Mengayuh Kereta Angin ke Borobudur, Memetik Filosofi Lingkungan dari Sumbernya

Menuju Candi Borobudur, sebuah monumen Buddha terbesar di dunia, dengan kendaraan bermotor terdengar sudah biasa. Bagaimana dengan sepeda? Apakah pesepeda seperti kami yang terbiasa melahap rute datar tanpa tanjakan mampu menaklukkan medan penuh tanjakan “maut”? Apakah perjuangan mengayuh kereta angin dari Yogyakarta ke Borobudur ini setimpal dengan pengalaman yang akan kami dapatkan di sana? Yang terpenting, apakah kami bisa selamat sampai di titik tujuan, Sang Monumen Agung Borobudur? Anda mungkin berpikir kami gila. Bisa jadi. Atau kami hanya sedang punya banyak waktu.

Pagi, ketika matahari mulai menebarkan cahayanya, saya bersama ketiga pesepeda lainnya, Armely, Heather dan Paul, menggowes pelan meninggalkan penginapan di Jl. Mantrigawen, Yogyakarta. Jarak yang akan ditempuh menuju Borobudur sekitar 41 km. Diperkirakan setelah 4 jam mengayuh pedal, kami akan tiba di tujuan.

“Wah seperti kanal di Amsterdam!“ seru Heather saat menyusuri Selokan Mataram pagi itu. Jalanan aspal itu makin ke barat kian menyempit. Kondisinya pun tak lagi mulus. Aspal terkelupas di sana sini. Namun, pemandangan yang disuguhkan di kanan kirinya tak mudah untuk ditolak. Angin segar menerpa wajah, menyentuh pori-pori. Suara tonggeret menjadi musik pengiring yang sempurna.
Selokan Mataram Barat yang bersih (kiri) Menyusuri Selokan Mataram Barat (kanan)
Di kejauhan tampak burung kuntul menemani petani menggarap lahan. Hamparan sawah hijau dan kuning berselang seling memberikan warna terbaiknya. Sementara itu cokelat air memenuhi Selokan Mataram yang nyaris bebas dari sampah. Meskipun belum pernah menjejakkan kaki di Amsterdam, rasanya ucapan Heather tak berlebihan.

Medan yang didominasi oleh jalan datar di sepanjang Selokan Mataram sisi barat Kota Yogya ini cukup untuk memanaskan otot-otot kaki kami dalam mengayuh pedal. Etape pembuka ini kami akhiri dengan menyantap durian di pasar durian persis sebelum jembatan gantung Sungai Progo.

Paul, seorang rekan perjalanan yang bermukim di Norwegia, penasaran dengan aroma dan rasa Si Raja Buah. Berbeda dengan kebanyakan orang asing yang menolak durian, Paul tampak langsung jatuh hati dengan cita rasa buah khas Asia Tenggara ini.
"Pasar" durian di depan rumah warga di daerah Duwet (kiri) Paul menyantap durian pertama dalam hidupnya (kanan)
Kebetulan durian yang kami nikmati ialah durian spesies lokal Menoreh. Durian ini memang memiliki tekstur kesat tak berserat. Aromanya kuat dengan rasa dominan manis yang ditutup dengan sedikit pahit. Mas penjual pun memberikan garansi jika rasa durian tak memuaskan lidah konsumen. Sebuah keuntungan menikmati durian langsung dari sumbernya. Garansi yang tak mungkin didapatkan jika menyantap durian dari supermarket yang kebanyakan impor di dalam kemasan styrofoam.

Kenikmatan menyantap durian harus diakhiri. Tanjakan terjal pertama menyapa kami selepas melewati jembatan gantung Sungai Progo. Selamat datang di medan yang sesungguhnya!
Di atas jembatan gantung Sungai Progo, bersiap "melahap" tanjakan-tanjakan "maut".
Saat memasuki jalan raya Kali Bawang, medan naik dan turun mulai mewarnai. Efek sinar matahari menyebabkan jalanan aspal tampak bergelombang.

