bekas sumur di Stasiun Jenar

Selanjutnya kami menuju kota. Sebelum memasuki kota kami melalui perbaikan jalan. Selalu saja seperti ini, dimana-mana dilakukan perbaikan jalan. Beberapa bulan ke depan masih juga dijumpai perbaikan jalan di tempat yang sama. Pyuh......

Alun-alun Purworejo menyambut kedatangan kami. Namun, kami harus berputar untuk bisa mengelilingi alun-alun ini. Maka, secara tidak disengaja kami singgah sebentar di Stasiun Purworejo. Saat ini stasiun hanya difungsikan sebagai tempat pelayanan tiket dan sebuah ruangannya dijadikan warung soto. Stasiun ini sejak dahulu memang hanya melayani rute Kutoarjo-Purworejo. Menurut ingatan Tong, hanya dua gerbong yang digunakan. Ukuran relnya pun kecil. Sejak November 2010 stasiun ini ditutup untuk sementara. Menurut bapak penjaga, stasiun akan diperbaiki, dipersiapkan untuk melayani rute Jakarta. Memang, jalur rel mentok ke permukiman penduduk, tidak seperti di stasiun-stasiun lainnya. Dari sisi arsitektur, stasiun ini tergolong berarsitektur cantik. Hampir sebagian besar bangunannya masih asli.

Tampak depan Stasiun Purworejo

Sebelum keliling alun-alun Tong membawa saya melewati Kandang Kebo, sebuah kompleks militer di Purworejo yang didominasi bangunan-bangunan lama. Setelah itu saya juga sempat memotret sebuah gereja dengan arsitektur lawas. Sayangnya saya lupa mencatat nama gereja ini.

Entah mengapa ingatan mengantarkan saya kepada pernyataan sebuah tulisan di KOMPAS. Penulis menyebutkan bahwa alun-alun Tuban termasuk yang terbesar di Pulau Jawa. Menurut saya alun-alun Tuban bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan alun-alun Purworejo. Oke, kita lepaskan dulu sisi sejarahnya. Dari segi keramahan sebuah ruang publik, menurut saya alun-alun Purworejo lebih bersahabat. Luas, tanpa pagar, tempat duduk, bale-bale, dengan dua pohon beringin di tengah, dan pohon-pohon di pinggirnya. Ideal sekali sebagai tempat untuk mboi. Namun, saya hanya merekam alun-alun lewat video saja.

Tong mengajak saya untuk melewati Sungai Bogowonto, sungai purba. Saat ini lalu lintas dipindahkan ke jembatan baru yang dibuat di samping jembatan lama (rehabilitasi 1972). Di atas jembatan lama ini lah dulu Tong kecil dan kakaknya bersepeda sambil menikmati pemandangan sungai purba. Sekarang Bogowonto diabadikan sebagai nama moda transportasi kereta ekonomi AC yang melayani rute Jakarta-Kutoarjo. Kereta murah yang menyenangkan, sama seperti ketika saya menikmati keindahan sungai ini.

Jembatan lama dan baru di atas Sungai Bogowonto

Sungai Bogowonto

Pasar Krendetan kemudian menjadi tujuan kami selanjutnya. Kami memarkir motor di rumah orang tuanya Mas Erwin. Pasar Krendetan ini termasuk pasar tradisional. Di sampingnya dibangun terminal khusus untuk agribisnis. Di dalam pasar terdapat beberapa bangunan yang menjadi los/lapak para pedagang. Bentuknya hampir sama dengan Pasar Legi di Purwokerto, hanya saja masih ada bagian-bagian yang terbuka. Kami membeli serabi di sini. Ibu Salimah, penjual serabi asal Guyangan, Purwodadi, Purworejo, ini berjualan sejak 1975. Ia menemukan resep sendiri dan tidak menurunkan kepada anak-anaknya. Menurut Bu Salimah, anak-anaknya tidak ada yang berkeinginan melanjutkan usaha ini karena malas bergaul dengan asap. Setiap harinya ibu Salimah menghabiskan 4 kg adonan, kecuali pada hari pasar (Rabu dan Sabtu), ia bisa menghabiskan 8 kg adonan. Serabi yang dijajakan mempunyai dua rasa, manis dan gurih. Bu Salimah tidak ingin menambah rasa karena biaya produksi akan membengkak. Saat ini satu serabi Bu Salimah dijual seharga Rp 1.000. Ia berangkat pukul 04.00 dari rumahnya di Guyangan dan menempuh sekitar 10 menitan untuk sampai di Krendetan. Barulah ketika sampai di pasar ia akan membuat adonannya. Rasa serabi Ibu Salimah tergolong enak menurut saya. Dibandingkan serabi di Jalan Bank, Purwokerto, saya lebih suka cita rasa serabi ini. Selain serabi, kami juga membeli kuwe ketan hitam dengan rasa yang gurih.

