Dilema Seorang Sukarelawan

Suatu malam saya mendapat undangan dari seorang teman untuk musyawarah. Tentu tidak hanya saya yang diundang. Masih ada beberapa teman lain. Saya datang terlambat sekitar 10 menit dari waktu yang ditentukan. Di sana hanya ada teman yang mengundang. Maka, kami pun memesan minuman sembari menunggu kehadiran teman-teman yang lain.

30 menit berlalu tapi belum ada tanda-tanda kedatangan teman yang lain. Untunglah saya membawa bahan bacaan sehingga tidak begitu nglangut. Pun teman saya asyik menonton film di layar besar yang disediakan oleh pihak warung.

Satu jam berlalu, masih belum ada tanda-tanda. Lantas kami mulai membahas hal-hal terkait topik musyawarah.

Satu setengah jam kemudian saya mengajak teman saya untuk pulang saja karena sudah tidak ada peluang untuk teman-teman yang lain hadir. Saya bertanya kepada teman yang mengundang mengenai respon dari teman-teman lain terhadap undangannya. Ia bilang semua (6 orang) menyatakan bisa hadir, hanya seorang saja yang tanpa kabar.

Sungguh menakjubkan bahwa tak ada satu pun teman yang memberikan kabar konfirmasi ketidakhadiran. Oh, saya harus sering berpikir positif. Mungkin saja mereka sedang kehabisan pulsa, terdampar di pulau atau hutan tanpa sinyal, atau juga tak membawa telepon genggam saat bepergian.

Saya bingung dengan situasi itu. Mungkin perlu saya ceritakan sedikit latar belakangnya. Musyawarah malam itu ditujukan untuk membahas sebuah pekerjaan sukarela atas sebuah isu yang sedang naik daun di Indonesia. Ya, kami semua tidak dibayar untuk itu. Ya, seharusnya negara yang mengurus semua itu. Ya, kami tetap saja di sini meluangkan waktu untuk mengerjakan pekerjaan mulia tanpa bayaran. Ya, saya berminat dengan isunya dan bersedia bekerja sukarela. Ya, saya lantas tidak boleh menyimpan harapan yang besar kepada teman-teman lain yang sedari awal sudah menyatakan komitmennya terhadap pekerjaan sukarela ini.

Saya mencoba introspeksi lagi atas semua kegiatan-kegiatan relawan yang pernah saya ikuti. Menurut saya idealnya ketika kita sudah berkomitmen untuk melakukan satu pekerjaan, entah itu dibayar atau tidak dibayar, berarti kita sudah menyadari resiko yang akan dihadapi. Pun seharusnya sudah terpikirkan juga bahwa pekerjaan sukarela ini juga membutuhkan waktu, tenaga, pikiran, materi untuk menggarapnya. Jadi, ketika di tengah jalan harus mengorbankan kebutuhan-kebutuhan itu seharusnya sudah siap, bukan?

Mungkin saya saja yang tertinggal. Mungkin nafas kerja sukarela seperti ini memang sudah bergeser dari esensi dasarnya. Mungkin saya saja yang pengangguran sehingga mudah meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan materi untuk menggarap proyek sukarela. Mungkin jika saya berada di posisi mereka yang super sibuk saya juga akan sulit membagi waktu meskipun komitmen sudah saya serahkan di awal kegiatan. Ya, semua kemungkinan mungkin untuk terjadi.

Comments

Popular Posts