Di salah satu tanjakan yang menjadi tanjakan terpanjang, beberapa di antara kami harus turun dari sepeda. Tanjakan ini memang sangat sulit ditaklukkan. Bahkan mesin kendaraan bermotor pun meraung-raung. Tanjakan itu menjadikan kendaraan yang biasanya merajai jalanan seperti siput.

Menaklukkan tanjakan-tanjakan maut.
Masih beberapa tanjakan dan turunan lagi di jalan raya sebelum kami berbelok ke kiri menjauhi jalan utama. Kali ini lalu lintas lebih sepi. Kendaraan bermotor melintas sesekali. Selebihnya hanya ada tanjakan, turunan, angin yang menerpa wajah, suara aliran Sungai Progo, serta hijaunya pepohonan.

Setelah menggowes mengarungi naik turunnya jalanan beraspal, untuk kesekian kalinya kami berhenti untuk mengatur napas. Kali ini kami memilih beristirahat di sebuah pondok di pinggir jalan untuk menambah tenaga guna melengkapi etape terakhir.

Mengaso di pondok di tepi jalan (kiri) Menyantap bekal roti berlapis selai lokal sambil menikmati pemandangan Merapi-Merbabu (kanan)
Bekal makanan pun dikeluarkan. Roti artisan berlapis selai lokal di dalam kotak makan siap untuk disantap. Begitu pula aneka buah. Rasanya seperti piknik. Menyantap kudapan sembari menikmati gagahnya Merapi dan Merbabu yang dibalut kanvas hijau pepohonan.

“Ini seperti tempat terbaik untuk menghabiskan sebuah buku,” ujar Heather. “Sekaligus tempat untuk tidur siang yang sempurna,” Armely melengkapi.

Napas kembali teratur. Oksigen mulai memenuhi kepala. Perut tak lagi keroncongan. Kaki-kaki pun siap untuk mengayuh menyelesaikan etape terakhir. Borobudur sudah semakin dekat.

Kami hanya melewati beberapa tanjakan tak berarti dan lebih banyak turunan hingga akhirnya kembali merasakan medan datar. Bagi saya ini sebuah pencapaian berarti dalam catatan bersepeda. Ketika tanjakan demi tanjakan itu berhasil saya taklukkan, rasanya seperti merdeka. Bebas. Borobudur...akhirnya ada di depan mata.

***

Tak banyak pejalan yang bersepeda di Yogya. Tepatnya tak banyak yang tahu bahwa luasan Kota Yogya yang hanya 32,5 km2 dan dengan permukaan jalan yang relatif datar, sangatlah cocok untuk bersepeda.

Bahkan Trip Advisor dan brosur wisata seperti Jogja Ad sama sekali tidak menyebutkan sepeda sebagai salah satu alat transportasi untuk berkeliling di Yogya. Padahal sepeda sebagai alat transportasi murah sangatlah tepat untuk dijadikan teman mengeksplorasi kota. Kita tetap bisa menjangkau titik-titik yang jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki, sekaligus bisa berhenti di manapun kita ingin.

Demi memopulerkan penggunaan sepeda di kalangan pejalan (dan pendatang), saya dan seorang kawan pun merintis usaha sewa dan wisata sepeda. Dikenal dengan nama Si Woles. Kami pun nekat memasang tarif sewa sepeda lebih murah dari tarif sewa motor paling murah di Kota Yogya.

Lambat laun kami mendapati bahwa ada pejalan-pejalan seperti Heather dan Paul yang memilih bersepeda sebagai moda transportasi mereka. Yang menyadari bahwa moda transportasi yang mereka pilih akan memberikan dampak – baik atau buruk – bagi tempat yang mereka sambangi. Bahkan mereka pula lah yang meminta kami menemani mereka ngegowes menuju Warisan Dunia Candi Borobudur.

***

“Dulu saya tinggal sangat dekat dengan Candi Borobudur. Semasa kecil, saya biasa bermain di kawasan Candi Borobudur. Di sini,” ujar Mas Hatta sambil menunjuk ke satu titik di maket Candi Borobudur. “O ya, lalu apa yang terjadi?” Heather merespon penasaran. “Kami (tiga dusun) dipindahkan pada 1985, saat pemerintah memutuskan bahwa Candi Borobudur akan dijadikan Taman Wisata. Banyak yang harus dikorbankan. Ingatan bahkan keluarga,” jawab Mas Hatta. Mas Hatta yang juga teman saya akan menjadi pemandu kami selama mengeksplorasi Candi Borobudur.

