Kresek, Tak Ada Maaf Bagimu

Aneka rupa barang belanjaan yang dikemas tanpa kresek

Kresek, siapa yang tak akrab dengannya. Saya mengenalnya sejak kecil. Namun, waktu itu saya hanya mengenal sisi kepraktisannya saja. 

Saat duduk di bangku SMA,  sisi buruk kresek sedikit demi sedikit mulai saya ketahui. Meskipun demikian, hingga lulus kuliah saya tetap menggunakan kresek, walaupun tidak dalam jumlah besar. Saya pikir semua orang juga menggunakan kresek. 

Suatu hari saya bergabung sebagai relawan dalam sebuah acara komunitas di Jakarta. Pengetahuan tentang bahaya kresek yang selama ini hanya bekerja di alam bawah sadar kemudian muncul lagi karena sebuah kelas diskusi yang saya ikuti pada acara tersebut. Kelas tentang diet kresek itu membuka lagi mata saya bahwa kresek benar-benar barang yang berbahaya meskipun menawarkan sejuta kepraktisan. 

Bahwa kresek ikut terkonsumsi oleh hewan-hewan hingga membunuh mereka juga baru saya sadari di sana. Terlebih tentang kresek yang dimusnahkan dengan cara dibakar, ternyata sama sekali tak menyelesaikan masalah, namun justru menimbulkan masalah baru.

Keluar dari kelas tersebut, saya seperti mendapat pencerahan. Tapi jangan dikira saya langsung mengubah pola perilaku. Malamnya, seperti biasa saya tetap menggunakan kresek sebagai wadah untuk membawa makanan pulang ke kos. Ya, entah karena sudah terbiasa, entah karena lupa. Hari itu saya membuktikan bahwa ternyata pengetahuan tak berbanding lurus dengan perubahan perilaku.

Keesokan harinya seorang teman memberikan saya tas kecil yang mudah dibawa-bawa. “Untuk wadah bungkus makanan kalau jajan. Jadi gak usah pakai kresek lagi,” begitu katanya. Semenjak itu saya membuat komitmen dengan diri sendiri untuk tidak lagi menggunakan kresek. Kali ini saya berupaya mematahkan teori bahwa pengetahuan tak berbanding lurus dengan pola perilaku.

Semenjak acara itu saya mulai menggabungkan diri ke kelompok yang getol memperjuangkan perubahan perilaku dalam mengurangi sampah. Mereka populer sebagai “Jirowes”. Dari mereka saya belajar banyak bagaimana caranya untuk mengurangi sampah, terutama kresek. 

Tidak hanya itu, saya seperti memasang “alarm” dalam otak agar selalu membawa tas belanja jika bepergian. Namun memang tak mudah. Pun ketika saya menyodorkan tas belanja untuk mewadahi barang belanjaan, saya masih dipaksa oleh pedangan untuk menggunakan kresek. Tak jarang perdebatan muncul lantaran saya menolak “pemberian” mereka. 

Kebiasaan saya untuk menolak kresek dengan membawa wadah sendiri ini pun sudah dikenal oleh pedagang di Pasar Kranggan –salah satu pasar tradisional di Jogja-. Para pedagang yang awalnya kaget karena saya tolak itu akhirnya bisa berkompromi dengan saya. “Biar ga nyampah ya Mbak,” begitu kata salah seorang pedagang sayur ketika memasukkan wortel dan tomat ke dalam wadah yang saya bawa.

Lalu bagaimana jika saya lupa membawa tas belanja? Saya pun harus mau berdamai dengan diri saya untuk menunda membeli sesuatu jika lupa membawa tas belanja. Meskipun terkadang berat karena harus bolak balik tapi komitmen tetap harus dijalankan, bukan?

Ternyata setelah dijalani dan terbiasa, akhirnya saya bisa bebas kresek. Kresek hanya saya gunakan untuk kebutuhan yang super mendesak seperti melindungi barang, misal baju, dari air. Untuk itu pun saya menggunakan kresek bekas.

Pengalaman menarik saya jumpai saat mencoba menularkan virus anti kresek ini dengan teman satu kos. “Kresek itu kan bisa dipakai lagi untuk wadah sampah, Nu,” begitu alasannya ketika saya ajak untuk tidak menggunakan kresek saat berbelanja. 