Pasar Krendetan

Suasana di dalam Pasar Krendetan

Ibu Salimah

Tong mengajak saudaranya Oca dan Oci untuk nyekar ke makam simbahnya yang berada di belakang masjid Sunan Geseng. Saya hanya menunggu di pintu makam. Saya ngobrol sebentar dengan seorang bapak yang sedang memberi makan ikan lele jumbonya. Ia memelihara lele jumbo karena bibit lele lokal sulit ditemukan. Bapak ini sepertinya salah satu juru kunci masjid. Ketika saya tanya tentang Sunan Geseng, si bapak kelihatannya tidak begitu banyak tahu. Yang ia tahu masjid ini usianya sangat tua, sudah ada jauh sebelum buyut dari buyutnya ada. Sunan Geseng sendiri menurut pengetahuannya adalah Cokrowijoyo (Cokrojoyo) salah satu pengikut Diponegoro. Cokrojoyo ini kemudian berguru ke Sunan Kalijaga. Karena suatu kejadian yang berhubungan dengan Sunan Kalijaga, maka nama Cokrojoyo kemudian disebut juga sebagai Sunan Geseng.

Masjid Sunan Geseng

Tak jauh dari masjid terdengar suara kereta mendekat. Dengan spontan Tong, Oca, dan Oci berlarian untuk melihat kereta lewat. Si Tong kecil dan kakaknya melakukan ritual yang sama saat kecil dulu, berlari untuk melihat kereta.

Setelah itu saya mengabadikan lapangan voli yang ternyata mengandung cerita mistik. Semalam saya hampir tidak berhasrat ke kamar mandi gara-gara mendengar cerita-cerita mistik di sini. Jadi, beberapa waktu yang lalu Bude Ginem (seorang penduduk lokal) melihat “sesuatu” yang tidak dilihat teman-temannya. Suatu malam sepulang pengajian dari tempat yang jauh, rombongan mengantarkan Bude Ginem terlebih dahulu ke rumahnya, karena rumah si bude ini yang paling jauh. Beberapa meter sebelum melewati Masjid Sunan Geseng, Bude Ginem melihat keramaian di lapangan voli yang letaknya di depan masjid itu. Tak dinyana ternyata lapangan voli itu diramaikan oleh para pocong. Para pocong yang sedang main voli lebih tepatnya. Ada yang bertindak sebagai wasit, suporter, pemain, bahkan ada juga yang sedang pemanasan. Sontak saja Bude Ginem mengunci rapat mulutnya dan menanggung derita ini sendirian. Jika secara spontan ia menceritakan langsung di tempat kejadian, bisa-bisa satu rombongan itu menginap di rumah Bude Ginem. Para pocong sehat itu menjadi topik utama di malam kedatangan kami. Masih banyak cerita mistik lainnya. Tentang kaki yang berjalan tanpa tubuh di dekat rel. Ternyata di rel tersebut pernah terjadi kecelakaan yang menelan belasan korban jiwa. Gara-garanya rel tidak dilengkapi dengan palang. Wajar saja sekarang pos penjaga di dekat rel diramaikan oleh musik SKJ, supaya tidak krik krik ketika berjaga sendiri. Ada juga hantu ambulan. Mistik di kampung halaman ibunya Tong ini menarik juga untuk dikulik. Tapi tentunya saya tidak akan sendirian, :D

Lapangan voli tempat para pocong olahraga

Setelah puas beberapa jam menikmati bonus liburan di Purworejo, kami pulang ke rumah bude. Kami berkumpul di dapur dan beramai-ramai menikmati kuwe hasil “buruan” di pasar Krendetan tadi. Selanjutnya si Tong, Oca, dan Oci membantu Bude memasak oseng tempe cabai hijau yang enak sekali. Selepas makan siang, bonus liburan saya resmi berakhir masa aktifnya. Kami kembali lagi ke Jogja dan memulai rutinitas seperti biasa.

Bahan baku oseng-oseng cabai hijau yang maknyus

(Memori 5 Juli 2011)

Comments

bayu said…
This comment has been removed by the author.
bayu said…
terimakasih sudah liput kampung mbah buyutku mas....:)
KWA Wardani said…
Suipppo, sama-sama :D

Popular Posts