Sambil menyusuri taman yang mulai dilengkapi dengan bangku-bangku, Mas Hatta bercerita banyak hal. Mulai dari upaya pembersihan candi dari bencana abu Kelud, cara memasuki Candi Borobudur, hingga legenda lokal mengenai Borobudur.

Mas Hatta meminta kami menunggu beberapa saat. Ia berlari menuju sebatang pohon Bodhi. Kembali kepada kami, ia membawa dua lembar daun Bodhi yang menguning. Daun Bodhi dilipat dua sehingga bentuknya menyerupai teratai yang mengapung di tengah perairan.

“Sedari kecil kami diberikan pengetahuan bahwa Candi Borobudur itu seperti bentuk daun Bodhi yang dilipat. Ada satu teori yang mengatakan bahwa dahulu Candi Borobudur dikelilingi oleh danau. Jika dilihat dari atas, Borobudur seperti teratai yang mengapung di tengah danau. Klop, cerita tutur dengan teori dari para ahli,” tutur Mas Hatta menjelaskan pertemuan antara teori, fakta ilmiah, dengan cerita tutur masyarakat setempat mengenai lingkungan Borobudur masa silam.

Menaiki bukit tempat Borobudur berada, Mas Hatta tak langsung mengajak kami naik ke atas candi. Kami menuju sisi tenggara. Di sana terdapat beberapa panil relief yang masuk ke dalam cerita Karmawibhangga. Relief-relief itu berkisah tentang hukum sebab akibat. Semisal saja, jika selama hidup selalu bergosip maka di kehidupan selanjutnya akan terlahir dengan muka seperti kera. Hukum sederhana yang seringkali terlupa dalam kehidupan sehari-hari. Untuk urusan lingkungan misalnya, jika banyak pohon yang ditebang maka jangan heran jika di musim kemarau terjadi bencana kekeringan sementara musibah banjir akan datang di musim hujan.
Mas Hatta menceritakan tentang relief Karmawibhangga.
Panil-panil relief yang dipahatkan di Candi Borobudur ini laksana sebuah kitab bergambar. Di masa sekarang mungkin sama seperti sebuah komik. Ketika peziarah atau biksu ke Borobudur, mereka tak hanya melantunkan puja dan puji melainkan juga melakukan pembacaan terhadap relief-relief yang ada. Tiap relief menyiratkan pesan tersendiri terkait dengan kehidupan keseharian dan bekal untuk kehidupan yang lebih baik.

Salah satu relief yang sangat populer ialah relief kapal bercadik yang dipahatkan di dinding candi tingkat pertama. Relief itu menunjukkan bahwa bangsa ini memang benar bangsa pelaut. Posisi geografis Candi Borobudur boleh jadi berada jauh dari laut. Namun, cerita kegagahan nenek moyang kita mengarungi samudera untuk menjalin hubungan dengan bangsa lain kiranya sampai juga ke telinga para arsitek dan seniman Borobudur. Kapal bercadik menjadi moda transportasi handal saat itu. Kesadaran maritim sudah terbangun di benak nenek moyang kita dulu.

Relief kapal itu mengingatkan saya pada cerita perjalanan Heather yang ia tuangkan dalam blog-nya. Pejalan asal Inggris itu menempuh perjalanannya dari Valencia, Spanyol, menuju Indonesia dengan menumpang kapal barang, bukan kapal pesiar. Ia dengan sadar melakukannya untuk alasan lingkungan. Sungguh sebuah keputusan pemilihan moda transportasi yang langka. Sangat langka bagi pejalan masa kini. Yang nyata saya jumpai baru Heather. Selain Si Pando di dalam komik WWF,”Pando Gauleco: Makananmu, Kepedulianmu!”
Heather berpose bersama relief kapal bercadik di Candi Borobudur.
Kenyataan itu menggelitik saya. Saya menjadi bertanya-tanya tentang militansi para aktivis lingkungan. Apakah mereka menghadiri berbagai konferensi tingkat nasional maupun internasional dengan mempertimbangkan moda transportasi yang minim emisi?