Ya, alasan klasik saya pikir. Dan saat itu saya tidak bisa mematahkan alasannya tersebut. Dari sana saya kemudian mencoba mencari alternatif solusi wadah sampah agar tidak perlu menggunakan kresek. Saya pun bertanya pada seorang teman tentang cara-cara membuat wadah sampah dari bahan non kresek. Saya kemudian diberi dua panduan membuat wadah sampah dari koran bekas. Ternyata mengasyikkan juga proses membuatnya. Sejak itu saya membuat wadah sampah dari koran. Jadi, jika teman kos saya mengeluarkan dalih bahwa kresek itu masih bisa digunakan sebagai wadah sampah, maka saya sudah siap dengan solusinya.

Virus anti kresek ini kemudian juga saya coba tularkan ke teman-teman seperjalanan. Kebetulan saat ini saya mengembangkan usaha wisata arkeologis bernama “Jaladwara”. Setiap kali trip saya selalu menegaskan kepada peserta untuk membawa tas belanja dan tidak menggunakan kresek. Jaladwara juga menghimbau peserta untuk membawa botol minum sendiri karena disediakan air isi ulang.Untuk kebutuhan konsumsi saat di jalan, Jaladwara senantiasa meminta penyedia makanan untuk tidak menggunakan wadah styrofoam dan plastik. Di luar dugaan, sejauh ini tidak ada peserta yang keberatan dengan aturan main tersebut.

Dalam kegiatan komunitas yang lain pun virus anti kresek ini coba saya tularkan. Pernah satu kali saya dan beberapa teman mendapatkan cenderamata saat survei lapangan. Si pemberi cenderamata memaksa kami untuk menggunakan kresek sebagai wadahnya. Saya, yang pada saat itu memang tidak membawa tas belanja, mencoba menolak kresek pemberiannya, Namun demi menghargai sang pemberi, maka  dengan sangat terpaksa saya menerima cenderamata itu beserta kreseknya. 

Kejadian itu seperti mengkhianati komitmen saya sendiri. Tapi ada hikmah di baliknya. Beberapa teman menjadi tertarik dengan alasan saya menolak menerima kresek dan berinisiatif untuk membawa tas belanja sendiri saat survei-survei berikutnya. “Hmmm, memang harus ada yang dikorbankan untuk sebuah perubahan,” begitu pikir saya sambil mencoba berdamai dengan diri sendiri.

Selain itu, saya juga “memengaruhi” seorang teman yang membuka distro. Saya menyarankan untuk tidak menggunakan kresek dalam mengemas barang belanjaan konsumen. Maka kresek pun mereka ganti dengan wadah lain yaitu tas berbahan tisu. Tidak cukup sampai di sana. Untuk meminimalisir penggunaan wadah yang tak perlu, Juno Distro menerapkan aturan untuk bertanya ke konsumen mengenai perlu tidaknya barang belanjaan diberi wadah. Bagi konsumen yang memilih menolak wadah Juno Distro akan memberikan potongan harga. Ternyata banyak juga konsumen yang mau diajak bekerja bersama untuk mengurangi penggunaan kresek dan wadah yang tidak perlu.

Begitulah sekilas kisah pribadi saya seputar pengurangan kresek. Beberapa teman ada mengikuti jejak saya untuk anti kresek. Namun, tak jarang juga beberapa di antaranya kembali menggunakan kresek karena lupa. Atau...ya mungkin karena mengubah kebiasaan tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Comments

bayu said…
betul mas, kresek(kantung plastik) warna hitam adalah yg paling berbahaya,karena yang hitam adalah sisa dari limbah segala plastik,istilah saya intip nya limbah plastik, juga mengandung dioxin yg bersifat memicu kanker. Saya selalu menegur pedagang makanan yang mewadahi makanan panas mereka dalam kantung kresek hitam- sya ingatkan bila mereka belum tahu.
KWA Wardani said…
Wah, tindakan Mas Bayu untuk menegur ini patut diapresiasi. Masih banyak konsumen yang pasrah ketika diberi wadah kresek meskipun tahu bahayanya.
Nini said…
Manteb nu, sithik2 sik gpp. Dan tak sabar nanti berbagi pengalaman jalan2 ning kene, biasa bgt mungkin objeknya.. tapi suka cara para pemandu wisata (atau papan2 petunjuk untuk yg gratisan ;>)
KWA Wardani said…
Hola Nini :)
Tak sabar pula menunggu ceritamu "langsung" di Jogja :D

Popular Posts