Tips Bahagia

Pesepeda di Jl. Mangkubumi

Bahagia itu sederhana saja. Cukup tuangkan perjalananmu ke dalam sebuah catatan yang bisa kau buka kapan pun engkau mau.

Iseng membaca berita sebuah milis mengantarkan saya pada topik cara agar kita bisa bahagia. Karena menurut penulis topik itu sukses akan mengikuti ketika bahagia. Ukuran sukses yang tidak jamak dianut orang.

Ia bertutur bahwa ada lima cara untuk bahagia, yaitu:
1. Bersyukur/berterimakasih
2. Mencatat hal-hal baik yang terjadi selama seharian
3. Berolahraga
4. Meditasi (tidak harus meditasi yang terkait dengan religiusitas, namun bisa berupa yoga atau mendengarkan musik)
5. Berbuat baik dengan hal-hal yang sederhana

Saya menulis ini tidak dalam rangka menjajal menjadi motivator. Bukan pula bermaksud untuk mengikuti satu per satu saran dari penulis brilian itu. Saya hanya ingin melakukan instropeksi diri. Terutama untuk poin nomor 2.

Jika penulis itu mengatakan bahwa koridor mencatat dibakukan pada hal-hal baik yang dialami seharian, saya justru menariknya ke koridor pertanggungjawaban sebagai seorang pejalan. Sebagai seorang yang gemar bepergian saya termasuk payah dan parah untuk urusan tulis menulis. Padahal bagi saya itu salah satu bentuk pertanggungjawaban terhadap apa yang sudah saya nikmati. Ketika tanggung jawab itu diingkari maka rasanya seperti dikejar hutang. Hal itu menimbulkan efek susah tidur dan sulit berkonsentrasi untuk hal lain.

Perjalanan ke suatu tempat, prosesnya, tempatnya, kulinernya, adat istiadatnya, serta orang-orangnya menjadi kenangan tersendiri yang harus didokumentasikan. Di saat perjalanan itu dilakukan rasanya sangat menyenangkan. Saya tenggelam di dalamnya. Saya jelas menemukan suasana dan kondisi yang tidak ditemukan dalam keseharian. Yang menjadi persoalan ialah bagaimana saya mengemas kenangan itu dalam bentuk yang awet, abadi sepanjang masa?

Semalam saya berujar kepada seorang teman, “Saya ini payah, sudah banyak berjalan tapi selalu malas untuk mencatat hal-hal yang saya temukan di sepanjang perjalanan.” Ternyata dia pun mengalami hal yang sama. Lho?

Lalu apa sebenarnya yang menjadi penyebab rasa malas begitu mudah datang selepas kita melakukan perjalanan? Sebagai contoh, saya dan seorang kawan melakukan ekspedisi dari Anyer ke Surabaya pada 2011. Hingga 2013 dokumentasi berupa foto, koordinat objek tujuan, rekaman audio dan video, dan catatan harian yang tak lengkap tercecer di mana-mana. Semua bahan mentah itu belum ada yang diramu ke dalam tulisan khusus. Pejalan macam apa pula saya ini?

Mungkin rasa malas itu menghasilkan sebuah perasaan untuk menunda-nunda. Sehingga hingga bertahun-tahun berselang belum ada juga publikasi dalam bentuk laporan perjalanan yang dibuat. 
Lalu sebaiknya apa yang harus dilakukan agar ini tak terulang lagi? Saya si hanya ingin bahagia tanpa terkesan termakan oleh penulis yang merumuskan langkah-langkah menuju bahagia di atas. 

Mungkin boleh dicoba untuk langsung menuliskan apa pun yang kita pikirkan secepatnya begitu perjalanan rampung. Perkara capek atau tak ada waktu mungkin lebih bisa dinegosiasikan dengan diri sendiri. Yang terpenting sejelek apa pun tulisan itu tetap harus diciptakan. Daripada menunggu bertahun lamanya dan kita kehilangan detail momen-momen perjalanan, lebih baik “mengasal” untuk disempurnakan di waktu yang tepat. Jadi, jangan sampai seperti mengantarkan kenangan-kenangan itu pergi memunggungi kita. Toh, saya hanya ingin bahagia dan tak merasa dikejar “hutang”.

Comments

Popular Posts