Setahu saya pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan tahunan itu selalu menghasilkan jejak karbon yang cukup tinggi. Apakah para aktivis lingkungan kemudian bersedia membayar jejak karbonnya? Apakah mereka berani mengambil keputusan seperti Heather atau Si Pando dengan menggunakan moda transportasi minim emisi? Pastinya akan terlalu banyak memakan waktu. Sehingga emisi yang dihasilkan dari penerbangan mereka dianggap tak senilai jika mereka harus mengorbankan berpuluh hari terombang-ambing di atas laut. Namun, mungkin ada di antara mereka yang berupaya menekan ‘jam terbang’nya tiap tahun.

Ada lagi relief Borobudur yang tak kalah populer. Tentang penyu raksasa yang menyelamatkan kapal berisi sekelompok manusia ketika diserang monster laut. Hal itu mengingatkan saya pada kampanye konservasi penyu WWF-Indonesia.Jika kisah pada relief penyu menyelamatkan manusia maka di dunia nyata giliran manusia yang menyelamatkan penyu.
Relief penyu raksasa yang menyelamatkan manusia.
Rasa kagum saya tak berhenti sampai di relief. Mas Hatta dengan sangat baik menceritakan bagaimana perancang Borobudur begitu memerhatikan aspek lingkungan di dalam pembangunannya. Batu-batu andesit yang menjadi lantai sengaja disusun tak beraturan untuk membantu mengatasi getaran gempa Merapi atau Merbabu. Selain itu sudut-sudut candi yang dibuat berliku – sehingga tidak menyerupai bidang persegi empat - menyebabkan candi memiliki penopang yang cukup kuat jika terjadi getaran.
Teknik penyusunan batu pada lantai candi.
Sekali lagi sebuah kearifan lokal dari para arsitek Borobudur untuk mau rendah hati membangun monumen dengan memperhatikan kondisi lingkungan setempat. Mereka tahu bagaimana menyiasati hidup di antara gunung-gunung. Mereka sadar hidup di tengah-tengah ancaman gempa, lahar, dan banjir. Oleh sebab itu mereka menciptakan monumen yang mampu bertahan dengan semua ancaman tersebut.
Mas Hatta menerangkan teknik konstruksi Candi Borobudur.
Berbeda jauh dengan para arsitek Indonesia masa kini yang lebih banyak tercerabut dari akarnya. Mereka terlalu banyak berkiblat pada Barat. Ketika mendesain bangunan selalu mengacu pada desain-desain yang sama sekali tak cocok dengan kondisi lokal. Alhasil bangunan yang tercipta sangat asing dan tak berumur panjang karena tak tahan dengan terpaan iklim lokal.

Berkunjung ke Borobudur sudah saatnya dipahami sebagai sebuah kunjungan untuk membaca kitab suci. Jika ingin mengikuti prosesinya kita harus empat kali mengelilingi teras pertama. Dua kali di teras kedua. Dua kali di teras ketiga. Dan dua kali di teras ketiga. Hingga mencapai kondisi Arupadhatu, lepas dari keduniawian.

Inti dari proses panjang mencapai kesempurnaan ialah keseimbangan. Segala sesuatu tak boleh berlebih juga tak baik jika kurang. Yang ideal adalah berada di tengah, cukup. Sebuah kata yang sangat sulit diterapkan di tengah ketergesaan diburu sang waktu. Hutan dieksploitasi hingga mabuk untuk diubah jadi perkebunan kelapa sawit. Sumber daya fosil dikeruk sepuasnya, menyisakan bopeng kerusakan lingkungan yang parah. Tingkat konsumsi kepemilikan barang-barang kian meningkat. Semua mendasarkan pada keinginan, bukan kebutuhan. Kata cukup pun hanya goresan di atas kertas.

