Desember -yang semoga- Ceria




Malam bersama hujan di Jogja. Hanya Didi Kempot yang setia menemani tanpa harus menciptakan percakapan basa-basi. 

Selamat datang Desember 2020. Statistik positif covid-19 hari ini 5.092 dan Indonesia sudah kehilangan 17.081 jiwa karenanya. Angka-angka itu akan selalu saya cek tiap hari. Hanya cek saja tanpa tahu harus ngapain selain menghindari kerumunan dan tidak bepergian jika tidak diperlukan. Oh ya, saya tidak mau menambahkan "dengan protokol kesehatan" karena itu klise sekali.

Hari ini sudah ada dua orang yang menghubungi, menanyakan sewa sepeda. Hari kemarin atau kemarinnya lagi? Tak terhitung sudah berapa banyak orang yang mencari sepeda untuk 'liburan'. Kadang saya pikir sulit juga berada dalam kondisi pandemi dengan bisnis yang mandeg. Tapi, jika saya buka dan terima permintaan sewa sepeda yang tidak hanya satuan melainkan reramean, kok ya ada yang mengusik jiwa saya. Rasanya ada beban moral. Bagaimana kalau sepeda yang dipinjam justru turut menyebarkan covid-19? Mengingat pola peminjam sepeda saat pandemi ini sedikit berbeda dengan sebelumnya. 

Sepeda sedang naik daun sejak pandemi. Berada di toko sepeda yang biasanya bikin bahagia, kali ini justru bikin saya sesak. Terkaget-kaget justru karena di toko sepeda saya tidak melihat ekonomi melemah, alih-alih geliatnya membara. Orang-orang memesan spare part mahal yang bikin spare part murah tidak tersedia karena dianggap bakal kurang diminati. Orang dengan santainya membawa pulang sepeda harga belasan juta. Teman-teman di Jakarta bahkan cerita kalau para pembeli sepeda harus inden terlebih dahulu karena besarnya permintaan.

Para pesepeda yang lahir di masa pandemi ini sebagian punya kelakuan yang sedikit berbeda dengan para pendahulunya, sesama pengguna sepeda. Mereka 'unik'. 

Mereka memenuhi jalan tanpa lihat ada pengguna jalan yang lain. Tadi pagi sempat sedikit ramai di Twitter tentang cerita kelakuan oknum pesepeda masa pandemi ini. Misal, ada seorang petugas keamanan toko yang menabrak pesepeda -karena kelakukan si pesepeda- lalu diminta ganti rugi 130 yuta. Iya, sepeda yang ditabrak harganya 250 yuta. 

Belum lagi sistem konvoi yang bahkan dalam gerakan pun tidak saya sukai karena merampas hak pengguna jalan yang lain. Bagaimanapun perebutan jalan umum untuk kepentingan satu pihak tidak pernah benar di mata saya. Oh, awal-awal pandemi sebuah kafe kedatangan para 'bromptoners' yang membawa sepeda mereka masuk ke kafe. Mungkin tak percaya dengan sistem keamanan kafe sehingga tambeng bawa barang kesayangan tanpa hiraukan kenyamanan pengunjung yang lain.

Saya hanya geleng-geleng saja melihat fenomena bersepeda saat ini. Beberapa di antaranya saya jumpai sendiri. Beberapa lagi saya dapatkan dari kabar di Twitter. Semuanya saat ini sudah tidak lagi menggugah emosi saya. Rasanya hanya datar saja. Mungkin karena saya pun sedang di ambang keraguan apakah harus berdamai dengan kondisi atau tetap bertahan karena risiko masih cukup tinggi. Apalagi 2021 rasanya pesimis angka covid-19 di bawah 5.000/harinya.

Ah, hujan sudah mulai reda. Saatnya kembali ke tumpukan pekerjaan. Sekali lagi, selamat datang Desember. Semoga saya bisa menyelip mencari celah di antara kerumitan yang kau sajikan di depan mata. Terima kasih Pakde Didi Kempot!

Comments

Popular Posts