Sayangnya, sebagian besar pengunjung –terutama lokal- masih menganggap Borobudur sebagai tempat narsis semata. Mereka lebih suka jalur cepat. Potong kompas dari pintu masuk langsung menuju stupa puncak. Setibanya di atas, sibuk menunaikan mitos untuk meraba patung Buddha dalam stupa. Jika lelah duduk di bagian kaki stupa, meskipun sudah ada beberapa papan larangan untuk itu. Sebelum turun, bahkan tak lupa meninggalkan sampah tisu, kemasan makanan atau minuman di atas candi.
Para pengunjung yang memanjat stupa hanya demi meraba patung buddha (kiri) Pengunjung duduk di kaki stupa puncak, tidak mengindahkan papan larangan (kanan)
Alhasil, proses untuk memahami tahapan kehidupan pun pupus. Tak akan ada pengetahuan masa lalu yang dipetik. Fungsi candi sebagai media belajar banyak hal, lingkungan, arsitektur, transportasi, seni, serta kehidupan keseharian pun tak berlaku. Masih banyak pengunjung yang tak acuh terhadap nilai-nilai. Mungkin karena belum terpapar informasi dan pengetahuan. Bisa jadi.

Terbersit rasa khawatir melihat perilaku pengunjung yang beraneka rupa. Lebih banyak yang melanggar aturan-aturan yang ditetapkan. Belum lagi jumlah pengunjung yang seringkali membludak, terutama di masa liburan.

“Jelas, harus ada pembatasan. Saat lebaran kemarin, untuk menempuh lantai atas ke lantai bawah lurus tanpa belokan diperlukan waktu 18 menit. Normalnya hanya 2-3 menit,” tutur Mas Hatta terkait membludaknya jumlah pengunjung saat puncak masa liburan.

Dari data Balai Konservasi, jumlah kunjungan saat lebaran 2009 mencapai 48.818 orang. Bisa dibayangkan betapa sesaknya di atas candi ini. Bisa jadi hitungan dari ahli teknik mengatakan bahwa candi mampu menopang beban orang sebanyak itu. Tapi yang menjadi pertanyaan besar dalam kurun berapa lama candi mampu menopangnya? Tetap harus ada pembatasan. Tetap harus mengenal kata cukup dan stop untuk eksploitasi.

***

Kami pun pulang ke rumah inap di Dusun Maitan, Desa Borobudur, seusai lelah yang menggembirakan di Candi Borobudur. Sungguh nyaman tinggal di dusun ini. Rumahnya rata-rata masih dilengkapi dengan halaman yang luas. Pepohonan rindang. Pohon rambutan pun menambah daya tarik saat sedang musimnya seperti sekarang ini. Serta jalan tanah yang sempit, tak bisa dilewati mobil.
Jalan memasuki Dusun Maitan berlatar sawah, pepohonan, dan Bukit Menoreh.
Dusun ini masih terbilang murni. Walau begitu, rumah inap atau homestay telah hadir di sini sejak 2009. Namun, tempat ini tak sepopuler desa-desa wisata pada umumnya. Meski tak jarang pemandu dari agen wisata membawa tamu asing mereka berkunjung. Sudah tersedia pula titik-titik kunjungan untuk melihat aktivitas warga.
Rumah tempat kami menginap (kiri) Suasana asri pedesaan di Dusun Maitan (kanan)
Kudapan lokal "selamat datang" dari Mbok Nurni, pemilik rumah tempat kami menginap. Ada carang gesing, wajik, tahu goreng, krupuk, serta teh manis hangat.
Namun kondisi dusun ini menggugah saya dan kawan saya untuk berbincang kecil tentang kegiatan pariwisata di sini. Kami selalu melihat bahwa pariwisata bermata pisau ganda. Jika tak tepat mengelolanya maka bisa mematikan si empunya sendiri. Dalam hal ini masyarakat lokal tentunya.

Kami sendiri tak sepakat dengan istilah desa wisata. Kami lebih mendukung wisata desa. Pariwisata hanyalah nilai tambah dari kehidupan keseharian masyarakat desa. Istilahnya pekerjaan sampingan. Jadi, warga lokal tak perlu menghamba pada turis-turis yang datang. Mengutip istilah yang digunakan oleh warga Desa Sumber di Lereng Merapi, “Kami anak gunung, punya harga diri.”

Jika satu saat nanti penduduk lokal siap dengan efek pariwisata dari Candi Borobudur, semoga mereka sudah menyiapkan amunisi untuk melindungi dusunnya. Salah satunya bisa dimulai dengan melakukan “screening” awal terhadap pengunjung yang akan masuk ke dalam dusun. Pengunjung yang datang diharapkan menyepakati aturan soal menghormati adat istiadat setempat. Semisal saja mengenai pakaian dan penggunaan peralatan modern serta dampak lingkungan yang mungkin dihasilkan dari kegiatan mereka. Menarik juga untuk mengadopsi apa yang sudah dipraktikkan oleh Jaringan Ekowisata Desa Bali yang melakukan pembatasan jumlah kunjungan ke desa per hari .

Belajar dari kawan-kawan di Jirowes (baca: zero waste), maka pada kunjungan kali ini (dan seterusnya) kami mencoba untuk bertanggungjawab akan sampah sendiri. Sebisa mungkin sejak berangkat kami mengurangi sampah anorganik yang akan kami hasilkan. Kami pun berkomitmen untuk membawa sampah anorganik yang dihasilkan ke kota asal. Karena Desa Borobudur belum dilengkapi dengan tempat pengolahan sampah. Beberapa warga masih membuang sampah di tempat yang tak seharusnya. Apabila kami meninggalkan sampah maka sudah pasti kami akan menambah beban lingkungan di desa.
Tumpukan sampah di pagar luar sisi utara Candi Borobudur.




Sampah yang kami bawa pulang berupa kumpulan tisu, plastik makanan kecil, serta pembalut di dalam kresek biodegradable.
Salah satu cara untuk menyiapkan amunisi menghadapi gempuran pariwisata ialah dengan mengenali potensi lingkungan setempat. Potensi bisa jadi hal negatif, juga positif. Sementara lingkungan tak mutlak berasosiasi dengan alam. Ada budaya, sosial, dan ekonomi yang juga masuk ke dalam isu lingkungan.

Sebenarnya pengenalan lingkungan itu sudah dilakukan oleh beberapa warga Dusun Maitan. Pada 2009 mereka membuat pemetaan desa yang menghasilkan sebuah peta bernama Peta Hijau Desa Borobudur. Peta tersebut pada akhirnya digunakan oleh warga untuk menentukan arah pembangunan desa mereka. Mengutip Mas Hatta, “Ini ibaratnya masterplan ala warga.”

Menurut saya pengenalan potensi lingkungan ini harus menjadi keterampilan wajib yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Karena saya berkeyakinan bahwa pemimpin yang baik ialah pemimpin yang mengenali masyarakat dan lingkungan yang dipimpinnya.

Lingkungan di sini bukan melulu soal hutan, laut, sumber daya fosil, limbah, penghematan listrik atau energi. Melainkan juga soal manusia dan budaya yang dibangunnya. Kesemuanya saling terkait erat. Oleh karena itu, kita butuh pemimpin yang membiasakan diri mengenal kata cukup untuk segala apapun. Tidak eksploitatif.

Narsis dengan latar Merapi - Merbabu.
Berbagai buah lokal yang disantap selama perjalanan. Buah kecapi, durian, jeruk Jember dan rujak  [searah jarum jam]




Mengudap rujak, kecapi dan es kelapa muda saat menggowes kembali menuju Yogyakarta.
Sumber bacaan:
Isni Wahyuningsih. 2010. Physical Carrying Capacity (Daya Dukung Fisik) Candi Borobudur.Dalam Jurnal 2010 Balai Konservasi Peninggalan Borobudur.
WWF-Indonesia. 2011. Pando Gauleco: Makananmu, Kepedulianmu!

Comments

Andika Hermawan said…
mantab mbak tulisannya :D
KWA Wardani said…
Terima kasih Andika :)
Semoga menikmati dan bikin pengen sepedaan ke sana :D

Popular Posts